Langsung ke konten utama

Ilmu tauhid Terjemah kitab Ummul barahin imam As-Sanusi

blogger






Sifat-sifat Allah dan dalilnya 

__________________________________________

[ص] 
(وَيَجِبُ عَلَى كُلِّ مُكَلَّفٍ شَرْعًا أَنْ يَعْرِفَ مَا يَجِبُ فِي حَقِّ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ، وَمَا يَسْتَحِيل، وَمَا يَجُوز. وَكَذَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَعْرِفَ مِثْلَ ذَلِكَ فِي حَقِّ الرُّسُلِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ) 

Bagi setiap mukalaf secara syar'i wajib mengetahui sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah-Jalla wa 'Azza. Begitu pula wajib baginya mengetahui sifat-sifat tersebut bagi para Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam. 
_________________________________________
■ Syarh

 [ش ]
 يَعْنِي أَنَّهُ يَجِبُ شَرْعًا عَلَى كُلِّ مُكَلِّفٍ، وَهُوَ الْبَالِغُ الْعَاقِلُ أَنْ يَعْرِفَ مَا ذُكِرَ، لِأَنَّهُ بِمَعْرِفَةِ ذَلِكَ يَكُونُ مُؤْمِنًا مُحَقَّقًا لِإِيْمَانِهِ عَلَى بَصِيرَةٍ فِي دِينِهِ. 
Maksudnya sungguh secara syar'i wajib bagi setiap mukallaf-yaitu orang yang baligh dan berakal- mengetahui hal tersebut, sebab dengan mengetahuinya, ia akan menjadi mukmin yang memastikan keimanannya atas dasar pengetahuan agama.

وَإِنَّمَا قَالَ يَعْرِفُ وَلَمْ يَقُلْ يَجْزِمُ إِشَارَةً إِلَى أَنَّ الْمَطْلُوبَ فِي عَقَائِدِ الْإِيْمَانِ الْمَعْرِفَةُ، وَهِيَ الْجَزْمُ الْمُطَابِقُ عَنْ دَلِيلِ، وَلَا يَكْفِي فِيهَا التَّقْلِيدُ، وَهُوَ الْجَزْمُ الْمُطَابِقُ فِي عَقَائِدِ الْإِيْمَانِ بِلَا دليل.
Kitab Asal mengatakan: "Ya'rifu (mengetahui)", tidak mengatakan: "Yajzimu (mantap)", sebagai isyarat bahwa yang dituntut dalam akidah-akidah keimanan adalah makrifat, yaitu kemantapan yang sesuai dengan dalil. Dalam hal ini tidak taqlid, cukup yaitu kemantapan yang sesuai dengan kaidah-kaidah keimanan tanpa dalil.

 وَإِلَى وُجُوْبِ الْمَعْرِفَةِ وَعَدَمِ الْاكْتِفَاءِ بِالتَّقْلِيدِ ذَهَبَ جُمْهُورُ أَهْلِ الْعِلْمِ، كَالشَّيْخِ أَبِي الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيِّ وَالْقَاضِي أَبِي بَكْرٍ الْبَاقِلَانِي وَإِمَامِ الْحَرَمَيْنِ، وَحَكَاهُ ابْنُ الْقَصَّارِ عَنْ مَالِكٍ أَيْضًا. 
Mayoritas ulama, seperti Syaikh Abu al-Hasan al-Asy'ari, al-Qadhi Abu Bakr al-Baqilani, dan Imam al- Haramain berpendapat atas wajibnya makrifat dan tidak cukupnya taqlid. Hal demikian juga diriwayatkan Ibn al-Qashshar dari Imam Malik.

ثُمَّ اخْتَلَفَ الْجُمْهُورُ الْقَائِلُوْنَ بِوُجُوْبِ الْمَعْرِفَةِ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: الْمُقَلِّدُ مُؤْمِنُ إِلَّا أَنَّهُ عَاصٍ بِتَرْكِ الْمَعْرِفَةِ الَّتِي يُنْتِجُهَا النَّظَرُ الصَّحِيحُ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّهُ مُؤْمِنٌ وَلَا يَعْصِيْ إِلَّا إِذَا كَانَ فِيْهِ أَهْلِيَةُ لِفَهْمِ النَّظَرِ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: "الْمُقَلَّدُ لَيْسَ بِمُؤْمِنٍ أَصْلًا، وَقَدْ أَنْكَرَهُ بَعْضُهُمْ. 
Kemudian mayoritas ulama yang berpendapat atas wajibnya makrifat berbeda pendapat. Sebagian berpendapat, muqallid (orang yang taqlid) berstatus mukmin, namun ia maksiat sebab meninggalkan makrifat yang dihasilkan dari proses berpikir yang benar; sebagian lagi berpendapat, ia mukmin dan tidak bermaksiat kecuali bila memang mempunyai kemampuan mema- hami pemikiran; dan sebagian lain berpendapat, ia tidak mukmin sama sekali, dan pendapat ini diingkari ulama lainnya.


وَلِإِمَامِ الْحَرَمَيْنِ فِي الشَّامِلِ تَقْسِيمُ الْمُكَلِّفِ إِلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ:
Dalam kitab asy-Syamil Imam al- Haramain mempunyai konsep pembagian mukallaf pada empat bagian:

فَمَنْ عَاشَ بَعْدَ الْبُلُوغِ زَمَنًا يَسَعُهُ لِلنَّظَرِ فِيْهِ وَنَظَرَ لَمْ يُخْتَلَفُ في صِحَّةِ إِيْمَانِهِ؛ وَإِنْ لَمْ يَنْظُرْ لَمْ يُخْتَلَفُ فِي عَدَمِ صِحَةَ إِيْمَانِهِ؛ وَمَنْ عَاشَ بَعْدَهُ زَمَنًا لَا يَسَعُهُ النَّظَرُ وَشَغَلَ ذَلِكَ الزَّمَانَ الْيَسِيرَ بِمَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ فِيْهِ مِنْ بَعْضِ النَّظَرِ لَمْ يُخْتَلَفُ فِي صِحَّةِ إِيْمَانِهِ؛ وَإِنْ أَعْرَضَ عَنِ اسْتِعْمَالِ فِكْرِهِ فِيْمَا يَسَعُهُ ذَلِكَ الزَّمَانَ الْيَسِيرَ بِمَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ فِيْهِ مِنَ النَّظَرِ فَفِي صِحَّةِ إِيْمَانِهِ قَوْلَانِ، وَالْأَصَحُ عَدَمُ الصَّحَّةِ.
Orang yang setelah baligh hidup dalam waktu yang cukup digunakan untuk melakukan pemikiran dan ia melakukannya, maka keabsahan imannya tidak diperselisihkan; Bila ia tidak melakukannya, maka ketidakabsahan imannya tidak diperselisihkan; Orang yang setelah baligh hidup dalam waktu yang tidak cukup digunakan untuk melakukan pemikiran, namun waktu tersebut digunakannya untuk melakukan pemikiran semampunya, maka keabsahan imannya tidak diperselisihkan; dan Bila ia memalingkan pikirannya pada waktu yang sedikit itu, dari melakukan pemikiran, maka terkait keabsahan imannya ada dua pendapat, dan pendapat al- Ashah menyatakan ketidak- absahannya.

