blogger
____________________________________________
(فَمِمَّا يَجِبُ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ عِشْرُوْنَ صِفَةٌ)
________________________________________
• Syarh
[ش]
أَشَارَ بِمِنْ التَّبْعِيْضِيَّةِ إِلَى أَنَّ صِفَاتِ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ الْوَاجِبَةَ لَهُ لَا تَنْحَصِرُ فِي هَذِهِ الْعِشْرِينَ، إِذْ كَمَالَاتُهُ تَعَالَى لَا نِهَايَةً لَهَا، لَكِنْ الْعَجْرُ عَنْ مَعْرِفَةِ مَا لَمْ يَنْصُبْ عَلَيْهِ دَلِيلٌ عَقْلِي وَلَا نَقْلِيُّ لَا نُؤَاخَذُ بِهِ بِفَضْلِ اللَّهِ تَعَالَى.
Kitab Asal berisyarat dengan huruf من tabidiyah untuk menunjukkan, bahwa sifat-sifat Allah-Jalla wa 'Azza-tidak terbatas pada 20 sifat ini, sebab kesempurnaan-Nya tidak terbatas, namun ketidakmampuan mengetahui sifat-sifat yang tidak terjelaskan oleh dalil 'aqli dan naqli membuat kita tidak disiksa karenanya, berkat anugerah Allah Ta'ala.
________________________________________
(ص)
Syarh
[ش]
مَعْنَاهُ ظَاهِرُ، وَفِي عَدَّ الْوُجُودِ صِفَةً عَلَى مَذْهَبِ الشَّيْخِ الْأَشْعَرِي تَسَامُحُ، لِأَنَّهُ عِنْدَهُ عَيْنُ النَّاتِ وَلَيْسَ بِزَائِدٍ عَلَيْهَا، وَالذَّاتُ لَيْسَتْ بصفةٍ، لَكِنْ لَمَا كَانَ الْوُجُودُ تُوْصَفُ بِهِ الذَّاتُ فِي اللَّفْظِ فَيُقَالُ ذَاتُ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ مَوْجُوْدَةً، صَحٌ أَنْ يُعَدَّ صِفَةً عَلَى الْجُمْلَةِ.
Maknanya jelas, namun dalam menghitung wujud sebagai suatu sifat berdasarkan madzhab as- Syaikh Abu al-Hasan al-Asy'ari merupakan tasamuh (majaz). Sebab menurutnya, wujud merupakan Zat Allah itu sendiri, bukan selainnya, dan Zat Allah bukanlah suatu sifat. Namun ketika dalam pelafalan wujud dijadikan sifat bagi Zat Allah, dan dikatakan: "Zat Allah-Jalla wa 'Azza-itu maujud", maka secara umum wujud sah dihitung sebagai suatu sifat.
وَأَمَّا عَلَى مَذْهَبِ مَنْ جَعَلَ الْوُجُوْدَ زَائِدًا عَلَى الذَّاتِ كَالْإِمَامِ الرَّازِيِّ فَعَدُّهُ مِنَ الصَّفَاتِ صَحِيحُ لَا تَسَامُحَ فِيهِ.
Adapun menurut madzhab ulama yang menjadikan wujud sebagai sesuatu yang bukan Zat Allah, sebagaimana Imam ar-Razi, maka menghitungnya sebagai bagian dari sifat-sifat Allah adalah benar dan tidak ada tasamuh di dalamnya.
وَمِنْهُمْ مَنْ جَعَلَهُ زَائِدًا عَلَى الذَّاتِ في الحادِثِ دُوْنَ الْقَدِيمِ، وَهُوَ مَذْهَبُ الْفَلَاسِفَةِ.
Sebagian ulama ada yang menjadikan wujud sebagai sesuatu yang bukan Zat Allah pada masa hadits, bukan masa qadim. Ini madzhab kaum filosof2. Qidam
3. Baqa
4. Mukhalafah li al-Hawadits
5. Qiyamuhu bi Nafsih
6. Wahdaniyyah
SIFAT WAJIB BAGI ALLAH
____________________________________________
(فَمِمَّا يَجِبُ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ عِشْرُوْنَ صِفَةٌ)
Di antara yang wajib dimiliki Allah - Jalla wa AZZA adalah 20 sifat.
