Hukum 'Aqly
فَدَخَلَ فِي قَوْلِنَا بِالطَّلَبِ أَرْبَعَةُ: الْإِيجَابُ، وَهُوَ طَلَبُ الْفِعْلِ طَلَبًا جَازِمًا كَالْإِيْمَانِ بِاللَّهِ وَبِرُسُلِهِ وَكَقَوَاعِدِ الْإِسْلَامِ الْخَمْسِ، وَنَحْوِهِمَا.
Maka ada empat hal yang masuk dalam ucapanku: tuntutan" "Berupa Kewajiban, yaitu tuntutan terhadap suatu perbuatan dengan tuntutan yang tegas, seperti mengimani Allah dan para rasul; kelima rukun Islam;dan semisalnya.
وَالنَّدْبُ، وَهُوَ طَلَبُ الْفِعْلِ طَلَبًا غَيْرَ جَازِمٍ كَصَلَاةِ الْفَجْرِ وَنَحْوِهَا.
Kesunnahan, yaitu tuntutan terhadap suatu perbuatan dengan tuntutan yang tidak tegas, seperti shalat sunnah fajar dan semisalnya.
وَالتَّحْرِيمُ، وَهُوَ طَلَبُ الْكَفَّ عَنِ الْفِعْلِ طَلَبًا جَازِمًا كَالشَّرْكِ بِاللَّهِ وَالزِّنَا وَنَحْوِهِمَا.
Keharaman, yaitu tuntutan mencegah dari suatu perbuatan dengan tuntutan yang tegas, seperti menyekutukan Allah, zina, dan semisalnya.
وَالْكَرَاهَةُ، وَهِيَ طَلَبُ الْكَفَّ عَنِ الْفِعْلِ طَلَبًا غَيْرَ جَازِمٍ كَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ مَثَلًا فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ.
Kemakruhan, yaitu tuntutan mencegah dari suatu perbuatan dengan tuntutan yang tidak tegas, seperti membaca al-Qur'an, upamanya saat ruku'dan sujud.
وَأَمَّا الْإِبَاحَةُ فَهِيَ التَّخْبِيرُ بَيْنَ الْفِعْلِ وَالتَّرْكِ كَالنِّكَاحِ وَالْبَيْعِ وَنَحْوِهِمَا.
Kemakruhan, yaitu tuntutan mencegah dari suatu perbuatan dengan tuntutan yang tidak tegas, seperti membaca al-Qur'an, upamanya saat ruku'dan sujud. Adapun ibahah adalah memberi pilihan antara melakukan suatu perbuatan dan meninggalkannya, seperti nikah, jual beli, dan semisalnya.
وَأَمَّا الْوَضْعُ لَهُمَا، أَيْ لِلطَّلَبِ وَالْإِبَاحَةِ، فَعِبَارَةٌ عَنْ نَصْبٍ الشَّرْعِ سَبَبًا أَوْ شَرْحًا أَوْ مَانِعًا لِمَا ذُكِرَ مِنَ الْأَحْكَامِ الْخَمْسَةِ الدَّاخِلَةِ في كَلَامِنَا تَحْتَ الطَّلَبِ وَالْإِبَاحَةِ.
Adapun wadha' untuk tuntutan dan ibahah adalah ungkapan dari penetapan syariat pada suatu sebab, syarat, atau mani' (pencegah) bagi kelima hukum yang telah masuk dalam ucapanku yang tercakup dalam tuntutan dan ibahah.
فَالسَّبَبُ مَا يَلْزَمُ مِنْ عَدَمِهِ الْعَدَمُ وَمِنْ وُجُودِهِ الْوُجُودُ بِالنَّظْرِ إِلَى ذَاتِهِ كَالزَّوَالِ مَثَلًا، فَإِنَّ الشَّارِعَ وَضَعَهُ سَبَبًا لِوُجُوْبِ الظَّهْرِ، فَيَلْزَمُ مِنْ وُجُودِهِ وُجُوْبُ الظُّهْرِ وَمِنْ عَدَمِهِ عَدَمُ وُجُوْبِهَا.
Sebab adalah sesuatu yang ketiadaannya menetapkan ke- tiadaan, dan wujudnya menetap- kan wujud, dengan memandang zatnya, seperti condongnya matahari ke arah barat, misalnya, karena Allah menjadikannya sebagai sebab wajibnya shalat zhuhur. Jadi, sebab wujudnya, ada kewajiban shalat zhuhur; dan sebab tidak wujudnya, tidak ada kewajiban shalat zhuhur.
وَإِنَّمَا قُلْنَا بِالنَّظْرِ إِلَى ذَاتِهِ" لِأَنَّهُ قَدْ لَا يَلْزَمُ مِنْ وُجُودِ السَّبَبِ وُجُودُ الْمُسَبَّبِ لِعُرُوضِ مَانِعٍ أَوْ تَخَلَّفِ شَرْطٍ، وَذَلِكَ لَا يَقْدَحُ فِي تَسْمِيَتِهِ سَبَبًا، لِأَنَّهُ لَوْ نَظَرَ إِلَى ذَاتِهِ مَعَ قَطْعِ النَّظَرِ عَنْ مُوْجِبِ التَّخَلُّفِ لَكَانَ وُجُودُهُ مُقْتَضِيًّا لِوُجُودِ الْمُسَبَّبِ.