 قُلْتُ وَلَعَلَّ هَذَا التَّفْسِيمُ إِنَّمَا هُوَ فِيمَنْ لَا جَزْمَ عِنْدَهُ بِعَقَائِدِ الْإِيْمَانِ أَصْلًا وَلَوْ بِالتَّقْلِيدِ.
Aku katakan: "Mungkin pemba- gian ini hanya untuk orang yang sama sekali tidak mempunyai kemantapan atas kaidah-kaidah keimanan, meskipun dengan cara taqlid."

 وَذَهَبَ غَيْرُ الْجُمْهُورِ إِلَى أَنَّ النَّظَرَ لَيْسَ بِشَرْطٍ فِي صِحَّةِ الْإِيْمَانِ، بَلْ وَلَيْسَ بِوَاجِبِ أَصْلًا، وَإِنَّمَا هُوَ مِنْ شُرُوطِ الْكَمَالِ فَقَدْ، وَقَدِ اخْتَارَ هَذَا الْقَوْلَ الشَّيْخُ الْعَارِفُ الْوَلِيُّ ابْنُ أَبِي جَمْرَةَ وَالْإِمَامُ الْقُشَيْرِيُّ وَالْقَاضِي أَبُو الْوَلِيدِ بْنُ رُشْدِ وَالْإِمَامُ الْغَزَالِيُّ وَجَمَاعَةُ.
Selain mayoritas ulama berpen- dapat, bahwa pemikiran (atas wahdaniyah Allah) tidak menjadi syarat keabsahan iman, bahkan sama sekali tidak wajib, namun hanya merupakan syarat kesem- purnaan. Asy-Syaikh al-'Arif al- Wali Ibn Abi Jamrah, al-Imam al- Qusyairi, al-Qadhi Abu al-Walid bin Rusyd, al-Imam al-Ghazali, dan segolongan ulama lain memilih pendapat ini.


 وَالْحَقُّ الَّذِي يَدُلُّ عَلَيْهِ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ وُجُوْبُ النَّظَرِ الصَّحِيحِ مَعَ التَّرَدُّدِ فِي كَوْنِهِ شَرْطًا فِي صِحَّةِ الْإِيْمَانِ أَوْ لَا وَالرَّاجِحُ أَنَّهُ شَرْطُ فِي صِحَّتِهِ.
Kebenaran yang ditunjukkan al- Qur'an dan as-Sunnah adalah wajibnya melakukan pemikiran yang benar, dan belum jelas apakah hal ini menjadi syarat keabsahan iman atau tidak. Namun pendapat ar-Rajih menya- takan hal tersebut merupakan syarat keabsahan iman.

 وَقَدْ عَزَّا ابْنُ الْعَرَبِيُّ الْقَوْلَ بِأَنَّهُ تَعَالَى يُعْلَمُ بِالتَّقْلِيدِ إِلَى الْمُبْتَدِعَةِ، وَنَصَّهُ فِي كِتَابِهِ الْمُتَوَسَطُ فِي الْاعْتِقَادِ": اعْلَمُوا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ أَنَّ هَذَا الْعِلْمَ الْمُكَلَّفَ بِهِ لَا يَحْصُلُ ضَرُوْرَةً وَلَا إِلْهَامًا، وَلَا يَصِحُ التَّقْلِيدُ فِيْهِ، وَلَا يَجُوْزُ أَنْ يَكُوْنَ الْخَبَرُ طَرِيقًا إِلَيْهِ، وَإِنَّمَا الطَّرِيقُ إِلَيْهِ النَّظَرُ.
Ibn al-'Arabi menisbatkan pendapat yang menyatakan bahwa Allah Ta'ala dapat diyakini dengan taqlid, kepada ahli bid'ah. Redaksinya dalam kitabnya al- Mutawassith yang membahas tentang i'tiqad: "Ketahuilah- semoga Allah mengajari kalian-, sungguh keyakinan atas akidah- akidah tauhid yang ditaklifkan ini tidak dapat diperoleh dharuri (langsung secara tanpa pemikiran) dan secara ilham, tidak sah taqlid untuknya, dan tidak mungkin khabar (al-Qur'an dan al- Hadits) menjadi jalan untuk mencapainya. Jalannya hanyalah melakukan proses pemikiran.


وَرَسْمُهُ أَنَّهُ الْفِكْرُ الْمُرَتَّبُ فِي النَّفْسِ عَلَى طَرِيقٍ يُفْضِي إِلَى الْعِلْمِ أَوِ الظَّنِّ يَطْلُبُ مَنْ قَامَ بِهِ عِلْمًا فِي الْعِلْمِيَّاتِ أَوْ غَلَبَةِ ظَنَّ في الظُّنُوْنَاتِ، وَلَوْ كَانَ هَذَا الْعِلْمُ يَحْصُلُ ضَرُورَةً لَأَدْرَكَ ذَلِكَ جَمِيعُ الْعُقَلَاءِ، أَوْ إِلْهَامًا لِوَضَعَ اللهُ تَعَالَى ذَلِكَ فِي قَلْبِ كُلِّ حَيٍّ لَيَتَحَقَّقَ بِهِ التَّكْلِيفُ، وَأَيْضًا فَإِنَّ الْإِلْهَامَ نَوْعُ ضَرُورَةٍ، وَقَدْ أَبْطَلْنَا الضَّرُورَة.
Sementara definisi rasm dari nazhar (pemikiran) adalah proses berpikir yang teratur dalam hati berdasarkan metode yang dapat mengantarkan pada keyakinan atau pada dugaan bagi pelakunya, yang dengannya ia mencari keyakinan dalam hal-hal yang bersifat keyakinan, atau mencari dugaan kuat dalam hal-hal yang bersifat zhanni. Andaikan ilmu ini dapat diperoleh secara dharuri, niscaya semua orang berakal dapat memahaminya, atau dapat diperoleh secara ilham niscaya Allah Ta'ala akan meletakkan ilmu tersebut di setiap hati orang hidup, agar taklif benar-benar dihasilkan dengannya. Selain itu, sungguh ilham termasuk macam dharuri yang sudah aku batalkan.

 وَلَا يَصِحُ أَنْ يُقَالَ أَنَّهُ تَعَالَى يُعْلَمُ بِالتَّقْلِيدِ كَمَا قَالَ جَمَاعَةٌ مِنَ الْمُبْتَدِعَةِ، لِأَنَّهُ لَوْ عُرِفَ بِالتَّقْلِيدِ لَمَا كَانَ قَوْلُ وَاحِدٍ مِنَ الْمُقَلَّدِينَ أَوْلَى بِالْاتْبَاعِ وَالْانْقِيَادِ إِلَيْهِ مِنَ الْآخَرِ، كَيْفَ وَأَقْوَالُهُمْ مُتَضَادَّةٌ وَمُخْتَلِفَةٌ. 
Tidak sah dikatakan, bahwa Allah Ta'ala dapat diyakini dengan taqlid, sebagaimana pendapat segolongan ahli bid'ah. Sebab, andaikan Allah dapat diyakini dengan taqlid, niscaya pendapat salah seorang yang ditaqlidi tidak lebih utama diikuti dan dipatuhi daripada selainnya. Bagaimana (pula), mereka sementara pendapat berkesebalikan bertentangan.

