بَابُ الْعَطْفِ
Bab Tentang Ataf
الْعَطْفُ نَوْعَانِ: عَطْفُ بَيَانٍ وَعَطْفُ نَسَقٍ.
Ataf ada dua, yaitu:
1. Ataf bayan.
2. Ataf nasaq.
فَعَطْفُ الْبَيَانِ هُوَ التَّابِعُ الْمُشْبِهُ لِلنَّعْتِ في تَوْضِيْحِ مَتْبُوْعِهِ إِنْ كَانَ مَعْرِفَةً، نَحْمُ: أَقْسَمَ بِاللَّهِ أَبُو حَفْصٍ عُمر.
Ataf bayan ialah tabi' (isim yang i'rab-nya ikut pada matbu'nya/isim yang diikuti) yang menyerupai na'at dalam segi memperjelas matbu'nya, apabila matbu'nya berupa isim ma'rifat.
Contoh: أَقْسَمَ بِاللَّهِ أَبُوْ حَفْصٍ عُمَرُ )Bersumpah dengan nama Allah Abu Khafs yaitu Umar).
وَتَخْصِيْصِهُ إِنْ كَانَ نَكِرَةً، نَحْوُ هَذَا خَاتَمُ حَدِيدُ بِالرَّفْعِ.
_Dan menyerupai na'at dalam segi_ mengkhususkan matbu'nya, apabila matbu'nya berupa isim nakirah.
Contoh: هَذَا خَاتَمٌ حَدِيدٌ )Ini cincin yaitu besi(. Dengan membaca rafa' lafadz حَدِيدٌ
وَيُفَارِقُ النَّعْتَ فِي كَوْنِهِ جَامِدًا غَيْرَ مُؤَوَّلٍ بِمُشْتَقٍ، وَالنَّعْتُ مُشْتَقٌ أَوْ مُؤَوَّلٌ بِمُشْتَقٍ.
Ataf bayan berbeda dengan na'at dalam segi ataf bayan berupa isim jamid, dan tidak dita'wili dengan isim musytaq, sedangkan na'at berupa musytaq atau berupa isim yang dita'wili dengan isim musytaq.
وَيُوَافِقُ مَتْبُوْعَهُ فِي أَرْبَعَةٍ مِنْ عَشْرَةٍ: فِي وَاحِدٍ مِنْ أَوْجُهِ الْإِعْرَابِ الثَّلَاثَةِ وَفِي وَاحِدٍ مِنَ التَّذْكِيرِ وَالتَّأْنِيْثِ، وَفِي وَاحِدٍ مِنَ التَّعْرِيفِ وَالتَّنْكِيرِ، وَفِي وَاحِدٍ مِنَ الْإِفْرَادِ وَالتَّثْنِيَةِ وَالْجَمْعِ.
Ataf bayan sama dengan matbu'nya dalam 4 perkara dari 10 perkara. Yaitu:
1. Salah satu dari 3 macam I'rab (rafa', nasab, dan jazam).
2. Salah satu dari mudzakkar dan mu'annats.
3. Salah satu dari ma'rifat dan nakirah.
4. Salah satu dari mufrad, tasniyyah, dan jama'.
وَيَصِحُ فِي عَطْفِ الْبَيَانِ أَنْ يُعْرَبَ بَدَلَ كُلَّ مِنْ كُلِّ فِي الْغَالِبِ.
Lafadz yang menjadi ataf bayan boleh juga dijadikan badal kul min kul.
Hukum ini adalah sebatas ghalib-nya (tidak semua lafadz yang menjadi ataf bayan bisa menjadi badal).
Keterangan:
★ Termasuk ataf bayan yang tidak bisa dijadikan badal ialah:
1. Ketika ataf bayan wajib disebutkan (tidak boleh dibuang).
Contoh: هِئْدُ قَامَ زَيْدُ أَخُوْهَا )Zaid telah berdiri yaitu saudaranya Hindun). Dalam contoh ini lafadz أَخُوْهَا menjadi atof bayan dari lafadz زيْدٌ
2.Ketika ataf bayan tidak bisa menempati tempatnya matbu'nya.