Aku katakan: "Dengan meman- dang pada zatnya", karena terkadang wujudnya sebab tidak memastikan wujudnya musabab, karena adanya pencegah atau belum terpenuhinya syarat. Hal ini tidak menjadi cacat untuk penamaannya sebagai sebab, karena bila dipandang zatnya tanpa memandang faktor yang membuat tidak terpenuhinya syarat, niscaya wujudnya sebab memastikan wujudnya musabab.
وَأَمَّا الشَّرْطُ فَهُوَ مَا يَلْزَمُ مِنْ عَدَمِهِ الْعَدَمُ وَلَا يَلْزَمُ مِنْ وُجُوْدِهِ وُجُودٌ وَلَا عَدَمُ لِذَاتِهِ، وَمِثَالُهُ الْحَوْلُ بِالنَّسْبَةِ إِلَى وُجُوْبِ الزَّكَاةِ فِي الْعَيْنِ وَالْمَاشِيَةِ، فَإِنَّهُ يَلْزَمُ مِنْ عَدَمِ تَمَامِ الحَوْلِ عَدَمُ وُجُوْبِ الزَّكَاةِ فِيمَا ذُكِرَ، وَلَا يَلْزَمُ مِنْ وُجُوْدِ تَمَامِ الْحَوْلِ وُجُوْبُ الزَّكَاةِ وَلَا عَدَمِ وُجُوْبِهَا، لِتَوَقُفِ وُجُوْبِ الزَّكَاةِ عَلَى مِلْكِ النَّصَابِ مِلْكًا كَامِلًا.
Adapun syarat adalah sesuatu yang ketiadaannya menetapkan ketiadaan, namun wujudnya tidak menetapkan wujud maupun ketiadaan, dengan memandang zatnya, seperti haul berkaitan dengan kewajiban zakat pada suatu barang atau hewan ternak. Dalam hal ini tidak wujudnya kesempurnaan haul menetapkan tidak adanya kewajiban zakat pada komoditas tersebut; namun wujudnya kesempurnaan haul tidak menetapkan wajib dan tidak wajibnya zakat, sebab tergan- tungnya kewajiban zakat pada kepemilikan secara sempurna harta sebanyak satu nishab.
وَأَمَّا الْمَانِعُ فَهُوَ مَا يَلْزَمُ مِنْ وُجُودِهِ الْعَدَمُ وَلَا يَلْزَمُ مِنْ عَدَمِهِ وُجُودٌ وَلَا عَدَمُ لِذَاتِهِ، مِثَالُهُ الْخَيْضُ، فَإِنَّهُ يَلْزَمُ مِنْ وُجُودِهِ عَدَمُ وُجُوْبِ الصَّلَاةِ مَثَلًا، وَلَا يَلْزَمُ مِنْ عَدَمِهِ وُجُوبُ الصَّلَاةِ وَلَا عَدَمُ وُجُوْبِهَا، لِتَوَقُفِ وُجُوْبِهَا عَلَى أَسْبَابٍ أَخَرَ قَدْ تَحْصُلُ عِنْدَ عَدَمِ الْحَيْضِ وَقَدْ لَا تَحْصُلُ.
Adapun mani'adalah sesuatu yang wujudnya menetapkan ketiadaan, namun ketiadaannya tidak menetapkan wujud maupun ketiadaan dengan memandang zatnya, seperti haid. Sungguh wujudnya haid menetapkan tidak adanya kewajiban shalat, umpa- manya, dan ketiadaannya tidak menetapkan wajib dan tidak wajibnya shalat, sebab tergan- tungnya kewajiban shalat pada sebab-sebab lain yang saat tidak adanya haid terkadang terpenuhi dan terkadang tidak terpenuhi.
فَخَرَجَ لَكَ مِنْ هَذَا أَنَّ السَّبَبَ يُؤْثِرُ بِطَرَفَيْهِ، أَعْنِي طَرَفَي وُجُودِهِ وَعَدَمِهِ وَالشَّرْطُ يُؤْثِرُ بِطَرَفِ عَدَمِهِ فَقَدْ فِي الْعَدَمِ فَقَدْ، وَالْمَانِعُ يُؤْثِرُ بِطَرَفِ وُجُودِهِ فَقَطْ فِي الْعَدَمِ فَقَطْ وَتَحَلُّ اسْتِيْفَاءِ مَا يَتَعَلَّقُ بِمَبَاحِثِ الْحُكْمِ الشَّرْعِيَّ فِي الْأُصُولِ.
Dari sini dapat Anda ambil kesimpulan, bahwa (1) sebab berpengaruh pada dua arahnya, yaitu arah wujud dan tidaknya; (2) syarat hanya berpengaruh pada arah ketiadaannya pada ketiadaan saja; dan (3) mani' hanya berpengaruh pada arah wujudnya pada ketiadaan saja.adapun pembahasan mendalam yang berkaitan dengan pembahasan hukum syar'i adalah ilmu ushul fiqh.