وَلَا يَجُوْزُ أَيْضًا أَنْ يُقَالَ إِنَّهُ يُعْلَمُ بِالْخَبَرِ، لِأَنَّ مَنْ لَمْ يَعْلَمِ اللَّهَ تَعَالَى كَيْفَ يَعْلَمُ أَنَّ الْخَبَرَ خَبَرُهُ؟
Dan tidak boleh pula dikatakan, sungguh Allah dapat diyakini berdasarkan khabar (al-Qur'an dan al-Hadits), sebab orang yang belum meyakini Allah Ta'ala, bagaimana bisa meyakini bahwa suatu khabar merupakan khabar- Nya?

 فَثَبَتَ أَنَّ طَرِيقَهُ النَّظَرُ، وَهُوَ أَوَّلُ وَاجِبِ عَلَى الْمُكَلَّفِ، إِذِ الْمَعْرِفَةُ أَوَّلُ الْوَاجِبَاتِ، وَلَا تَحْصُلُ إِلَّا بِهِ. فَبِضَرُورَةِ تَقْدِيمِهِ عَلَيْهَا تَثْبُتُ لَهُ صِفَةُ الْوُجُوْبِ قَبْلَهَا. وَإِيْجَابُ الْمَعْرِفَةِ بِاللَّهِ مَعْلُوْمُ مِنْ دِينِ الْأُمَّةِ ضَرُورَةً. 
Bila demikian, maka menjadi tetap, bahwa jalan untuk mencapai keyakinan tentang Allah adalah pemikiran. Hal ini menjadi kewajiban pertama bagi mukallaf, sebab makrifat terhadap Allah merupakan kewajiban pertama yang tidak dapat dihasilkan kecuali dengannya. Karena kepastian lebih dahulunya pemikiran daripada makrifah, maka sifat wajib bagi pemikiran menjadi tetap sebelum tetapnya makrifat. Sementara kewajiban makrifat kepada Allah merupakan hal yang diketahui dari agama secara masyhur.

(فَصْلٌ) وَمَعَ أَنَا نَقُولُ أَنَّ الْمَعْرِفَةَ وَاجِبَةٌ وَأَنَّ النَّظَرَ الْمُوْصِلُ إِلَيْهَا وَاجِبُ، فَإِنَّ بَعْضَ أَصْحَابِنَا يَقُوْلُ أَنَّ مَنِ اعْتَقَدَ فِي رَبِّهِ تَعَالَى الْحَقَّ وَتَعَلَّقَ بِهِ اعْتِقَادُهُ عَلَى الْوَجْهِ الصَّحِيحِ فِي صِفَاتِهِ فَإِنَّهُ مُؤْمِنٌ مُوَحِّدٌ. وَلَكِنْ هَذَا لَا يَصِحُ فِي الْأَغْلَبِ إِلَّا لِنَاظِرٍ، وَلَوْ حَصَلَ لِغَيْرِ نَاظِرٍ لَمْ نَأْمَنْ أَنْ يَتَخَلْخَلَ اعْتِقَادُهُ. 
Pasal; Cukupnya Taqlid untuk Meyakini Allah. Di saat aku berpendapat bahwa makrifat dan pemikiran yang mengantarkan padanya wajib, sebagian Ashab kita (ulama Asy'ariyah) berpendapat, bahwa orang yang meyakini kebenaran tentang Allah Ta'ala dan keyakinannya terhadap sifat- sifat Allah bergantung padanya dengan cara yang benar, maka ia adalah seorang mukmin muwahhid. Namun hal ini pada umumnya hanya diperoleh oleh orang yang melakukan pemikiran. Andaikan hal itu diperoleh selain orang yang melakukan pemikiran, keyakinan- nya tidak aman dari kegoncangan.

فَلَا بُدَّ عِنْدَنَا أَنْ يَعْلَمَ كُلَّ مَسْأَلَةٍ مِنْ مَسَائِلِ الْاعْتِقَادِ بِدَلِيْلٍ وَاحِدٍ، وَلَا يَنْفَعُهُ اعْتِقَادُهُ إِلَّا أَنْ يَصْدُرَ عَنْ دَلِيْلٍ عِلْمُهُ. فَلَوِ اختُرِمَ وَقَدْ تَعَلَّقَ اعْتِقَادُهُ بِالْبَارِي تَعَالَى كَمَا يَنْبَغِي وَعَجَزَ عَنِ النَّظَرِ فَقَالَ جَمَاعَةٌ مِنْهُمْ إِنَّهُ يَكُوْنُ مُؤْمِنًا، وَإِنْ تَمَكَّنَ مِنَ النَّظَرِ وَلَمْ يَنْظُرُ قَالَ الْأُسْتَاذُ أَبُوْ إِسْحَقٍ يَكُوْنُ مُؤْمِنًا عَاصِيًا بِتَرْكِ النَّظَرِ، وَبَنَاهُ عَلَى أَصْلِ الشَّيْخِ أَبِي الْحَسِنِ.

Maka menurutku, orang harus mengetahui setiap permasalahan akidah dengan dalilnya. Keyakinan tidak akan bermanfaat baginya kecuali bila keyakinannya muncul dari suatu dalil. Bila orang mati dalam kondisi keyakinannya terhadap Allah Ta'ala Yang Maha Selamat sebagaimana mestinya dan tidak mampu melakukan pemikiran, maka sebagian ulama Asy'ariyah berpendapat, bahwa orang tersebut adalah mukmin; bila ia mampu melakukan pemikiran namun tidak melakukannya, maka menurut al-Ustadz Abu Ishaq(Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin Ibrahim bin Mahran al-Asfarayini (w. 418 H/1027 M)
 ia mukmin yang maksiat sebab tidak melakukan penalaran yang mana pendapat ini dibangunnya pada ajaran Syaikh Abu Hasan al-Asy'ari-.

وَأَمَّا كَوْنُهُ مُؤْمِنًا مَعَ الْعَجْزِ وَالْاخْتِرَامِ فَظَاهِرُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى، وَأَمَّا كَوْنُهُ مُؤْمِنًا مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى النَّظَرِ وَتَرَكِهِ فَقَوْلُهُ فِيْهِ نَظَرُ عِنْدِي، وَلَا أَعْلَمُ صِحَّتَهُ الْآنَ.
Adapun pernyataan Abu Ishaq, bahwa orang tersebut mukmin bila tidak mampu melakukan penala- ran dan mati, maka jelas benarnya, insyaallah; sedangkan pernyataan bahwa ia mukmin besertaan mam- pu melakukan pemikiran namun tidak melakukannya, maka menu- rutku dalam hal ini perlu pemi- kiran lebih lanjut, dan sekarang aku tidak meyakini kebenarannya.