Contoh: یا زيد الحرث )Wahai Zaid yaitu Alharist). Dalam contoh ini lafadz الحرث menjadi badal dari lafad: زيد . Dan lafad: الحرث tidak bisa dijadikan badal, karena lafadz الحرث tidak bisa menempati tempatnya lafad: زَيْدُ Jadi tidak boleh mengucapkan يا الحرث. Karena dalam kalam Arab tidak boleh mengumpulkan huruf nida dan آل
أَمَّا عَطْفُ النَّسَقِ فَهُوَ التَّابِعُ الَّذِي يَتَوَسَّطُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَتْبُوْعِهِ حَرْفٌ مِنْ هَذِهِ الْحُرُوفِ الْعَشْرَةِ وَهِيَ الْوَاوُ، وَالْفَاءُ، وَثُمَّ، وَحَتَّى، وَأَمْ، وَأَوْ، وَإِمَّا وَبَلْ، وَلَا، وَلَكِنْ.
Ataf nasaq ialah lafadz yang mengikuti (tabi') pada matbu'nya dengan perantara huruf ataf yang ada 10. Yaitu:
1. واو
2. فَاءُ
3. ثُمَّ
4. حَتَّى
5. أم
6. أو
7. إما
8. بل
9.لا
10.لكن
فَالسَّبْعَةُ الْأُولَى: تَقْتَضِي التَّشْرِيْكَ فِي الْإِعْرَابِ وَالْمَعْنَى.
Tujuh huruf ataf yang pertama (mulai nomer 1-7) berdampak tasyrik (kesamaan antara ataf dan matbu'nya) dalam segi I'rab dan makna.
وَالثَّلَاثَةُ الْبَاقِيَةُ تَقْتَضِي التَّشْرِيْكَ فِي الْإِعْرَابِ.
Adapun tiga huruf ataf yang terakhir (mulai nomer 8-10) berdampak tasyrik hanya dalam segi I'rab-nya (tidak pada maknanya).
فَإِنْ عَطَفْتَ بِهَا عَلَى مَرْفُوْعِ رَفَعْتَ,
Jika kamu meng-ataf-kan suatu lafadz dengan huruf ataf pada lafadz (ma'tuf) yang dibaca rafa', maka rafa'-kanlah lafadz (ataf) tersebut.
أَوْ عَلَى مَنْصُوبٍ نَصَبْتَ،
Atau meng-ataf-kan pada lafadz (ma'tuf) yang dibaca nasab, maka nasabkanlah_lafadz (ataf) tersebut.
أَوْ عَلَى مَخْفُوضٍ خَفَضْتَ،
Atau meng-ataf-kan pada lafadz (ma'tuf) yang dibaca khafad/jar, maka khafad/jarkanlah _lafadz (ataf) tersebut.
أَوْ عَلَى مَجْزُوْمٍ جَزَمْتَ.
Atau meng-ataf-kan pada lafadz (ma'tuf) yang dibaca jazam, maka jazamkanlah_lafadz (ataf) tersebut.
نَحْو: { وَصَدَقَ اللهُ وَرَسُولُهُ} (٢٢) سورة الأحزاب {وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ} (۱۳) سورة النساء؛ {آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُوْلِهِ} (١٣٦) سورة النساء؛ {وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوْا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُمْ} (٣٦) سورة محمد.
Contoh: وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُوْلُهُ )Contoh lafadz yang di-atafkan pada lafadz yang dibaca rafa').
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ )Contoh lafadz yang di-atafkan pada lafadz yang dibaca nasab).
آمَنُواْ آمِنُواْ بِاللَّهِ وَرَسُوْلِهِ )Contoh lafadz yang di-atafkan pada lafadz yang dibaca jar).
وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوْا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْأَلُكُمْ أَمْوَالَكُمْ )Contoh lafadz yang di-atafkan pada lafadz yang dibaca jazam).
وَالْوَاوُ لِمُطْلَقِ الْجَمْعِ، نَحْو: جَاءَ زَيْدٌ وَعَمْرُو قَبْلَهُ، أَوْ مَعَهُ.
Huruf ataf و berfaidah mutlakul jam'i (berkumpulnya ma'tuf dan ma'tuf alaih dalam hukum dengan mutlak, dalam arti hukum itu dilakukan secara bersamaan, atau ma'tuf dulu, atau ma'tuf alaih dulu).
Contoh: (جَاءَ زَيْدُ وَعَمْرُو )Telah datang Zaid dan Umar. Kedatangannya Umar bisa sebelum atau bersamaan dengan Zaid.