وَأَمَّا الْحُكْمُ الْعَادِيُّ فَحَقِيقَتُهُ إِثْبَاتُ الرَّبْطِ بَيْنَ أَمْرٍ وَأَمْرٍ
وُجُوْدًا أَوْ عَدَمًا بِوَاسِطَةِ تَكَرُّرِ الْقِرَانِ بَيْنَهُمَا عَلَى الْحِسَ.
Sementara hakikat hukum adat adalah menetapkan hubungan antara satu hal dengan hal lain dari sisi wujud dan ketiadaannya dengan perantara terulang- ulangnya kebersamaan di antara keduanya secara nyata.
مِثَال ذَلِكَ الْحُكْمُ عَلَى النَّارِ بِأَنَّهَا مُحْرِقَةٌ، فَهَذَا حُكْمُ عَادِيٌّ، إِذْ مَعْنَاهُ أَنَّ الْإِحْرَاقَ يَقْتَرِنُ بِمَسٌ النَّارِ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَجْسَامِ لِمُشَاهَدَةِ تَكَرُّرِ ذَلِكَ عَلَى الْحِسَ.
Misalnya menghukumi bahwa api dapat membakar. Ini adalah hukum adat, sebab maknanya adalah pembakaran terjadi berbarengan dengan tersentuhnya api pada mayoritas benda, karena secara nyata hal itu terbukti terjadi berulang kali.
وَلَيْسَ مَعْنَى هَذَا الْحُكْمِ أَنَّ النَّارَ هِيَ الَّتِي أَثَرَتْ فِي إِحْرَاقِ مَا مَسَّتْهُ مَثَلًا أَوْ فِي تَسْخِيْنِهِ، إِذْ هَذَا الْمَعْنَى لَا دِلَالَةَ لِلْعَادَةِ عَلَيْهِ أَصْلًا، وَإِنَّمَا غَايَةُ مَا دَلَّتْ عَلَيْهِ الْعَادَةُ الْاِقْتِرَانُ فَقَطْ بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ.
Hukum ini tidak berarti, bahwa api yang berpengaruh (menciptakan) pada terbakarnya benda yang tersentuh olehnya upamanya, atau berpengaruh memanaskannya. Sebab makna demikian sama sekali tidak ditunjukkan oleh adat. Maksimal yang ditunjukkan adat hanyalah kebersamaan antara dua hal tersebut.
أَمَّا تَعْيِينُ فَاعِلِ ذَلِكَ فَلَيْسَ لِلْعَادَةِ فِيْهِ مَدْخَلُ، وَلَا مِنْهَا يُتَلَقَّى عِلْمُ ذلِكَ
Adapun penentu faktor yang membakar benda, maka adat sama sekali tidak terkait dengannya dan tidak bisa diketahui darinya.
وَقِسْ عَلَى هَذَا سَائِرَ الْأَحْكَامِ الْعَادِيَةِ، كَكَوْنِ الطَّعَامِ مَشْبَعًا وَالْمَاءِ مَرْوِيًّا وَالشَّمْسِ مُضِيئَةٌ وَالسِّكِّيْنِ قَاطِعَةً وَنَحْوِ ذَلِكَ مِمَّا لَا يَنْحَصِرُ
Samakanlah seluruh hukum adat pada kasus ini, seperti keberadaan makanan dapat mengenyangkan, air dapat menyegarkan, matahari dapat menyinari, pisau dapat memotong, dan contoh kasus lain yang tidak terbatas.
وَإِنَّمَا يُتَلَقَّى الْعِلْمُ بِفَاعِلِ هَذِهِ الْآثَارِ الْمُقَارَنَةِ لِهَذِهِ الْأَشْيَاءِ مِنْ دَلِيْلَي الْعَقْلِ وَالنَّقْلِ، وَقَدْ أَطْبَقَ الْعَقْلُ وَالشَّرْعُ عَلَى انْفِرَادِ الْمَوْلَى جَلَّ وَعَزَّ بِاخْتِرَاعِ جَمِيعِ الْكَائِنَاتِ عُمُوْمًا، لِأَنَّهُ لَا أَثَرَ لِكُلِّ مَا سِوَاهُ تَعَالَى فِي أَثَرِ مَا جُمْلَةً وَتَفْصِيلًا.
Pengetahuan tentang faktor yang memengaruhi dan yang ber- barengan dengan berbagai hal tersebut hanya dapat diketahui dari dalil 'aqli dan naqli. Sementara akal dan syariat telah sepakat atas mandirinya Allah Maha Penguasa-Jalla wa 'Azza- dalam menciptakan seluruh perkara yang wujud secara umum, sebab tidak ada atsar (kemampuan menciptakan) bagi apapun selain Allah Ta'ala dalam menciptakan perkara apapun, baik secara global maupun terperinci.
