Langsung ke konten utama

Ilmu tauhid Terjemah kitab Ummul barahin imam As-Sanusi tentang sifat yang wajib pada Allah

blogger




SIFAT WAJIB BAGI ALLAH 

____________________________________________

 (فَمِمَّا يَجِبُ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ عِشْرُوْنَ صِفَةٌ) 
Di antara yang wajib dimiliki Allah - Jalla wa AZZA adalah 20 sifat.

 ________________________________________
Syarh 
[ش] 
أَشَارَ بِمِنْ التَّبْعِيْضِيَّةِ إِلَى أَنَّ صِفَاتِ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ الْوَاجِبَةَ لَهُ لَا تَنْحَصِرُ فِي هَذِهِ الْعِشْرِينَ، إِذْ كَمَالَاتُهُ تَعَالَى لَا نِهَايَةً لَهَا، لَكِنْ الْعَجْرُ عَنْ مَعْرِفَةِ مَا لَمْ يَنْصُبْ عَلَيْهِ دَلِيلٌ عَقْلِي وَلَا نَقْلِيُّ لَا نُؤَاخَذُ بِهِ بِفَضْلِ اللَّهِ تَعَالَى.
Kitab Asal berisyarat dengan huruf من tabidiyah untuk menunjukkan, bahwa sifat-sifat Allah-Jalla wa 'Azza-tidak terbatas pada 20 sifat ini, sebab kesempurnaan-Nya tidak terbatas, namun ketidakmampuan mengetahui sifat-sifat yang tidak terjelaskan oleh dalil 'aqli dan naqli membuat kita tidak disiksa karenanya, berkat anugerah Allah Ta'ala.
________________________________________

 1. Wujud

(ص)
(وَهِيَ الْوُجُودُ) 

Yaitu:(1)wujud

______________________________________
Syarh
 [ش]
 مَعْنَاهُ ظَاهِرُ، وَفِي عَدَّ الْوُجُودِ صِفَةً عَلَى مَذْهَبِ الشَّيْخِ الْأَشْعَرِي تَسَامُحُ، لِأَنَّهُ عِنْدَهُ عَيْنُ النَّاتِ وَلَيْسَ بِزَائِدٍ عَلَيْهَا، وَالذَّاتُ لَيْسَتْ بصفةٍ، لَكِنْ لَمَا كَانَ الْوُجُودُ تُوْصَفُ بِهِ الذَّاتُ فِي اللَّفْظِ فَيُقَالُ ذَاتُ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ مَوْجُوْدَةً، صَحٌ أَنْ يُعَدَّ صِفَةً عَلَى الْجُمْلَةِ.
Maknanya jelas, namun dalam menghitung wujud sebagai suatu sifat berdasarkan madzhab as- Syaikh Abu al-Hasan al-Asy'ari merupakan tasamuh (majaz). Sebab menurutnya, wujud merupakan Zat Allah itu sendiri, bukan selainnya, dan Zat Allah bukanlah suatu sifat. Namun ketika dalam pelafalan wujud dijadikan sifat bagi Zat Allah, dan dikatakan: "Zat Allah-Jalla wa 'Azza-itu maujud", maka secara umum wujud sah dihitung sebagai suatu sifat.
 وَأَمَّا عَلَى مَذْهَبِ مَنْ جَعَلَ الْوُجُوْدَ زَائِدًا عَلَى الذَّاتِ كَالْإِمَامِ الرَّازِيِّ فَعَدُّهُ مِنَ الصَّفَاتِ صَحِيحُ لَا تَسَامُحَ فِيهِ.
Adapun menurut madzhab ulama yang menjadikan wujud sebagai sesuatu yang bukan Zat Allah, sebagaimana Imam ar-Razi, maka menghitungnya sebagai bagian dari sifat-sifat Allah adalah benar dan tidak ada tasamuh di dalamnya.
 وَمِنْهُمْ مَنْ جَعَلَهُ زَائِدًا عَلَى الذَّاتِ في الحادِثِ دُوْنَ الْقَدِيمِ، وَهُوَ مَذْهَبُ الْفَلَاسِفَةِ.
Sebagian ulama ada yang menjadikan wujud sebagai sesuatu yang bukan Zat Allah pada masa hadits, bukan masa qadim. Ini madzhab kaum filosof 

________________________________________

2. Qidam 
(ص)
 (وَالْقِدَمُ)
(2).Qidam

________________________________________

Syarh


[ش]
الْأَصَحُ أَنَّ الْقِدَمَ صِفَةٌ سَلْبِيَّةٌ، أَيْ لَيْسَتْ بِمَعْنَى
 مَوْجُودٍ فِي نَفْسِهَا كَالْعِلْمِ مَثَلًا، وَإِنَّمَا هُوَ عِبَارَةً عَنْ سَلْبِ الْعَدَمِ السَّابِقِ عَلَى الْوُجُودِ، وَإِنْ شِئْتَ قُلْتَ: هُوَ عِبَارَةٌ عَنْ عَدَمِ الْأَوَّلِيَّةِ لِلْوُجُودِ، وَإِنْ شِئْتَ قُلْتَ: هُوَ عِبَارَةٌ عَنْ عَدَمِ افْتِتَاحِ الْوُجُودِ، وَالْعِبَارَاتُ الثَّلَاثُ بِمَعْنَى وَاحِدٍ.