 فَإِنْ قِيلَ: قَدْ أَوْجَبْتُمُ النَّظَرَ قَبْلَ الْإِيْمَانِ عَلَى مَا اسْتَقَرَّ مِنْ كَلَامِكُمْ فَإِذَا دُعِيَ الْمُكَلِّفُ إِلَى الْمَعْرِفَةِ فَقَالَ: حَتَّى أَنْظُرَ فَأَنَّا الْآنَ فِي مَهْلَةِ النَّظَرِ وَتَحْتَ تِرْدَادِهِ، مَاذَا تَقُوْلُوْنَ؟ أَتَلْزَمُوْنَهُ الْإِقْرَارَ بِالْإِيْمَانِ فَتَنْقُضُوْنَ أَصْلَكُمْ فِي أَنَّ النَّظَرَ يَجِبُ قَبْلَهَا، أَمْ تُمْهِلُوْنَهُ فِي نَظَرِهِ إِلَى حَدٌ يَتَطَاوَلُ بِهِ الْمُدَّى فِيْهِ، أَمْ تَقْدُرُوْنَهُ بِمِقْدَارٍ فَتَحْكُمُوْنَ عَلَيْهِ بِغَيْرِ نَصَّ؟
Bila disangkal: "Anda telah mewajibkan pemikiran sebelum keimanan sesuai makna ucapan Anda, lalu bila seorang mukallaf disuruh untuk makrifat (beriman) dan menjawab: "(Nanti dulu), sampai saya melakukan pemikiran, sebab sungguh sekarang saya masih dalam masa pemikiran yang lama dan sedang mengulang- ulangnya", maka apa pendapat Anda? Apakah Anda akan mewajibkannya untuk meng- ikrarkan keimanan, sehingga Anda merusak prinsip Anda sendiri yang mewajibkan pemikiran sebelum- nya, atau membiarkannya melakukan penalaran sampai waktu yang tidak diketahui batasnya, atau Anda tentukan batas waktunya sehingga Anda menghukuminya tanpa nash?

 فَالْجَوَابُ أَنَّا نَقُوْلُ أَمَّا الْقَوْلُ بِوُجُوْبِ الْإِيْمَانِ قَبْلَ الْمَعْرِفَةِ فَضَعِيفُ، لِأَنَّ إِلَزَامَ التَّصْدِيقِ بِمَا لَا تُعْلَمُ صِحَّتَهُ يُؤَدِّي إِلَى التَّسْوِيَةِ بَيْنَ النَّبِيِّ وَالْمُتَنَبِّيْ، وَأَنَّهُ يُؤْمِنُ أَوَّلًا فَيَنْظُرُ فَيَتَبَيَّنُ لَهُ الْحَقُّ فَيَتَمَادَى، أَوْ يَتَبَيَّنُ لَهُ الْبَاطِلُ فَيَرْجِعُ وَقَدِ اعْتَقَدَ الْكُفْرَ.
Maka jawabannya adalah, aku katakan: "Ada pun pendapat yang mewajibkan iman sebelum makrifat (mengenal Allah) maka lemah, sebab mewajibkan pembe- naran dengan suatu nisbat yang belum diyakini keabsahannya akan mengantarkan pada penyamaan antara Nabi dan orang yang mengaku-ngaku sebagai Nabi, pada penetapan awal mulanya ia beriman, lalu melakukan pemi- kiran, menemukan kebenaran, dan meneruskan keimanannya, atau ia menemukan kebatilan, lalu ia kembali pada kondisi sebelumnya, yaitu meyakini kekufuran.

 وَأَمَّا إِذَا دَعَا الْمَطْلُوبُ بِالْإِيْمَانِ إِلَى النَّظَرِ فَيُقَالُ لَهُ: إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ النَّظَرَ فَاسْرُدْهُ، وَإِنْ كُنْتَ لَا تَعْلَمُهُ فَاسْمَعْهُ وَيُسْرُدُ فِي سَاعَةٍ عَلَيْهِ، فَإِنْ آمَنَ تَحَقَّقَ اسْتِرْشَادُهُ، وَإِنْ أَبَى تَبَيَّنَ عِنَادُهُ، فَوَجَبَ اسْتِخْرَاجُهُ مِنْهُ بِالسَّيْفِ أَوْ يَمُوْتُ. 
Adapun ketika orang yang diperintah beriman tadi meminta melakukan pemikiran (dahulu), maka dikatakan kepadanya (bila tidak hidup bersama-sama umat Islam): "Bila Anda mampu melakukan pemikiran (yang benar), maka lakukanlah sekarang juga; bila tidak, maka dengarkan- lah, dan alur pemikiran yang benar disampaikan kepadanya dalam 28 waktu secukupnya. Bila beriman, maka ia nyata-nyata telah menda- patkan petunjuk; bila menolaknya, maka ia jelas-jelas telah menging- karinya, maka pengingkaran itu wajib dikeluarkan darinya dengan ancaman pembunuhan, kecuali ia mati tanpa dibunuh."

وَإِنْ كَانَ مِمَّنْ ثَاقَنَ أَهْلُ الْإِسْلَامِ وَعَلِمَ طَرِيقَ الْإِيمَانِ لَمْ يُمْهَلْ سَاعَةً، أَلَا تَرَى أَنَّ الْمُرْتَدَ اسْتَحَبَّ فِيْهِ الْعُلَمَاءُ الْإِمْهَالَ لَعَلَّهُ إِنَّمَا ارْتَدَّ لِرَيْبٍ فَيُتَرَبَّصُ بِهِ مُدَّةً لَعَلَّهُ أَنْ يُرَاجِعَ الشَّكَ بِالْيَقِينِ وَالْجَهْلُ بِالْعِلْمِ، وَلَا يَجِبُ ذَلِكَ لِحُصُولِ الْعِلْمِ بِالنَّظَرِ الصَّحِيحِ أَوَّلًا. 
Bila ia termasuk orang yang hidup bersama umat Islam dan mengetahui cara beriman, maka ia tidak diberi waktu sedikitpun untuk menunda keimanannya. Tidakkah Anda tahu, bahwa ulama mensunnahkan memberi kesem- patan kepadanya, mungkin ia murtad karena keraguan, lalu ditunggu sebentar mungkin ia dapat mengganti keraguannya dengan keyakinan, dan mengganti kebodohannya dengan ilmu; dan pemberian kesempatan pada orang murtad tersebut tidak wajib karena keyakinan dapat dihasilkan dengan pemikiran yang benar di permulaannya.

وَكَيْفَ يَصِحُ لِنَاظِرٍ أَنْ يَقُوْلَ إِنَّ الْإِيْمَانَ يَجِبُ أَوَّلًا قَبْلَ النَّظَرِ وَلَا يَصِحُ فِي الْمَعْقُوْلِ إِيْمَانُ بِغَيْرِ مَعْلُوْمٍ، وَذَلِكَ الَّذِي يَجِدُهُ الْمَرْءُ حُسْنَ ظَنَّ فِي نَفْسِهِ بِمُخْبِرِهِ، وَإِلَّا فَإِنْ تَطَرَّقَ إِلَيْهِ التَّجْوِيزُ أَوِ التَّكْذِيبُ تَطَرَّقَ.
Bagaimana benar menurut seorang pemikir, pendapat yang menyatakan bahwa wajib iman dahulu sebelum pemikiran? Sebab, menurut akal tidak sah iman tanpa kebenaran yang diketahui. Keimanan yang ditemukannya terjadi karena husnuzhzhan dirinya kepada orang yang memberitakan keimanan kepadanya, bila tidak demikian, maka bila keraguan atau anggapan bohong mendatangi- nya, hal itu akan menggantikan kemantapan imannya.