وَقَدْ غَلَطَ قَوْمٌ فِي تِلْكَ الْأَحْكَامِ الْعَادِيَّةِ، فَجَعَلُوْهَا عَقْلِيَّةً وَأَسْنَدُوا وُجُودَ كُلَّ أَثَرٍ مِنْهَا لِمَا جَرَّتِ الْعَادَةُ أَنَّهُ يُوْجُدُ مَعَهُ، إِمَّا بِطَبْعِهِ أَوْ بِقُوَّةٍ أَوْدَعَتْ فِيْهِ، فَأَصْبَحُوْا وَقَدْ بَاءُوْا بِهَوْسٍ ذَمِيمٍ، وَبِدْعَةٍ شَنِيْعَةٍ فِي أُصُولِ الدِّيْنِ وَشِرْكِ عَظِيمٍ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ.
Sungguh segolongan kaum telah salah memahami hukum-hukum adat, menganggapnya sebagai hukum 'aqli, dan menyandarkan wujud setiap atsar dalam permasa- lahan tersebut pada sebab yang biasanya wujud bersamaan dengannya, adakalanya menyan- darkan pada tabiatnya atau kekuatan yang diletakkan pada- nya, sehingga mereka-dalam keterbalikannya-meyakini akidah yang rusak dan tercela, bid'ah yang keji dalam ushul ad-din, dan syirik besar, la haula wa la quwwata illa billahil 'aliyyil 'azhim.
نَسْأَلُهُ سُبْحَانَهُ النَّجَاةَ إِلَى الْمَمَاتِ مِنْ مُضِلَّاتِ الْفِتَنِ وَالْمُرُورَ ظَاهِرًا وَبِاطِنًا عَلَى أَهْدَى سُنَنٍ بِجَاهِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم
Aku memohon keselamatan dari fitnah-fitnah yang menyesatkan dan memedomani petunjuk sunnah secara lahir dan batin, kepada Allah dengan wasilah derajat Sayyidina wa Maulana Muhammad shalallahu alaihi wasallam
وَأَمَّا الْحُكْمُ الْعَقْلِيُّ فَهُوَ عِبَارَةُ عَمَّا يُدْرِكُ الْعَقْلُ ثُبُوْتَهُ أَوْ نَفْيَهُ مِنْ غَيْرِ تَوَقُفِ عَلَى تَكَرُّرٍ وَلَا وَضْعِ وَاضِعِ، وَهَذَا الْحُكْمُ الثَّالِثُ هُوَ الَّذِي تَعَرَّضْنَا لَهُ فِي أَصْلِ الْعَقِيدَةِ.
Sementara itu, hukum akal adalah istilah dari hukum yang penetapan dan penafiannya ditemukan oleh akal tanpa tergantung pada pengulangan-pengulangan dan pada putusan syariat. Hukum ke tiga inilah yang aku jelaskan dalam pembahasan Kitab Asal, Kitab al-'Akidah.
فَقَوْلُنَا الْحُكْمُ الْعَقْلِي احْتِرَازُ مِنَ الشَّرْعِيَّ وَالْعَادِيِّ، وَقَدْ عَرَفْتَ مَعْنَاهُمَا.
Maka ucapanku: "Hukum 'aqli" dalam al-'Akidah merupakan pengecualian dari hukum syariat dan hukum adat, yang telah Anda ketahui maknanya.
وَقَوْلُهُ يَنْحَصِرُ فِي ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ" يَعْنِي أَنَّ كُلَّ مَا يُتَصَوَّرُ فِي الْعَقْلِ، أَي يُدْرِكُهُ مِنْ ذَوَاتٍ وَصِفَاتٍ، وَجُوْدِيَّةٍ أَوْ سَلْبِيَّةٍ، أَوْ أَحْوَالٍ قَدِيمَةٍ أَوْ حَادِثَةٍ، لَا يَخْلُوْ عَنْ هَذِهِ الثَّلَاثَةِ الْأَقْسَامِ، أَيْ لَا بُدَّ لَهُ أَنْ يَتَّصِفَ بِوَاحِدٍ مِنْهَا إِمَّا بِالْوُجُوْبِ أَوِ الْجَوَازِ أَوِ الْإِسْتِحَالَةِ.
Ungkapan Kitab Asal: "Hukum 'aqli terbatas dalam tiga bagian", maksudnya sungguh setiap hal yang tertashawurkan dalam akal, maksudnya berbagai zat dan sifat, yang bersifat wujud atau yang bersifat salbiyah, atau haliyah yang bersifat qadim atau hadits, yang dipahami akal, tidak terlepas dari ketiga bagian hukum 'aqli ini. Maksudnya pasti bersifat dengan salah satunya, adakalanya bersifat wajib, jawaz, atau mustahil.
وَقَوْلُهُ فَالْوَاجِبُ مَا لَا يُتَصَوَّرُ فِي الْعَقْلِ عَدَمُهُ يَعْنِي أَنَّ الْوَاجِبَ الْعَقْلِي هُوَ الْأَمْرُ الَّذِي لَا يُدْرَكُ فِي الْعَقْلِ عَدَمُهُ.
Ungkapan Kitab Asal: "Wajib adalah hukum yang ketiadaannya tidak tertashawurkan di dalam akal", maksudnya sungguh wajib 'aqli adalah hal yang ketiadaannya tidak ditemukan menurut akal.
