Langsung ke konten utama

Terjemah kitab mutammimah bab tentang hal

 


_________________________________________

Note:⚠️

Bila antum menemukan kesalahan dalam penulisan maka sangat diharapkan untuk mengomentari nya, Syukran kasiran

___________________________________________


بَابُ الْحَالِ
Bab Tentang Hal

الْحَالُ هُوَ الْاِسْمُ الْمُنْصُوْبُ الْمُفَسِّرُ لِمَا انْبَهَمَ مِنَ الْهَيْئَاتِ إِمَّا مِنَ الْفَاعِلِ، نَحْوُ جَاءَ زَيْدُ رَاكِبًا، وَقَوْلِهِ تَعَالَى: {فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا} سورة القصص. 
Hal adalah isim yang dibaca nasab yang menjelaskan tingkah/keadaan yang masih samar, adakalanya menjelaskan tingkahnya fa'il. 
Contoh: جَاءَ زَيْدُ رَاكِبًا )Zaid telah datang dengan berkendaraan).

أَوْمِنَ الْمَفْعُوْلِ، نَحْوُ: رَكِبْتُ الْفَرَسَ مُسَرَّجًا وَقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلًا} (۷۹) سورة النساء.
Atau menjelaskan tingkah/keadaannya maf'ul. 
Contoh:  رَكِبْتُ الْفَرَسَ مُسَرَّجًا (Aku telah menunggang kuda dengan berpelana).
وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلًا (Aku mengutusmu pada manusia menjadi Rasul).

 وَمِنْهُمَا نَحْو: لَقِيْتُ عَبْدَ اللهِ رَاكِبَيْنِ.
Atau menjelaskan tingkah/keadaan keduanya (fa'il dan maf'ul). 
Contoh: لَقِيْتُ عَبْدَ اللَّهِ رَاكِبَيْنِ )Aku bertemu Abdullah dengan sama-sama mengendarai).

Keterangan: 
★ Dalam contoh: جَاءَ زَيْدُ رَاكبا Lafadz راكبًا menjadi hal dari sahib hal lafadz زَيْدُ yang menjadi fa'il. 
★ Dalam contoh: رَكِبْتُ الْفَرْسَ مُسَرَّجًا Lafad مترجًا menjadi hal dari sabib hal berupa lafadz الْفَرْسَ yang menjadi maf'ul bih. 
★ Dalam contoh: لَقِيْتُ عَبْدَ اللَّهِ رَاكِبَيْنِ Lafad: راكببَيْنِ menjadi hal dari sahib hal berupa zamir yang menjadi fa'il dan lafadz عَبْدَ اللهِ yang menjadi maf'ul bih.

وَلَا يَكُوْنُ الْحَالُ إِلَّا نَكِرَةً فَإِنْ وَقَعَ بِلَفْظِ الْمَعْرِفَةِ فَمُؤَوَّلُ بِنَكِرَةٍ، نَحْو: جَاءَ زَيْدٌ وَحْدَهُ أَيْ مُنْفَرِدًا.
Tidak ada hal kecuali berupa nakirah, dan apabila ada hal berupa dari isim ma'rifat, maka harus dita'wili dengan isim nakirah. 
Contoh: جَاءَ زَيْدُ وَحْدَهُ أَيْ مُنْفَردًا )Zaid telah datang dengan sendiri). Lafadz وَحْدَهُ adalah isim ma'rifat yang menjadi hal, maka harus dita'wili dengan isim nakirah berupa lafadz . مُنْفَردًا

 وَالْغَالِبُ كَوْنُهُ مُشْتَقًا، وَقَدْ يَقَعُ مُؤَوَّلًا بِمُشْتَقٍ، نَحْو: بَدَتْ الْجَارِيَّةُ قَمَرًا أَيْ: مُضِيئَةٌ، وَبِعْتُهُ يَدًا بِيَدٍ أَيْ مُتَقَابِضَيْنِ؛ وَادْخُلُوا رَجُلًا رَجُلًا، أَيْ مُتَرَتِّبَيْنِ.
Pada umumnya hal terbentuk dari isim mustaq, dan apabila ada hal terbentuk dari isim jamid, maka harus dita'wili dengan isim mustaq. 
Contoh: بَدَتْ الْجَارِيَّةُ قَمَرًا أَيْ مُضِيْئَةٌ )Budak perempuan nampak seperti rembulan. Lafadz قَمَرًا adalah isim jamid yang menjadi hal, maka harus dita'wili dengan isim musytaq berupa lafadz مضيئة 
وَبِعْتُهُ يَدًا بِيَدٍ أَيْ مُتَقَابِضَيْنِ )Aku menjual barang dengan serah terima). Lafadz يَدًا بِيَدِ adalah isim jamid yang menjadi hal, maka harus dita'wili dengan isim musytaq berupa lafadz مُتَقَابِضَيْن 
 وَادْخُلُوا رَجُلًا رَجُلًا، أَيْ مُتَرَتِّبَيْنِ (Masuklah kalian satu persatu). Lafadz رَجُلًا رَجُلًا adalah isim jamid yang menjadi hal, maka harus dita'wili dengan isim musytaq berupa lafadz مُتَرَتِّبَيْنِ