 وَأَيْضًا فَإِنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم دَعَا الْخَلْقَ إِلَى النَّظَرِ أَوَّلا، ، فَلَمَّا قَامَتِ الحجة بِهِ وَبَلَغَ . غَايَةَ الْإِعْذَارِ فِيهِ حَمَلَهُمْ عَلَى الْإِيْمَانِ بِالسَّيْفِ، أَلَا تَرَى أَنَّ كُلَّ مَنْ دَعَاهُ إِلَى الْإِيْمَانِ قَالَ لَهُ: اعْرِضْ عَلَيَّ آيَتَكَ"، فَيَعْرِضُهَا عَلَيْهِ فَيَظْهَرُ لَهُ الْحَقُّ فَيُؤْمِنُ فَيَأْمَنُ، أَوْ يُعَانِدُ فَيَهْلِكُ. انْتَهَى.
Selain itu, sungguh Nabi Ahalallahu 'Alaihi Wasallam pada masa awal risalahnya mengajak manusia untuk melakukan pemikiran, kemudian setelah hujjah menjadi kuat berdasarkan pemikiran dan beliau mencapai uzur tertinggi untuk melaku- kannya, maka beliau mengajak mereka beriman dengan ancaman perang. Tidakkah Anda lihat, bahwa setiap orang yang diajaknya beriman berkata kepadanya: "Tunjukkan tanda- tanda kenabianmu kepadaku!" Lalu beliau menunjukkannya, maka jelaslah kebenaran bagi orang tersebut, kemudian dia beriman dan mendapatkan keamanan, atau mengingkarinya dan mendapatkan kerusakan."

 هَذَا كَلَامُ ابْنُ الْعَرَبِي، وَهُوَ حَسَنُ؛ وَاسْتُشْكِلَ الْقَوْلُ بِأَنَّ الْمُقَلِّدِ لَيْسَ بِمُؤْمِنٍ، لِأَنَّهُ يَلْزَمُ عَلَيْهِ تَكْفِيرُ أَكْثَرِ عَوَامِ الْمُسْلِمِينَ، وَهُمْ مُعْظِمُ هَذِهِ الْأُمَّةِ، وَذَلِكَ مِمَّا يَقْدَحُ فِيمَا عُلِمَ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا صلى الله عليه وسلم أَكْثَرُ الْأَنْبِيَاءِ أَتْبَاعًا، وَوَرَدَ أَنَّ أُمَّتَهُ الْمُشْرِفَةُ ثُلُنَا أَهْلِ الْجَنَّةِ.
Demikian pernyataan Ibn al-'Arabi yang merupakan pendapat bagus, namun dimusykilkan dengan konsekuensi, bahwa seorang muqallid tidak berstatus mukmin, sebab pendapat tersebut berkonsekuensi mengafirkan mayoritas muslim awam, padahal mereka adalah mayoritas umat al-ijabah9 ini. Hal ini mencemari fakta yang telah diketahui, yaitu sungguh Sayyiduna wa Nabiyyuna Muhammad Shalallahu'Alaihi Wasallam adalah Nabi yang paling banyak pengikutnya, dan telah ada hadits yang menyatakan bahwa umatnya yang mulia merupakan 2/3 penghuni surga.

وَأُجِيْبَ بِأَنَّ الْمُرَادَ بِالدَّلِيلِ الَّذِي تَجِبُ مَعْرِفَتُهُ عَلَى جَمِيعِ الْمُكَلَّفِيْنَ هُوَ الدَّلِيلُ الْجُمْلِيُّ، وَهُوَ الَّذِي يُحَصِّلُ فِي الْجُمْلَةِ لِلْمُكَلِّفِ الْعِلْمَ وَالطَّمَأْنِينَةَ بِعَقَائِدِ الْإِيْمَانِ، بِحَيْثُ لَا يَقُوْلُ قَلْبُهُ فِيهَا: "لَا أَدْرِي، سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُوْلُوْنَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ". 
Kemusykilan itu dapat dijawab dengan jawaban, sungguh yang dimaksud dengan dalil yang wajib diketahui oleh seluruh mukallaf adalah dalil ijmali (yang bersifat umum), yang pada umumnya menghasilkan keyakinan dan penerimaan hati atas akidah- akidah keimanan bagi mukallaf, sekira hatinya tidak mengatakan: "Aku tidak mengetahui, aku dengar orang-orang mengatakan sesuatu, lalu aku pun mengatakannya."  

وَلَا يُشْتَرَطُ مَعْرِفَةُ النَّظَرِ عَلَى طَرِيقِ الْمُتَكَلِّمِينَ مِنْ تَحْرِيرِ الْأَدِلَّةِ وَتَرْتِيبِهَا وَدَفْعِ الشَّبْهَةِ الْوَارِدَةِ عَلَيْهَا، وَلَا الْقُدْرَةُ عَلَى التَّعْبِيرِ عَمَّا حَصَلَ فِي الْقَلْبِ مِنَ الدَّلِيلِ الْجُمْلِيِّ الَّذِي حَصَلَتْ بِهِ الطَّمَأْنِينَةُ. 
Tidak disyaratkan pemikiran sesuai mengetahui metode mutakallimin, yaitu meneliti dan membenarkan dalil-dalil, menolak syubhat yang datang padanya, dan mengungkapkan dalil ijmali yang ada di hati yang menghasilkan penerimaan

وَلَا شَلَّ أَنَّ النَّظَرَ عَلَى هَذَا الْوَجْهِ غَيْرُ بَعِيدٍ حُصُولُهُ لِمَعْظَمِ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَوْ لِجَمِيعِهَا فِيْمَا قَبْلَ آخِرِ الزَّمَانِ الَّذِي يَرْفَعُ فِيْهُ الْعِلْمُ النَّافِعُ، وَيَكْثُرُ فِيهِ الْجَهْلُ الْمُضِرُّ، وَلَا يَبْقَى فِيْهِ التَّقْلِيدُ الْمُطَابِقُ، فَضْلًا عَنِ الْمَعْرِفَةِ عِنْدَ كَثِيرٍ مِمَّنْ يُظَنُّ بِهِ الْعِلْمُ، فَضْلًا عَنْ كَثِيرٍ مِنَ الْعَامَّةِ، وَلَعَلَّنَا أَدْرَكْنَا هَذَا الزَّمَانَ بِلَا رَيْبٍ، وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ.
Tidak diragukan, bahwa pemikiran sederhana semacam ini tidak sulit diperoleh bagi mayoritas atau semua umat al-ijabah ini sebelum akhir zaman yang pada waktu itu ilmu nafi' akan diangkat; banyaknya kebodohan yang membahayakan; tidak ada taqlid yang benar, apalagi makrifat, pada orang-orang yang disangka mempunyai ilmu, apalagi pada orang-orang awam. Mungkin tanpa diragukan, kita menjumpai zaman ini. Allah Zat Yang Maha diminta Pertolongan. La haula wa la quwwata illa billahil 'aliyyil 'azhim.