يَعْنِي إِمَّا ابْتِدَاءً بِلَا احْتِيَاجِ إِلَى سَبْقِ نَظَرٍ، وَيُسَمَّى الضَّرُوْرِيَّ كَالتَّحَيُّزِ مَثَلًا لِلْجِرْمِ، فَإِنَّ الْعَقْلَ ابْتِدَاءً لَا يُدْرِكُ انْفِكَاكَ الْجِرْمِ عَنِ التَّحَيُّنِ، أَيْ أُخْذِهِ قَدْرَ ذَاتِهِ مِنَ الْفَرَاغِ.
Maksudnya adakalanya langsung dipahami dari awal tanpa butuh pemikiran dahulu, yang disebut sebagai dharuri, seperti bertempat bagi benda fisik umpamanya, sebab akal dari awal tidak memahami terlepasnya benda fisik dari mengambil tempat, maksud- nya mengambil tempat seukuran zatnya dari ruang yang kosong,
وَإِمَّا بَعْدَ سَبْقِ النَّظَرِ وَيُسَمَّى نَظَرِيًّا كَالْقِدَمِ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ، فَإِنَّ الْعَقْلَ إِنَّمَا يُدْرِكُ وُجُوْبَهُ لَهُ تَعَالَى إِذَا فَكَرَ الْعَقْلُ وَعَرَفَ مَا يَتَرَتَبُ عَلَى ثُبُوْتِ الْحُدُوْثِ لَهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الدَّوْرِ أَوِ التَّسَلْسُلِ الْوَاضِحِيَّ الْإِسْتِحَالَةِ.
dan adakalanya yang dipahami setelah adanya pemikiran, yang disebut nazhari, seperti sifat qidam bagi Allah-Jalla wa 'Azza-, sebab akal menemukan wajibnya sifat qidam bagi Allah Ta'ala ketika akal melakukan proses berfikir dan mengetahui daur (perputaran) dan tasalsul (ketersambungan) yang jelas-jelas mustahil, yang muncul dari tetapnya sifat huduts bagi-Nya.
فَقَدْ عَرَفْتَ بِهَذَا انْقِسَامِ الْوَاجِبِ إِلَى ضَرُوْرِيٌّ وَنَظَرِيَّ.
Dengan penjelasan ini Anda mengetahui terbaginya hukum wajib pada wajib yang bersifat dharuri dan nazhari.
وَقَوْلُهُ وَالْمُسْتَحِيلُ مَا لَا يُتَصَوَّرُ فِي الْعَقْلِ وُجُودُهُ يَعْنِي أَيْضًا إِمَّا ابْتِدَاءً أَوْ بَعْدَ سَبْقِ النَّظَرِ.
Ungkapan Kitab Asal: "Mustahil adalah hukum yang wujudnya tidak tertashawurkan di dalam akal", maksudnya adakalanya mulai dari awal atau setelah adanya pemikiran, sebagaiman dalam hukum wajib.
فَمِثَالُ الْأَوَّلِ عُرْوُ الْجِرْمِ عَنِ الْحَرَكَةِ وَالسُّكُوْنِ، أَيْ تَجَرُّدُهُ عَنْهُمَا مَعًا بِحَيْثُ لَا يُوجَدُ فِيْهِ وَاحِدٌ مِنْهُمَا، فَإِنَّ الْعَقْلَ ابْتِدَاءً لَا يَتَصَوَّرُ ثُبُوْتَ هَذَا الْمَعْنَى لِلْجِرْمِ.
Contoh bagian pertama adalah sepinya benda fisik dari gerakan dan diam, maksudnya terlepasnya dari keduanya secara bersamaan sekira salah satunya tidak ditemukan padanya, sebab sungguh akal dari awal tidak mentashawurkan tetapnya hal ini bagi benda fisik.
وَمِثَالُ الثَّانِي كَوْنُ الذَّاتِ الْعَلِيَّةِ جِرْمًا، تَعَالَى اللَّهُ عَنْ ذَلِكَ عُلُوًّا كَبِيرًا، فَإِنَّ اسْتِحَالَةَ هَذَا الْمَعْنَى عَلَيْهِ جَلَّ وَعَزَّ إِنَّمَا يُدْرِكُهُ الْعَقْلُ بَعْدَ أَنْ يَسْبِقَ لَهُ النَّظَرُ فِي مَا يَتَرَتَّبُ عَلَى ذَلِكَ مِنَ الْمُسْتَحِيْلِ، وَهُوَ الْجَمْعُ بَيْنَ النَّقِيْضَيْنِ.
Contoh bagian kedua adalah keberadaan Zat Allah Yang Maha Tinggi sebagai benda fisik-Maha Luhur Allah darinya dengan seluhur-luhurnya-, sebab sungguh kemustahilan hal ini bagi Allah- Jalla wa 'Azza-hanya dapat ditemukan oleh akal setelah ia melakukan pemikiran tentang kemustahilan yang muncul dari hal tersebut, yaitu berkumpulnya naqidhain (pada Allah).