وَالْفَاءُ : لِلتَّرْتِيبِ وَالتَّعْقِيبِ، نَحْو: {ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ) (۲۱) سورة عبس.
Huruf ataf فَاءُ berfaidah tartib dan ta'kib (terjadinya ma'tuf setelah ma'tuf alaih tanpa dipisah oleh waktu yang lama, atau dipisah tetapi tidak dipisah menurut urf).
Contoh: ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ )Kemudian dia membunuhnya lalu menguburnya).
وَثُمَّ لِلتَّرْتِيبِ وَالتَّرَاخِي: {ثُمَّ إِذَا شَاء أَنشَرَهُ) (٢٢) سورة عبس.
Huruf ataf ثُمَّ berfaidah tartib dan tarakhi (terjadinya ma'tuf setelah ma'tuf alaih dengan dipisah oleh waktu yang lama menurut urf).
Contoh: ثُمَّ إِذَا شَاء أَنشَرَهُ )Kemudian jika dia menghendaki dia membangkitkannya kembali).
وَالْعَطْفُ بِحَتَّى قَلِيلٌ.
Ataf menggunakan huruf حَتَّى itu sedikit.
وَيُشْتَرَطُ فِيْهِ أَنْ يَكُونَ الْمَعْطُوْفُ بِهَا إِسْمًا ظَاهِرًا وَأَنْ يَكُوْنَ بَعْضًا مِنَ الْمَعْطُوْفِ عَلَيْهِ وَغَايَةٌ لَهُ، نَحْو: أَكَلْتُ السَّمَكَةَ حَتَّى رَأْسَهَا؛ بالنصب.
Ataf menggunakan حَتَّى itu disyaratkan ma'tuf-nya berupa isim dzahir,
dan sebagian dari ma'tuf alaih,
dan ma'tuf alaih menjadi ghayah (batas akhir) bagi ma'tuf-nya.
Contoh: أَكَلْتُ السَّمَكَةَ حَتَّى رَأْسَهَا (Aku memakan ikan sehingga kepalanya).
وَيَجُوزُ الْجُرُّ عَلَى أَنَّ حَتَّى جَارَّةُ كَمَا تَقَدَّمَ فِي الْمَخْفُوْضَاتِ.
Lafadz setelah حَتَّى boleh juga dijarkan, karena huruf حَتَّى berstatus huruf jar, seperti yang sudah diterangkan dalam bab isim-isim yang dibaca khafadz.
وَيَجُوزُ الرَّفْعُ عَلَى أَنَّ حَتَّى إِبْتِدَائِيَّةُ وَرَأْسُهَا مُبْتَدَأَ وَالْخَبَرُ مَحْذُوْفٌ، أَيْ: حَتَّى رَأْسُهَا مَأْكُولُ.
Dan lafadz حَتَّى boleh juga dirafa'-kan, karena huruf حَتَّى berstatus ibtida'iyyah, dan lafadz رَأْسَهَا menjadi mubtada' yang Khabar-nya nya terbuang.
Takdirannya: حَتَّى رَأْسُهَا مَأْكُوْلُ )Sehingga kepalanya itu dimakan).
وَأَمْ: لِطَلَبِ التَّعْيِييْنِ إِنْ كَانَتْ بَعْدَ هَمْزَةٍ دَاخِلَةٍ عَلَى أَحَدِ الْمُسْتَوِيَيْنِ.
Huruf ataf أَمْ berfaidah thalabut ta'yin (menuntut kejelasan) ketika jatuh setelah hamzah istifham yang masuk pada salah satu dua perkara yang sama.
وَأَوْ: لِلتَّخْيِيرِ أَوِ الْإِبَاحَةِ بَعْدَ الطَّلَبِ نحو: تَزَوَّجُ هِندًا أَوْ أُخْتَهَا، وَنَحْو: جَالِسِ الْعُلَمَاءَ أَوِ الرُّهَادَ.
Huruf ataf أو berfaidah takhyir (harus memilih salah satu dari ma'tuf dan ma'tuf alaih)
atau ibahah (boleh memilih salah satu dari ma'tuf dan ma'tuf alaih atau keduanya), ketika jatuh setelah kalam thalabiyah (kalam yang bermakna menuntut sesuatu).
Contoh أَوْ berfaidah takhyir: تَزَوَّجْ هِنْدًا أَوْ أُخْتَهَا )Nikahilah Hindun atau saudaranya).