وَفِي الْحَدِيْثِ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : تَكُوْنُ فِتْنَةٌ في آخِرِ الزَّمَانِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا إِلَّا مَنْ أَجَارَهُ اللهُ تَعَالَى بِالْعِلْمِ. 
Diriwayatkan dalam suatu hadits dari Abu Umamah, ia berkata: "Rasulullah bersabda: "Akan ada fitnah di akhir zaman, di pagi hari orang berstatus mukmin dan sorenya sudah menjadi kafir, kecuali orang yang dijaga oleh Allah dengan ilmu." 

وَبِالْجُمْلَةِ فَالْاِحْتِيَاطُ فِي الْأُمُوْرِ هُوَ أَحْسَنُ مَا يَسْلُكُهُ الْعَاقِلُ ، لَا سِيَّمَا فِي هَذَا الْأَمْرِ الَّذِي هُوَ رَأْسُ الْمَالِ، وَعَلَيْهِ يَنْبَنِي كُلُّ خَيْرٍ، فَكَيْفَ يَرْضَى ذُوْ هِمَّةٍ أَنْ يَرْتَكِبَ مِنْهُ مَا يُكَدِّرُ مَشْرَبَهُ مِنَ التَّقْلِيدِ الْمُخْتَلَفِ فِيهِ وَيَتْرُكُ الْمَعْرِفَةَ وَالتَّعَلَّمَ لِلنَّظَرِ الصَّحِيحِ الَّذِي يَأْمَنُ مَعَهُ كُلَّ مُخَوِّفٍ، ثُمَّ يَلْتَحِقُ مَعَهُ بِدَرَجَةِ الْعُلَمَاءِ الدَّاخِلِينَ فِي سَلْكِ قَوْلِهِ تَعَالَى: شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ"، الآية. 
Kesimpulannya, hati-hati dalam segala permasalahan merupakan langkah terbaik yang ditempuh orang berakal, apalagi terkait keimanan yang merupakan modal utama manusia, yang di atasnya semua kebaikan dibangun. Bagaimana orang berhimmah rela menempuh jalan taqlid yang masih diperselisihkan dan memperkeruh akidahnya, meninggal- kan makrifat dan belajar melaku- kan pemikiran yang benar yang dapat menghindarkannya dari segala kekhawatiran, kemudian dengannya mencapai derajat ulama yang masuk dalam makna firman Allah Ta'ala: "Allah menjelaskan, sungguh tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Menegakkan Keadilan; Malaikat dan orang-orang yang berpengetahuan pun mengakuinya...",


فَلَا يَتَقَاصَرُ عَنْ هَذِهِ الرُّتْبَةِ الْمَأْمُونَةِ الرَّكِيَّةِ إِلَّا ذُوْ نَفْسٍ سَاقِطَةٍ وَهِمَّةٍ خَسِيْسَةٍ. لَكِنْ عَلَى الْعَاقِلِ أَنْ يَنْظُرَ أَوَّلًا فِيمَنْ يُحقِّقُ لَهُ هَذَا الْعِلْمَ وَيَخْتَارُهُ لِلصُّحْبَةِ مِنَ الْأَئِمَّةِ الْمُؤَيَّدِينَ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى بِنُوْرِ الْبَصِيرَةِ الزَّاهِدِينَ بِقُلُوْبِهِمْ فِي هَذَا الْعُرْضِ الْحَاضِرِ الْمُشْفِقِينَ عَلَى الْمَسَاكِينِ الرُّوْفَاءُ عَلَى ضُعَفَاءِ الْمُؤْمِنِينَ. 
Tidaklah mencukupkan diri jauh dari derajat yang aman dan suci ini kecuali orang yang berjiwa rendah dan berhimmah hina. Namun demikian, pertama kali wajib bagi orang berakal untuk memper- timbangkan orang yang meng- ajarinya secara benar ilmu akidah keimanan ini, dan memilihnya untuk dijadikan guru, dari para imam yang oleh Allah dikokohkan dengan cahaya hati, yang zuhud dengan hatinya dari dunia yang ada ini, yang penuh belas kasihan kepada orang-orang miskin ilmu, dan orang-orang mukmin yang lemah pemahamannya.

فَمَنْ وَجَدَ أَحَدًا عَلَى هَذِهِ الصَّفَةِ فِي هَذَا الزَّمَانِ الْقَلِيلِ الْخَيْرَ جِدًّا، فَلْيَشُدَّ يَدَهُ عَلَيْهِ، وَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ لَا يَجِدُ لَهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ، ثَانِيَا فِي عَصْرِهِ، إِذْ مَنْ يَكُوْنُ عَلَى هَذِهِ الصَّفَةِ أَوْ قَرِيبًا مِنْهَا، لَا يَكُوْنُ مِنْهُمْ فِي أَوَاخِرِ الزَّمَانِ إِلَّا الْوَاحِدُ وَمَنْ يَقْرُبُ مِنْهُ عَلَى مَا نَصَّ عَلَيْهِ الْعُلَمَاءُ. 
Orang yang menemukan guru semacam itu pada zaman yang sedikit sekali kebaikannya ini, hendaklah selalu mengikutinya. Ketahuilah, sungguh ia tidak akan menemukannya lagi-wallahu a'lam-untuk kedua kalinya pada masanya. Sebab, orang yang mempunyai sifat seperti itu atau yang mendekatinya (yang secara terang-terangan mengajarkan ilmu ini), di akhir zaman tidak ada kecuali seorang saja, dan orang yang mendekatinya, sesuai penjelasan ulama.


ثُمَّ الْغَالِبُ عَلَيْهِ فِي هَذَا الزَّمَانِ الخَفَاءُ، بِحَيْثُ لَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ إِلَّا قَلِيلٌ مِنَ النَّاسِ. وَلْيَشْكُرِ اللَّهَ سُبْحَانَهُ الَّذِي أَطْلَعَهُ عَلَى هَذِهِ الْغَنِيمَةِ الْعُظْمَى آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ، إِذْ أَظْفَرَهُ مَوْلَاهُ الْكَرِيمُ جَلَّ وَعَزَّ بِمَحْضِ فَضْلِهِ بِكَثْرٍ عَظِيمٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ، يُنْفِقُ مِنْهُ مَا شَاءَ وَكَيْفَ شَاءَ، وَقَلِيلٌ أَنْ يُنْفِقَ الْيَوْمَ وُجُوْدَ مِثْلِ هَذَا إِلَّا نَادِرُ مِنَ السُّعَدَاءِ.
Pada umumnya di zaman ini, orang yang seperti itu samar (sulit ditemukan), sekira tidak ditunjuk- kan kepadanya kecuali sedikit orang saja. Hendaklah ia bersyukur kepada Allah sepanjang malam dan siang yang telah memper- lihatkannya atas kesuksesan besar ini. Sebab Allah Yang Maha Pemurah-Jalla wa 'Azza-dengan kemurnian anugerah-Nya telah memberinya kesuksesan mendapat kekayaan surga yang sangat besar (guru dengan sifat-sifat yang telah disebutkan) yang dapat menjadi sumber belajar dan dengan cara bagaimanapun yang dikehendaki- nya ia belajar kepadanya. Sedikit sekali orang yang dapat belajar kepada guru semacam ini pada masa sekarang ini kecuali orang beruntung dan langka