وَذَلِكَ أَنَّهُ قَدْ وَجَبَ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ لِئَلَّا يَلْزَمُ الدَّوْرُ أَوِ التَّسَلْسُلِ، لَوْ كَانَ تَعَالَى جِرْمًا لَوَجَبَ لَهُ الْحُدُوْثُ، تَعَالَى اللَّهُ عَنْ ذَلِكَ عُلُوًّا كَبِيرًا، لِمَا تَقَرَّرَ مِنْ وُجُوْبِ الْحُدُوْثِ لِكُلِّ جِرْمٍ، فَيَلْزَمُ إِذَنَّ أَنْ لَوْ كَانَ تَعَالَى جِرْمًا أَنْ يَكُوْنَ وَاجِبَ الْقِدَمِ لِأُلُوْهِيَّتِهِ، وَوَاجِبُ الْحُدُوْثِ لِحِرْمِيَّتِهِ، تَعَالَى عَنْ ذَلِكَ عُلُوًّا كَبِيرًا، وَذَلِكَ جَمْعُ بَيْنَ النَّقِيْضَيْنِ لَا مَحَالَةَ.
Penjelasannya adalah, sungguh telah wajib bagi Allah-jalla 'azza-sifat qidam dan baqa agar tidak terjadi daur atau tasalsul, andaikan Allah Ta'ala adalah benda fisik maka wajib baginya sifat huduts-Maha Luhur Allah darinya dengan seluhur-luhurnya-, karena wajibnya sifat huduts bagi setiap benda fisik. Bila demikian maka bisa dipastikan, andaikan Allah Ta'ala adalah benda fisik maka ia (tetap) wajib bersifat qidam karena sifat ketuhan- nannya, dan wajib bersifat huduts karena sifat benda fisiknya-Maha Luhur Allah darinya dengan seluhur-luhurnya. Hal ini secara pasti merupakan berkumpulnya dua hal yang bertentangan pada satu objek.
فَقَدْ عَرَفْتَ أَيْضًا بِهَذَا انْقِسَامَ الْمُسْتَحِيْلِ إِلَى ضَرُوْرِيَّ وَنَظَرِيٌّ.
Dengan penjelasan ini Anda juga mengetahui terbaginya hukum mustahil pada mustahil yang bersifat dharuri dan nazhari.
وَقَوْلُهُ وَالْجَائِزُ مَا يَصِحُ فِي الْعَقْلِ وُجُودُهُ وَعَدَمُهُ يَعْنِي أَيْضًا إِمَّا ضَرُورَةٌ وَإِمَّا بَعْدَ سَبْقِ النَّظَرِ.
Ungkapan kitab Asal: "Jaiz adalah hukum yang wujud dan tidaknya sah (tertashawurkan) di dalam akal", maksudnya adakalanya yang bersifat dharuri maupun nazhari.
فَمِثَالُ الْأَوَّلِ اتَّصَافُ الْجِرْمِ بِخُصُوصِ الْحَرَكَةِ مَثَلًا، فَإِنَّ الْعَقْلَ يُدْرِكُ ابْتِدَاءً صِحَّةَ وُجُوْدِهَا لِلْجِرْمِ وَصِحَّةَ عَدَمِهَا لَهُ.
Contoh yang pertama adalah benda fisik bersifat bergerak saja umpamanya, sebab sungguh akal dari awal memahami keabsahan wujud dan tidak wujud nya gerakan baginya.
وَمِثَالُ الثَّانِي تَعْذِيبُ الْمُطِيعِ الَّذِي لَمْ يَعْصِ اللَّهَ قَطُّ طَرْفَةَ عَيْنٍ، فَإِنَّ الْعَقْلَ إِنَّمَا يَحْكُمُ بِجَوَازِ هَذَا التَّعْذِيبِ فِي حَقَّهِ عَقْلًا بَعْدَ أَنْ يَنْظُرَ فِي بُرْهَانِ الْوَحْدَانِيَّةِ لَهُ تَعَالَى وَيُعْرَفُ أَنَّ الْأَفْعَالَ كُلَّهَا مَخْلُوقَةٌ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ لَا أَثَرُ لِكُلِّ مَا سِوَاهُ تَعَالَى فِي أَثَرِ مَا الْبَتَةَ.
Contoh yang kedua adalah penyiksaan (di akhirat) bagi orang yang taat yang sama sekali tidak pernah bermaksiat kepada Allah sekejap pun, sebab akal hanya menghukumi bolehnya penyiksaan itu baginya secara akal setelah melakukan pemikiran tentang dalil wahdaniyah Allah Ta'ala, dan akal mengerti bahwa semua perbuatan merupakan ciptaan- Nya, sama sekali tidak ada pengaruh (menciptakan) apapun bagi selain Allah Ta'ala terhadap sesuatu yang tercipta.
فَيَلْزَمُ مِنْ ذَلِكَ اسْتِوَاءُ الْإِيْمَانِ وَالْكُفْرِ وَالطَّاعَةِ وَالْمَعْصِيَةِ عَقْلًا، وَأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ يَصْلُحُ أَنْ يُجْعَلَ أَمَارَةً عَلَى مَا جُعِلَ الْآخَرُ أَمَارَةً عَلَيْهِ، وَالظُّلْمُ عَلَى مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ مُسْتَحِيلُ كَيْفَمَا فَعَلَ أَوْ حَكَمَ، إِذِ الظُّلْمُ هُوَ التَّصَرُّفُ عَلَى خِلَافِ الْأَمْرِ، وَمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ هُوَ الْآمِرُ النَّاهِي الْمُبِيحُ، فَلَا أَمْرَ وَلَا نَهْيَ يَتَوَجَّهُ إِلَيْهِ مِمَّنْ سِوَاهُ، إِذْ كُلُّ مَا سِوَاهُ مِلْكُ لَهُ جَلَّ وَعَلَا، لَا يُبْدِئُ شَيْئًا وَلَا يُعِيدُهُ، وَلَا أَثَرَ لَهُ فِي شَيْءٍ الْبَتَةَ، وَلَا شَرِيكَ لَهُ تَعَالَى فِي مُلْكِهِ، وَلَا يُسْتَلُ عَمَّا يَفْعَلُ.