 وَلَا يَكُوْنُ إِلَّا بَعْدَ تَمَامِ الْكَلَامِ أَيْ: بَعْدَ جُمْلَةٍ تَامَّةٍ بِمَعْنَى أَنَّهُ لَيْسَ أَحَدَ جُزْأَي الْجُمْلَةِ. وَلَيْسَ الْمُرَادُ بِتَمَامِ الْكَلَامِ أَنْ يَكُوْنَ الْكَلَامُ مُسْتَغْنِيًّا عَنْهُ بِدَلِيْلِ قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا} (۳۷) سورة الإسراء. 
Tidak ada hal kecuali jatuh setelah sampurnya kalam/jumlah, dalam arti hal tidak termasuk salah satu juzuk-nya jumlah. Bukanlah yang dimaksud dengan jatuhnya hal setelah tamamul(sempurna) kalam, itu hal tidak dibutuhkan dalam kalam (faidahnya kalam) dengan dalil ayat Qur'an:  وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا (Janganlah kamu berjalan di atas bumi dengan sombong).


وَلَا يَكُوْنُ صَاحِبُ الْحَالِ إِلَّا مَعْرِفَةً كَمَا تَقَدَّمَ فِي الْأَمْثِلَةِ. أَوْ نَكِرَةٌ بِمُسَوّعَ، نَحْوُ فِي الدَّارِ جَالِسًا رَجُلٌ، وَقَوْلُهُ تَعَالَى: {فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءٌ} (١٠) سورة فصلت، وَقَوْلُهُ تَعَالَى: {وَمَا أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ إِلَّا لَهَا مُنْذِرُونَ} (۲۰۸) سورة الشعراء {وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِّنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقًا (۸۹) سورة البقرة، بِالنَّصْبِ.
Sahib hal harus berupa isim ma'rifat, seperti contoh-contoh yang sudah disebutkan. Atau berupa isim nakirah dengan adanya musawwegh (perkara-perkara yang memperbolehkan sahib hal berupa isim ma'rifat). 
Contoh: فِي الدَّارِ جَالِسًا رَجُلٌ )Didalam rumah ada seorang laki-laki yang sedang duduk). Dan contoh- contoh yang lain.

Keterangan: 
★ Di antara musawwegh ialah: 

1. Hal mendahului sahibul hal. 
Contoh: فِي الدَّارِ جَالِسًا رَجُلٌ )Di dalam rumah terdapat lelaki yang sedang berdiri(. 

2. Sahibul hal berupa lafadz yang ditakhsis dengan izafah. 
Contoh: فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءٌ (Dalam empat hari yang sama). 

3. Sahibul hal didahului nafi. 
Contoh: وَمَا أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ إِلَّا لَهَا مُنْذِرُوْنَ (Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeri pun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan).

4. Sahibul hal ditakhsis dengan sifat. 
Contoh: وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِّنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقًا (Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur'an dari Allah yang membenarkan).

وَتَقَعُ الْحَالُ ظَرْفًا، نَحْرُ: رَأَيْتُ الْهِلَالَ بَيْنَ السَّحَابِ وَجَارًا وَمَجْرُوْرًا، نَحْو: {فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ} (۷۹) سورة القصص.
Hal ada yang berupa zaraf. 
Contoh: رَأَيْتُ الْهِلَالَ بَيْنَ السَّحَابِ (Aku melihat hilal di antara mendung). Dan ada yang berupa jar majrur. 
Contoh: فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ (Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya).

 وَيَتَعَلَّقَانِ بِمُسْتَقِرٍ أَوِ اسْتَقَرَّ مَحْذُوْفَيْنِ وُجُوبًا
Zaraf dan jar majrur yang menjadi hal itu mempunyai muta'allak yang wajib dibuang berupa lafadz اسْتَقَرَّ مُسْتَقِرٌ

 وَيَقَعُ جُمْلَةً خَبَرِيَّةٌ مُرْتَبِطَةٌ بِالْوَاوِ وَالضَّمِيرُ، نَحْو: {خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوْفُ} (٢٤٣) سورة البقرة. 
Hal ada yang berupa jumlah khabariyyah, yang antara shahibul hal dan hal dihubungkan dengan wawu dan zamir. 
Contoh: خَرَجُواْ مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوْفُ (Mereka keluar dari kampung halamannya, sedang mereka beribu ribu jumlahnya).

أَوْ بِالضَّمِيرِ فَقَدْ، نَحْو: {اهْبِطُواْ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ (٣٦) سورة البقرة. 
Atau hanya dihubungkan dengan zamir (tanpa wawu). 
Contoh: اهبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ (Turunlah kamu semua! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain).