وَأَمَّا مَنْ يَقْرَأُ هَذَا الْعِلْمَ عَلَى مَنْ يَتَعَاطَى لَهُ وَلَيْسَ عَلَى الصَّفَةِ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا فَمَفَاسِدُ صُحْبَةِ هَذَا دُنْيَا وَأُخْرَى أَكْثَرُ مِنْ مَصَالِحِهَا، وَمَا أَكْثَرُ وُجُوْدِ مِثْلِ هَؤُلَاءِ فِي زَمَانِنَا فِي كُلِّ مَوْضِعٍ، نَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى السَّلَامَةَ مِنْ شَرِّ أَنْفُسِنَا وَمِنْ شَرِّ كُلِّ ذِي شَرٌّ بِجَاهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم.
Adapun orang yang membacakan ilmu akidah ini kepada orang yang meminta kepadanya sementara ia tidak mempunyai sifat-sifat yang telah aku disebutkan, maka mafsadah menjadi muridnya di dunia dan akhirat lebih banyak daripada kemaslahatannya. Sangat banyak orang-orang seperti itu di zaman kita di setiap tempat. Aku memohon keselamatan kepada Allah Ta'ala dengan derajat Sayyidina Muhammad dari keburukan diriku dan keburukan setiap orang yang mempunyai keburukan.

 وَلْيَحْذَرِ الْمُبْتَدِئُ جُهْدَهُ أَنْ يَأْخُذَ أُصُولَ دِينِهِ مِنَ الْكُتُبِ الَّتِي حُشِيَتْ بِكَلَامِ الْفَلَاسِفَةِ، وَأُوْلِعَ مُؤَلِّفُوْهَا بِنَقْلِ هَوْسِهِمْ، وَمَا هُوَ كُفْرُ صُرَّاحُ مِنْ عَقَائِدِهِمْ الَّتِي سَتَرُوْا نَجَاسَتَهَا بِمَا يَنْبَهِمُ عَلَى كَثِيرٍ مِنْ اصْطَلَاحَاتِهِمْ وَعِبَارَاتِهِمْ الَّتِي أَكْثَرُهَا أَسْمَاءُ بِلَا مُسَمَّيَاتٍ، وَذَلِكَ كَكُتُبِ الْإِمَامِ الْفَخْرِ فِي عِلْمِ الْكَلَامِ، وَطَوَالِعِ الْبَيْضِمَاوِي، وَمَنْ حَذَا حَذْوَهُمَا في ذَلِكَ.
Hendaklah pelajar pemula menghindarkan kemampuannya untuk belajar ushul ad-dinnya dari kitab- kitab yang dipenuhi pendapat- pendapat kaum filosuf, para penulisnya mengantungkan diri dengan mengutip kegilaan mereka yang merupakan kekufuran nyata, yaitu akidah-akidah yang kenajisannya mereka tutupi dengan berbagai istilah dan ungkapan yang samar yang mayoritas hanya merupakan nama tanpa subtansi, seperti kitab-kitab karya al-Imam al-Fakr ar-Razi tentang kalam, kitab Thawali' karya al-Baidhawi, dan orang-orang yang menempuh metode mereka dalam ilmu Kalam 

 وَقَلَّ أَنْ يُفْلِحَ مَنْ أَوْلَعَ بِصُحْبَةِ كَلَامِ الْفَلَاسِفَةِ أَوْ يَكُوْنَ لَهُ نُوْرُ إِيْمَانٍ فِي قَلْبِهِ أَوْ لِسَانِهِ. وَكَيْفَ يُفْلِحُ مَنْ وَالَى مَنْ حَادِ اللَّهِ وَرَسُوْلِهِ وَخَرَقَ حِجَابِ الْهَيْبَةِ وَنَبَذَ الشَّرِيعَةَ وَرَاءَ ظَهْرِهِ وَقَالَ فِي حَقٌّ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ وَفِي حَقٌّ رُسُلِهِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَا سَوَّلَتْ لَهُ نَفْسُهُ الْحَمْقَاءُ، وَدَعَاهُ إِلَيْهِ وَهْمُهُ الْمُخْتَلُّ. 
Jarang sekali beruntung orang yang menggantungkan diri dengan menekuni kalam para filosuf, atau mendapatkan cahaya keimanan di hati atau lisannya. Bagaimana beruntung orang yang mengasihi orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, membakar haibah Allah yang laksana hijab, membuang syariat di belakang punggungnya, dan berkata bagi Allah-Jalla wa 'Azza-dan para Rasul-Nya-'alaihimus shalatu was salam-dengan perkataan yang dihiaskan oleh dirinya yang bodoh dan diajak oleh persangkaannya yang rusak.

وَلَقَدْ خَذَلَ بَعْضُ النَّاسِ فَتَرَاهُ يُشْرِفُ كَلَامَ الْفَلَاسِفَةِ الْمَلْعُوْنِيْنَ، وَيُشْرِفُ الْكُتُبَ الَّتِي تُعَرِّضَتْ لِنَقْلِ كَثِيرٍ مِنْ حَمَاقَاتِهِمْ لِمَا تَمَكَّنَ فِي نَفْسِهِ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوْءِ مِنْ حُبِّ الرِّيَاسَةِ وَحُبِّ الْإِغْرَابِ عَلَى النَّاسِ بِمَا يَنْبَهِمُ عَلَى كَثِيرٍ مِنْهُمُ مِنْ عِبَارَاتٍ وَاصْطِلَاحَاتٍ يُؤْهِمُهُمْ أَنَّ تَحْتَهَا عُلُوْمًا دَقِيقَةً نَفِيسَةً، وَلَيْسَ تَحْتَهَا إِلَّا التَّخْلِيطُ وَالْهَوْسُ وَالْكُفْرُ الَّذِي لَا يَرْضَى أَنْ يَقُوْلَهُ عَاقِلُ.
Sungguh sebagian orang telah terlalaikan, sehingga Anda lihat ia memuliakan kalam kaum filosuf terlaknat, memuliakan kitab-kitab yang ditulis untuk mengutip berbagai karena kebodohan mereka cinta pangkat dan keunikan menggungguli orang lain dengan berbagai ungkapan dan istilah yang samar bagi kebanyakan orang, yang mengesankan bagi mereka bahwa di bawahnya terdapat ilmu-ilmu yang mendalam dan bagus, padahal kenyataannya hanya pencampuradukan, kegilaan, dan kekufuran yang orang berakal tidak sudi mengucapkannya.

 وَرُبَّمَا يُؤْثِرُ بَعْضُ الْحَمْقَى هَوْسَهُمْ عَلَى الْاشْتِغَالِ بِمَا يُعِينُهُ مِنَ التَّفَقُهِ فِي أُصُولِ الدِّيْنِ وَفُرُوعِهِ عَلَى طَرِيقِ السَّلَفِ الصَّالِحِ وَالْعَمَلُ بِذَلِكَ، وَيَرَى هَذَا الْخَبِيثَ لِانْطِمَاسِ بَصِيرَتِهِ وَطَرْدِهِ عَنْ بَابٍ فَضْلِ اللَّهِ تَعَالَى إِلَى بَابِ غَضَبِهِ أَنَّ الْمُشْتَغِلِينَ بِالتَّفَقُهِ فِي دِيْنِ اللَّهِ تَعَالَى الْعَظِيمِ الْفَوَائِدِ دُنْيَا وَأُخْرَى بَلَدَاءَ الطَّبْعِ نَاقِصُو الذُّكَاءِ.
Terkadang sebagian orang bodoh memprioritaskan mempelajari kegila- an kaum filosuf daripada menyibukkan diri dengan mempelajari ushul dan furu' ad-din sesuai metode kaum as-Salaf ash-Shalih dan mengamalkannya, yang ber- manfaat baginya. Karena terhapusnya mata hati dan terlempar- nya dari pintu anugerah Allah Ta'ala ke pintu murka-Nya. Orang bodoh yang keji ini menganggap orang-orang yang fokus memelajari agama Allah Ta'ala yang besar manfaatnya di dunia dan akhirat, sebagai orang-orang berwatak bodoh dan kurang cerdas.