Dari hal itu terpastikan kesamaan antara iman dan kekufuran, ketaatan dan maksiat, menurut akal; dan terpastikan bahwa masing-masing dari keempat hal ini pantas dijadikan sebagai tanda sesuatu (siksaan atau pahala) yang selainnya dijadikan sebagai tandanya. Kezaliman bagi Allah- Jalla wa 'Azza-adalah mustahil, bagaimanapun Allah bertindak dan menghukumi, sebab zalim adalah tasaruf (tindakan) yang tidak bertentangan dengan perintah, sementara Allah-Jalla wa 'Azza-adalah Zat Yang Maha Memerintah, Maha Mencegah, dan Maha Membolehkan. Karena itu, tidak ada perintah dan larangan dari selain Allah yang diarahkan kepada-Nya, sebab semua hal selain Allah adalah milik-Nya, yang sama sekali tidak dapat menciptakan sesuatu tanpa permulaan, tidak dapat mengem- balikan sesuatu setelah ketiadaan- nya, dan tidak mempunyai pengaruh (menciptakan) apapun kepada sesuatu. Tidak ada sekutu bagi Allah dalam mengatur makhluknya, dan Dia tidak diminta pertanggungjawaban atas perbuatan-Nya.
فَصَحَ إِذَنْ أَنْ يُدْرِكَ الْعَقْلُ لِكُلِّ مِنَ الْمُؤْمِنِ وَالْكَافِرِ وَالْمُطِيعِ وَالْعَاصِي صِحَّةُ وُجُودِ الثَّوَابِ وَالْعِقَابِ أَوْ عَدَمِهِمَا، وَاخْتِصَاصُ كُلِّ وَاحِدٍ بِمَا اخْتَصَّ بِهِ مِنْ ذَلِكَ إِنَّمَا هُوَ بِمَحْضِ اخْتِيَارِ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ، لَا بِسَبَبٍ عَقْلِي اقْتَضَى ذَلِكَ، لَكِنْ إِدْرَاكُ الْعَقْلِ لِجَوَازِ هَذَا الْمَعْنَى مَوْقُوْفُ عَلَى تَحْقِيقِ النَّظَرِ الَّذِي قَدَمْنَاهُ.
Bila demikian, maka benar akal memahami keabsahan wujudnya pahala dan siksaan, atau ketiadaan keduanya bagi setiap mukmin dan kafir, orang yang taat dan yang maksiat. Kekhususan masing- masing dengan pahala atau siksaan yang dikhususkan baginya, hanyalah merupakan murni pilihan dari Allah-Jalla wa 'Azza-, bukan karena sebab 'aqli yang menuntutnya, namun pemahaman akal atas bolehnya hal ini tergantung pada penalaran yang benar atas dalil wahdaniyah Allah yang telah aku sebutkan tadi.
فَبَانَ لَكَ بِهَذَا أَنَّ الْجَائِزَ يَنْقَسِمُ أَيْضًا إِلَى ضَرُوْرِيٌّ وَنَظَرِيَّ كَمَا انْقَسَمَ الْقِسْمَانِ اللَّذَانِ قَبْلَهُ، وَاتَّضَحَ بِهَذَا أَنَّ الْأَقْسَامَ الثَّلَاثَةَ قَدْ تَفَرَّعَتْ إِلَى سِتَّةِ أَقْسَامٍ مِنْ ضَرْبٍ ثَلَاثَةٍ فِي اثْنَيْنِ، إِذْ كُلُّ قِسْمٍ مِنْهَا فِيْهِ قِسْمَانِ
Dengan penjelasan ini maka menjadi jelas bagi Anda, sungguh hukum ja'iz juga terbagi pada ja'iz dharuri dan ja'iz nazhari, sebagaimana pembagian hukum wajib dan mustahil sebelumnya. Dengan ini pula menjadi jelas, sungguh ketiga bagian hukum ini bercabang menjadi enam bagian,dari hasil mengalikan tiga pada dua, sebab dalam masing-masing ketiga hukum itu ada dua bagian.