أَوْ بِالْوَاءِ، نَحْو: {قَالُوا لَئِنْ أَكَلَهُ الذِّئْبُ وَنَحْنُ عُصْبَةٌ} (١٤) سورة يوسف.
Atau hanya dihubungkan dengan wawu (tanpa zamir). 
Contoh:  قَالُوا لَئِنْ أَكَلَهُ الذِّئْبُ وَنَحْنُ عُصْبَةٌ  (Mereka berkata: "Jika ia benar-benar dimakan serigala, sedang kami golongan (yang kuat)"


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terjemah kitab matan taqrib pembahasan tentang hukum-hukum shalat

كِتَابُ الصَّلَاةِ  Pembahasan shalat  Shalat-shalat yang diwajibkan  الصَّلَاةُ الْمَفْرُوْضَةُ خَمْسٌ: Shalat yang diwajibkan itu ada 5.yaitu:  (۱) الظَّهْرُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهَا زَوَالُ الشَّمْسِ، وَآخِرُهُ إِذَا صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ بَعْدَ ظِلَّ الزَّوَال.  1. Zhuhur,  waktu salat zhuhur mulai setelah lewat rembang matahari (setelah matahari tergelincir ke arah barat). Dan akhir waktunya adalah ketika bayang- bayang sebuah benda telah sama panjangnya dengan benda itu, sesudah matahari lewat rembang. (۲) وَالْعَصْرُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهَا الزَّيَادَةُ عَلَى ظِلَّ الْمِثْلِ، وَآخِرُهُ في الاخْتِيَارِ إِلَى ظِلَّ الْمِثْلَيْنِ وَفِي الْجَوَازِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ  2. Ashar,  waktu salat ashar dimulai setelah bayang-bayang sebuah benda yang sama dengan benda aslinya tadi bertambah panjang. Dan akhir waktunya menurut waktu Ikhtiar (waktu yang menjadi pilihan untuk menger- jakan salat sebelum masuk pada bagian waktu berikutnya) adalah...

Terjemah kitab mutammimah tentang bab kalam

               بَابُ الكلام          Bab Kalam     الكلامُ هُوَ  اللفظ المُرَكَّبُ الْمُفِيدُ بالوضع kalam adalah satu lafazd yang murakkab yang memberi faedah dengan waza'(sengaja)/bahasa arab Keterangan : • Lafadz adalah suara yang mengandung sebagian huruf Hijaiyah (huruf huruf Arab yang diawali dari alif sampai ya'). Contoh: زَيْدُ dan قَائِمُ  • Murokkab adalah lafadz yang tersusun dari dua kalimat atau lebih dengan susunan isnadi (penisbatan atau penyandaran hukum yang menjadikan kesempurnaan faidah). Contoh: زَيْدُ قَائِمٌ )Zaid orang yang berdiri( أنا قائم )Saya orang yang berdiri • Mufid adalah ungkapan berfaidah yang dapat memberikan pemahaman sehingga tidak membutuhkan pertanyaan dari orang yang mendengarkan. Contoh: زَيْدُ قَائِمٌ )Zaid orang yang berdiri( • Wad'i menurut sebagian ulama' nahwu adalah berbahasa Arab, dan menurut ulama' yang lain wad'i adalah disengaja oleh orang yang men...

Terjemah kitab matammimah tentang isem alam

    _________________________________________ Note:⚠️ Bila antum menemukan kesalahan dalam penulisan maka sangat diharapkan untuk mengomentari nya, Syukran kasiran ____________________________________________   فَصْلٌ فِي بَيَانِ الإِسْمِ الْعَلَمِ Fasal Tentang Isim Alam الْعَلَمُ نَوْعَانِ: شَخْصِيٌّ وَهُوَ مَا وُضِعَ لِشَيْءٍ بِعَيْنِهِ لَا يَتَنَاوَلُ غَيْرُهُ كَزَيْدٍ وَفَاطِمَةَ وَمَكَّةَ وَشَدْقَمٍ وَقَرَنٍ. Isim alam ada dua. Yaitu: 1. Alam syakhs, ialah alam yang diletakkan (dicetak) untuk sesuatu yang sudah nyata (individu) dan tidak mencakup yang lainnya.  Contoh: زَيْدٍ - فَاطِمَةَ - مَكَّةَ - شَدْقَم - قَرَنٍ  وَجِنْسِيٌّ وَهُوَ مَا وُضِعَ لِجِنْسِ مِنَ الْأَجْنَاسِ كَأَسَامَةَ لِلْأَشَدِ وَثُعَالَةَ لِلتَّعْلَبِ وَذُؤَالَةَ لِلذِّئْبِ وَأُمُّ عِرْيَطٍ لِلْعَقْرَبِ. 2. Alam jinis, ialah alam yang diletakkan (dicetak) untuk beberapa jinis.  Contoh: أسامة untuk nama harimau, تُعَالَةَ untuk nama musang, ذُؤَالَةَ untuk srigala, dan أُمُّ عِرْبَط...