Contoh أو berfaidah ibahah:
جَالِسِ الْعُلَمَاءَ أَوِ الزُّهَادَ (Duduklah bersama ulama' atau orang-orang yang zuhud).
وَلِلشَّكِ أَوِ الْإِبْهَامِ أَوِ التَّفْصِيلِ بَعْدَ الخبَرِ نَحْو: {قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ} (۱۹) سورة الكهف {وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَى هُدًى} (٢٤) سورة سبأ: {وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى} (١٣٥) سورة البقرة
Dan juga huruf ataf أو berfaidah syak (ragu- ragu)
, atau ibham (menyamarkan),
atau tafsil, yang semua itu jatuh setelah kalam khabar.
Contoh أو yang berfaidah syak: قَالُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ )Mereka berkata "kami berada disini sehari atau setengah hari).
Contoh أو yang berfaidah ibham: Sesungguhnya kita) وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَى هُدًى
atau mereka pasti dalam hidayah/kebenaran).
وَإِمَّا بِكَسْرِ الْهَمْزَةِ مِثْلُ أَوْ بَعْدَ الطلب أَوِ الْخُبَرِ نَحْو: تَجَوَّرُ إِمَّا هِندًا وَإِمَّا أُخْتَهَا.
Huruf ataf إِمَّا berfaidah seperti faidahnya أَوْ yaitu
- takhyir
- dan ibahah ketika jatuh setelah kalam thalabiyyah,
- dan berfaidah syak,
- ibham,
- dan tafsil ketika jatuh setelah kalam khabariyyah.
Contoh إِمَّا berfaidah takhyir yang jatuh setelah thalabiyyah: تَجَوَّزْ إِمَّا هِنْدًا وَإِمَّا أُخْتَهَا )Menikahlah adakalanya dengan Hindun atau saudaranya).
وَبَقِيَّةُ الْأَمْئِلَةِ وَاضِحَةُ.
Untuk contoh-contoh faidahnya إِمَّا yang lain (ibahah, syak, ibham, dan tafsil) sudah jelas.
وَقِيلَ: إِنَّ الْعَطْفَ إِنَّمَا هُوَ بِالْوَاوِ.
Dikatakan: Sesungguhnya ataf itu hanya menggunakan huruf واو .
وَأَنَّ إِمَّا حَرْفُ تَفْصِيلٍ كَالْأُولَى فَإِنَّهَا حَرْفُ تَفْصِيل.
Dan sesungguhnya إمَّا itu huruf tafsil seperti halnya إِمَّا yang pertama_dalam contoh: yang إِمَّا maka, تَجَوَّزْ إِمَّا هِنْدًا وَإِمَّا أُخْتَهَا pertama ini juga dinamakan huruf tafsil.
وَبَلْ لِلْإِصْرَابِ غَالِبًا، نَحْو: قَامَ زَيْدٌ بَلْ عَمْرُو
Huruf ataf بَلْ pada umumnya berfaidah izrab (memindah hukum yang terdapat pada lafadz sebelum بل ke lafadz yang jatuh setelah بَلْ baik jatuh setelah nafi atau tidak).
Contoh: قَامَ زَيْدُ بَلْ عَمْرُو )Zaid telah datang, tetapi Umar yang datang "bukan Zaid").
وَلَكِنَّ: لِلْإِسْتِدْرَاكِ نَحْو مَا مَرَرْتُ بِرَجُلٍ صَالِحٍ لَكِنْ طَالِحٍ.
Huruf ataf لَكِنَّ berfaidah istidrak (menyambung perkataan, dengan syarat jatuh setelah nafi atau nahi).
Contoh: مَا مَرَرْتُ بِرَجُلٍ صَالِحٍ لَكِنْ طَالِحٍ )Saya berjalan tidak bertemu dengan lelaki yang soleh, tetapi bertemu dengan lelaki yang toleh "tidak soleh").
وَلَا : لِنَفْيِ الْحُكْمِ عَمَّا بَعْدَهَا، نَحْوُ: جَاءَ زَيْدُ لَا عَمْرُو.
Huruf ataf berfaidah nafyil hukmi (menafikan hukum yang terdapat pada ma'tuf, dan menetapkannya pada ma'tuf alaih).
Contoh: جَاءَ زَيْدُ لَا عَمْرُو )Zaid telah datang, bukannya Umar).
Komentar
Posting Komentar