Note:⚠️
Bila antum menemukan kesalahan dalam penulisan maka sangat diharapkan untuk mengomentari nya, Syukran kasiran
___________________________________________
بَابُ الْمَفْعُوْلِ مَعَهُ
Bab Tentang Maf'ul Ma'ah
الْمَفْعُولُ مَعَهُ: هُوَ الْإِسْمُ الْمَنْصُوْبُ الَّذِي يُذْكَرُ بَعْدَ وَاوِ بِمَعْنَى مَعَ، لِبَيَانِ مَنْ فُعِلَ مَعَهُ الْفِعْلُ مَسْبُوْقًا بِجُمْلَةٍ فِيهَا فِعْلٌ أَوِ اسْمٌ فِيْهِ مَعْنَى الْفِعْلِ وَحُرُوفِهِ، نَحْوُ جَاءَ الْأَمِيرُ وَالْجَيْشَ، وَاسْتَوَى الْمَاءُ وَالْخَشَبَةَ، وَأَنَا سَائِرُ والنيل.
Maf'ul ma'ah ialah isim yang dibaca nasab yang jatuh setelah wawu ma'iyyah )bermakna مع( yang didatangkan untuk menjelaskan orang/sesuatu yang suatu pekerjaan terjadi bersamaan dengan orang/sesuatu tersebut.
Contoh: جَاءَ الْأَمِيرُ وَالْجُيْشَ )Raja sedang datang bersama tentaranya)
وَاسْتَوَى الْمَاءُ وَالْخَشَبَةَ )Air dan kayu sedang rata
( أَنَا سَائِرٌ وَالنَّيْلَ )Aku berjalan bersamaan "sepanjang" sungai nil)
Keterangan:
★ Yang dikehendaki معيَّة dalam bab ini bukan musyarakah (menyamakan pekerjaan fa'il dengan maf'ul ma'ah) didalam hukum, melainkan hanya mushahabah (bersama tanpa dihukumi dengan fi'il-nya fa'il).
♦ Dalam susunan tarkib maf'ul ma'ah lafadz setelah wawu ma'iyyah tidak selamanya wajib dinasab-kan menjadi maf'ul ma'ah, namun adakalanya yang boleh diataf-kan pada lafadz sebelum wawu, dan adakalanya yang boleh keduanya (dinasab-kan dan diataf-kan),dan ada juga yang lebih baik dinasab kan dari pada diataf-kan atau sebaliknya.♦
وَقَدْ يَجِبُ النَّصْبُ عَلَى الْمَفْعُوْلِيَّةِ نَحْوُ الْمِثَالَيْنِ الْأَخِيْرَيْنِ، وَنَحْوُ: لَا تَنْهَ عَنِ الْقَبِيحِ وَإِثْيَانَهُ، وَمَاتَ زَيْدُ وَطُلُوْعَ الشَّمْسِ، وَقَوْلِهِ تَعَالَى: {فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ} (۷۱) سورة يونس.
Dan terkadang wajib menasab-kan menjadi maf'ul ma'ah, seperti dua contoh yang terakhir,
yaitu: أَنَا سَائِرُ وَالبَيْلَ - وَاسْتَوَى الْمَاءُ وَالْخَشَبَةَ dan lafadz: لَا تَنْهَ عَنِ الْقَبِيحِ وَإِثْيَانَهُ )Janganlah kamu melarang kejelekan bersamaan dengan melakukannya )
مَاتَ زَيْدُ وَطُلُوْعَ الشَّمْسِ (Zaid telah mati bersamaan dengan terbitnya matahari)
وَقَدْ يَتَرَبَّحُ عَلَى الْعَطْفِ، نَحْوُ : قُمْتُ وَزَيْدًا، وَقَدْ يَتَرَبَّحُ الْعَطْفُ عَلَيْهِ، نَحْو: الْمِثَالِ الْأَوَّلِ. وَنَحْوُ: جَاءَ زَيْدُ وَعَمْرُو.
Dan terkadang lebih baik dinasab-kan dari pada diataf-kan.
Contoh: قُمْتُ وَزَيْدًا )Aku berdiri bersamaan dengan Zaid). Dan terkadang lebih baik diataf-kan dari pada dinasab-kan seperti contoh yang pertama, yaitu lafadz جَاءَ الأَمِيرُ وَالْجَيْشُ )Raja dan tentaranya telah datang). dan lafadz: جَاءَ زَيْدٌ وَعَمْرُو )Zaid dan Umar telah datang).
فَالْعَطْفُ فِيْهِمَا وَفِيمَا أَشْبَهَهُمَا أَرْجَحُ، لِأَنَّهُ الْأَصْلُ.
Meng-ataf-kan lafadz setelah wawu dalam dua contoh di atas dan semisalnya itu lebih utama, karena itu merupakan hukun asal (asli).
فَضْلُ: وَأَمَّا الْمُشَبَّهُ بِالْمَفْعُوْلِ بِهِ فَنَحْو زَيْدُ حَسَنُ وَجْهَهُ بِنَصْبِ الْوَجْهِ.
Fasal: Adapun perkara yang disamakan dengan maf'ul bih itu seperti dalam
contoh: زَيْدُ حَسَنٌ وَجْهَهُ )Zaid adalah orang yang tampan wajahnya).

Komentar
Posting Komentar