وَإِنَّمَا قَيَّدْنَا الصِّحَّةَ بِالْعَقْلِ فِي حَقَّ الْجَائِزِ فَقُلْنَا فِيهِ مَا يَصِحُ فِي الْعَقْلِ لِيَدْخُلَ فِيْهِ نَحْوُ جَوَازِ الْعَذَابِ فِي حَقَّ الْمُطِيعِ، فَإِنَّ الْعَقْلَ هُوَ الْحَاكِمُ بِصِحَّةِ وُجُوْدِ الْعَذَابِ وَعَدَمِهِ فِي حَقَّهِ بِمَعْنَى أَنَّهُ لَوْ وَقَعَ كُلُّ مِنْهُمَا لَمْ يَلْزَمْ مِنْ وُقُوْعِهِ نَقْصُ فِي حَقَّهِ تَعَالَى وَلَا مُحَالُ الْبَتَةَ.
Aku batasi kata sah dengan kata menurut akal dalam definisi hukum ja'iz, sehingga aku katakan: "Yang sah (tertashawurkan) di dalam akal", agar mencakup semisal bolehnya siksa bagi orang yang taat, sebab hanya akal yang menghakimi keabsahan wujud dan tidak wujudnya siksa baginya. Artinya, andaikan masing-masing dari kedua hal itu terjadi maka tidak menetapkan kekurangan bagi Allah Ta'ala dan tidak mustahil sama sekali.
أَمَّا الشَّرْعُ فَقَدْ بَيَّنَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدِ اخْتَارَ بِمَحْضِ فَضْلِهِ لِلْمُؤْمِنِ الْمُطِيعِ أَحَدَ الْأَمْرَيْنِ الْجَائِزَيْنِ فِي حَقَّهِ تَعَالَى، وَهُوَ الثَّوَابُ وَالنَّعِيمُ الْمُقِيمُ كَمَا اخْتَارَ تَعَالَى بِعَدْلِهِ لِلْكَافِرِ الْجَائِرُ الْآخَرُ، وَهُوَ النَّارُ وَالْعَذَابُ الْأَلِيمُ.
Adapun syariat maka telah menjelaskan, bahwa dengan murni anugerah-Nya, Allah Ta'ala telah memilihkan salah satu dari dua hal yang ja'iz bagi-Nya-yaitu pahala dan kenikmatan abadi-untuk orang mukmin yang taat kepada- Nya, sebagaimana Allah Ta'ala dengan keadilan-Nya telah memilihkan hal ja'iz lain-yaitu neraka dan siksa yang pedih- untuk orang kafir.
وَاعْلَمْ أَنَّ الْحَرَكَةَ وَالسُّكُوْنَ لِلْجِرْمِ يَصِحُ أَنْ يُمَثْلَ بِهِمَا لأَقْسَامِ الْحُكْمِ الْعَقْلِيُّ الثَّلَاثَةِ، فَالْوَاجِبُ الْعَقْلِيُّ ثُبُوْتُ أَحَدِهِمَا لَا بِعَيْنِهِ لِلْجِرْمِ، وَالْمُسْتَحِيلُ نَفْيُهُمَا مَعًا - عَنِ الْجِرْمِ، وَالْجَائِزُ ثُبُوْتُ أَحَدِهِمَا بِالْخُصُوصِ لِلْجِرْمِ.
Ketahuilah, sungguh gerakan dan diam untuk benda fisik itu sah ditamsilkan pada ketiga bagian hukum akal. Wajib 'aqli, yaitu tetapnya salah satu dari keduanya bukan karena zatnya untuk benda fisik; mustahil 'aqli, yaitu penafian keduanya secara bersamaan dari benda fisik; dan ja'iz 'aqli, yaitu tetapnya salah satunya bagi benda fisik.
وَاعْلَمْ أَنَّ مَعْرِفَةَ هَذِهِ الْأَقْسَامِ الثَّلَاثَةِ وَتَكْرِيرُهَا تَأْنِيْسُ لِلْقَلْبِ بِأَمْثَلَتِهَا حَتَّى لَا يَحْتَاجُ الْفِكْرُ فِي اسْتِحْضَارِ مَعَانِيهَا إِلَى كُلْفَةٍ أَصْلًا مِمَّا هُوَ ضَرُوْرِيٌّ عَلَى كُلِّ عَاقِلٍ يُرِيدُ أَنْ يَفُوْزَ بِمَعْرِفَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَرُسُلِهِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، بَلْ قَدْ قَالَ إِمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَجَمَاعَةُ: "إِنَّ مَعْرِفَةَ هَذِهِ الثَّلَاثَةِ هِيَ نَفْسُ الْعَقْلِ، فَمَنْ لَمْ يَعْرِفْ مَعَانِيهَا فَلَيْسَ بِعَاقِلٍ"، وَاللهُ الْمُوَفِّقُ.
Ketahuilah, sungguh mengetahui ketiga bagian hukum 'aqli ini-dan mengulang-ulang berbagai contohnya merupakan penentram hati, sehingga untuk menghadir- kan maknanya pikiran sama sekali tidak membutuhkan usaha yang berat-termasuk kebutuhan primer bagi setiap orang berakal yang menghendaki kesuksesan menge- nal Allah Ta'ala dan para rasul- Nya. Bahkan Imam al-Haramain dan segolongan ulama mengata- kan: "Sungguh mengetahui ketiga hukum 'aqli ini merupakan akal sejati. Sebab itu, orang yang tidak mengetahi maknanya, maka bukanlah orang berakal."
Wallahul
muwaffiq.

Komentar
Posting Komentar