________________________________________• Syarh
[ش]
أَشَارَ بِمِنْ التَّبْعِيْضِيَّةِ إِلَى أَنَّ صِفَاتِ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ الْوَاجِبَةَ لَهُ لَا تَنْحَصِرُ فِي هَذِهِ الْعِشْرِينَ، إِذْ كَمَالَاتُهُ تَعَالَى لَا نِهَايَةً لَهَا، لَكِنْ الْعَجْرُ عَنْ مَعْرِفَةِ مَا لَمْ يَنْصُبْ عَلَيْهِ دَلِيلٌ عَقْلِي وَلَا نَقْلِيُّ لَا نُؤَاخَذُ بِهِ بِفَضْلِ اللَّهِ تَعَالَى.
Kitab Asal berisyarat dengan huruf من tabidiyah untuk menunjukkan, bahwa sifat-sifat Allah-Jalla wa 'Azza-tidak terbatas pada 20 sifat ini, sebab kesempurnaan-Nya tidak terbatas, namun ketidakmampuan mengetahui sifat-sifat yang tidak terjelaskan oleh dalil 'aqli dan naqli membuat kita tidak disiksa karenanya, berkat anugerah Allah Ta'ala.
________________________________________
1. Wujud
(ص)
(وَهِيَ الْوُجُودُ)
Yaitu:(1)wujud
______________________________________Syarh
[ش]
مَعْنَاهُ ظَاهِرُ، وَفِي عَدَّ الْوُجُودِ صِفَةً عَلَى مَذْهَبِ الشَّيْخِ الْأَشْعَرِي تَسَامُحُ، لِأَنَّهُ عِنْدَهُ عَيْنُ النَّاتِ وَلَيْسَ بِزَائِدٍ عَلَيْهَا، وَالذَّاتُ لَيْسَتْ بصفةٍ، لَكِنْ لَمَا كَانَ الْوُجُودُ تُوْصَفُ بِهِ الذَّاتُ فِي اللَّفْظِ فَيُقَالُ ذَاتُ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ مَوْجُوْدَةً، صَحٌ أَنْ يُعَدَّ صِفَةً عَلَى الْجُمْلَةِ.
Maknanya jelas, namun dalam menghitung wujud sebagai suatu sifat berdasarkan madzhab as- Syaikh Abu al-Hasan al-Asy'ari merupakan tasamuh (majaz). Sebab menurutnya, wujud merupakan Zat Allah itu sendiri, bukan selainnya, dan Zat Allah bukanlah suatu sifat. Namun ketika dalam pelafalan wujud dijadikan sifat bagi Zat Allah, dan dikatakan: "Zat Allah-Jalla wa 'Azza-itu maujud", maka secara umum wujud sah dihitung sebagai suatu sifat.
وَأَمَّا عَلَى مَذْهَبِ مَنْ جَعَلَ الْوُجُوْدَ زَائِدًا عَلَى الذَّاتِ كَالْإِمَامِ الرَّازِيِّ فَعَدُّهُ مِنَ الصَّفَاتِ صَحِيحُ لَا تَسَامُحَ فِيهِ.
Adapun menurut madzhab ulama yang menjadikan wujud sebagai sesuatu yang bukan Zat Allah, sebagaimana Imam ar-Razi, maka menghitungnya sebagai bagian dari sifat-sifat Allah adalah benar dan tidak ada tasamuh di dalamnya.
وَمِنْهُمْ مَنْ جَعَلَهُ زَائِدًا عَلَى الذَّاتِ في الحادِثِ دُوْنَ الْقَدِيمِ، وَهُوَ مَذْهَبُ الْفَلَاسِفَةِ.
Sebagian ulama ada yang menjadikan wujud sebagai sesuatu yang bukan Zat Allah pada masa hadits, bukan masa qadim. Ini madzhab kaum filosof

Komentar
Posting Komentar