فَمَا أَجْهَلَ هَذَا الْخَبِيْتَ وَأَقْبَحَ سَرِيْرَتَهُ وَأَعْمَى قَلْبَهُ حَتَّى رَأَى الظُّلْمَةَ نُوْرًا وَالنُّوْرَ ظُلْمَةً. وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، أُولَئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوْبَهُمْ، لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ، سَمَّاعُوْنَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُوْنَ لِلسُّحْتِ
Sungguh bodoh, sungguh keji dan sungguh buta hatinya, sampai ia melihat kegelapan sebagai cahaya dan melihat cahaya sebagai kegelapan. Orang yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu (Muhammad Shalallahu'Alaihi Wasallam) tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) dari- Nya. Mereka adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hatinya. Bagi mereka kehinaan di dunia dan akhirat. Bagi mereka siksaan yang besar. Mere- ka adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong dan banyak memakan harta haram...

  نَسْأَلُهُ سُبْحَانَهُ أَنْ يُعَامِلَنَا وَيُعَامِلَ جَمِيعَ أَحِبَّتِنَا إِلَى الْمَمَاتِ بِمَحْضِ فَضْلِهِ، وَأَنْ يَلْطَفَ بِجَمِيعِ الْمُؤْمِنِينَ، وَيَقِيْهِمْ فِي هَذَا الزَّمَانِ الصَّعْبِ مَوَارِدَ الْفِتَنِ بِجُوْدِهِ وَكَرَمِهِ بِجَاهِ أَشْرَفِ الْخَلْقِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم .
Aku memohon kepada Allah SWT agar la menjagaku dan orang- orang yang mencintaiku sampai mati dengan kemurnian anuge- rahnya, dan agar mengasihi semua mukminin, dan menjaga mereka di zaman yang penuh kesulitan ini dari datangnya berbagai fitnah, dengan kemurahan dan keder- mawanan-Nya, dengan lantaran derajat manusia termulia, Sayyidi- na wa Maulana Muhammad Shalallahu'Alaihi Wasallam 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terjemah kitab matan taqrib pembahasan tentang hukum-hukum shalat

كِتَابُ الصَّلَاةِ  Pembahasan shalat  Shalat-shalat yang diwajibkan  الصَّلَاةُ الْمَفْرُوْضَةُ خَمْسٌ: Shalat yang diwajibkan itu ada 5.yaitu:  (۱) الظَّهْرُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهَا زَوَالُ الشَّمْسِ، وَآخِرُهُ إِذَا صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ بَعْدَ ظِلَّ الزَّوَال.  1. Zhuhur,  waktu salat zhuhur mulai setelah lewat rembang matahari (setelah matahari tergelincir ke arah barat). Dan akhir waktunya adalah ketika bayang- bayang sebuah benda telah sama panjangnya dengan benda itu, sesudah matahari lewat rembang. (۲) وَالْعَصْرُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهَا الزَّيَادَةُ عَلَى ظِلَّ الْمِثْلِ، وَآخِرُهُ في الاخْتِيَارِ إِلَى ظِلَّ الْمِثْلَيْنِ وَفِي الْجَوَازِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ  2. Ashar,  waktu salat ashar dimulai setelah bayang-bayang sebuah benda yang sama dengan benda aslinya tadi bertambah panjang. Dan akhir waktunya menurut waktu Ikhtiar (waktu yang menjadi pilihan untuk menger- jakan salat sebelum masuk pada bagian waktu berikutnya) adalah...

Terjemah kitab mutammimah tentang bab kalam

               بَابُ الكلام          Bab Kalam     الكلامُ هُوَ  اللفظ المُرَكَّبُ الْمُفِيدُ بالوضع kalam adalah satu lafazd yang murakkab yang memberi faedah dengan waza'(sengaja)/bahasa arab Keterangan : • Lafadz adalah suara yang mengandung sebagian huruf Hijaiyah (huruf huruf Arab yang diawali dari alif sampai ya'). Contoh: زَيْدُ dan قَائِمُ  • Murokkab adalah lafadz yang tersusun dari dua kalimat atau lebih dengan susunan isnadi (penisbatan atau penyandaran hukum yang menjadikan kesempurnaan faidah). Contoh: زَيْدُ قَائِمٌ )Zaid orang yang berdiri( أنا قائم )Saya orang yang berdiri • Mufid adalah ungkapan berfaidah yang dapat memberikan pemahaman sehingga tidak membutuhkan pertanyaan dari orang yang mendengarkan. Contoh: زَيْدُ قَائِمٌ )Zaid orang yang berdiri( • Wad'i menurut sebagian ulama' nahwu adalah berbahasa Arab, dan menurut ulama' yang lain wad'i adalah disengaja oleh orang yang men...

Terjemah kitab matammimah tentang isem alam

    _________________________________________ Note:⚠️ Bila antum menemukan kesalahan dalam penulisan maka sangat diharapkan untuk mengomentari nya, Syukran kasiran ____________________________________________   فَصْلٌ فِي بَيَانِ الإِسْمِ الْعَلَمِ Fasal Tentang Isim Alam الْعَلَمُ نَوْعَانِ: شَخْصِيٌّ وَهُوَ مَا وُضِعَ لِشَيْءٍ بِعَيْنِهِ لَا يَتَنَاوَلُ غَيْرُهُ كَزَيْدٍ وَفَاطِمَةَ وَمَكَّةَ وَشَدْقَمٍ وَقَرَنٍ. Isim alam ada dua. Yaitu: 1. Alam syakhs, ialah alam yang diletakkan (dicetak) untuk sesuatu yang sudah nyata (individu) dan tidak mencakup yang lainnya.  Contoh: زَيْدٍ - فَاطِمَةَ - مَكَّةَ - شَدْقَم - قَرَنٍ  وَجِنْسِيٌّ وَهُوَ مَا وُضِعَ لِجِنْسِ مِنَ الْأَجْنَاسِ كَأَسَامَةَ لِلْأَشَدِ وَثُعَالَةَ لِلتَّعْلَبِ وَذُؤَالَةَ لِلذِّئْبِ وَأُمُّ عِرْيَطٍ لِلْعَقْرَبِ. 2. Alam jinis, ialah alam yang diletakkan (dicetak) untuk beberapa jinis.  Contoh: أسامة untuk nama harimau, تُعَالَةَ untuk nama musang, ذُؤَالَةَ untuk srigala, dan أُمُّ عِرْبَط...