Pendapat al-Ashah menyatakan, bahwa qidam adalah sifat salbiyah. Maksudnya tidak ada makna yang maujud padanya, seperti sifat ilmu misalnya. Qidam hanya merupakan ungkapan untuk menafikan sifat 'adam (tiada) yang mendahului wujud. Bila mau Anda dapat mengatakan: "Qidam merupakan ungkapan dari tidak adanya permulaan bagi wujud Allah." Bisa pula Anda katakan: "Qidam merupakan ungkapan dari tidak adanya pembukaan wujud." Ketiga ungkapan tersebut satu makna.


 هَذَا مَعْنَى الْقِدَمِ فِي حَقَّهِ تَعَالَى بِاعْتِبَارِ ذَاتِهِ الْعَلِيَّةِ وَصِفَاتِهِ الْجَلِيلَةِ السنية.


Inilah makna qidam bagi Allah Ta'ala dengan memertimbangkan Zat-Nya Yang Maha Tinggi dan Sifat-sifat-Nya Yang Maha Agung dan Maha Luhur.


 وَأَمَّا مَعْنَاهُ إِذَا أُطْلِقَ فِي حَقَّ الْحَادِثِ كَمَا إِذَا قُلْتَ مَثَلًا: هَذَا بِنَاءً قَدِيمٌ وَعُرْجُوْنُ قَدِيمٌ ، فَهُوَ عِبَارَةٌ عَنْ طُوْلِ مُدَّةِ وُجُوْدِهِ، وَإِنْ كَانَ حَادِثًا مَسْبُوْقًا بِالْعَدَمِ كَمَا فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: إِنَّكَ لَفِي ضَلَالِكَ الْقَدِيمِ، وَقَوْلِهِ تَعَالَى: كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيمِ".


Adapun maknanya ketika diucapkan untuk sesuatu yang hadits, sebagaimana saat Anda berkata misalnya: "Ini adalah bangunan yang qadim, dan tandan yang qadim", maka qadim merupakan ungkapan dari lamanya waktu wujudnya dalam kondisi bila sesuatu itu bersifat hadits dan didahului oleh ketiadaan, sebagaimana dalam firman Allah Ta'ala: "Sungguh Kamu niscaya dalam kesesatanmu yang lama", dan firman Allah SWT: "Seperti tandan yang tua."


 وَالْقِدَمُ بِهَذَا الْمَعْنَى عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مُحالٌ ، لِأَنَّ وُجُوْدَهُ جَلَّ وَعَزَّ لَا يُتَقَيَّدُ بِزَمَانٍ وَلَا مَكَانٍ لِحُدُوْثِ كُلِّ مِنْهُمَا، فَلَا يُتَقَيَّدُ بِوَاحِدٍ مِنْهُمَا إِلَّا مَا هُوَ حَادِثُ مِثْلُهَا.


Qidam dengan makna semacam ini mustahil bagi Allah Ta'ala, sebab wujud-Nya-Jalla wa Azza-tidak terbatasi dengan zaman dan tempat karena sifat huduts keduanya. Sebab itu, tidak terbatasi dengan keduanya kecuali sesuatu yang hadist yang sama dengannya.


 وَهَلْ يَجُوْزُ أَنْ يَتَلَفَّظَ بِلَفْظِ الْقَدِيمِ فِي حَقَّهِ تَعَالَى، فَيُقَالُ هُوَ جَلَّ وَعَزَّ قَدِيمُ، لِأَنَّ مَعْنَاهُ وَاجِبٌ لَهُ جَلَّ وَعَزَّ عَقْلًا وَنَقْلًا، أَوْ لَا يَتَلَفَّظُ بِذلِكَ؟ 


Apakah boleh melafalkan kata qadim bagi Allah Ta'ala, sehingga dikatakan Allah-Jalla wa 'Azza- adalah Zat Yang Qidam, karena maknanya adalah wajib bagi-Nya- Jalla wa 'Azza-secara akal dan naql, atau tidak boleh melafalkannya?


وَإِنَّمَا يُقَالُ يَجِبُ لَهُ تَعَالَى الْقِدَمُ أَوْ نَحْوُ هَذَا مِنَ الْعِبَارَاتِ، وَلَا يُطْلَقُ عَلَيْهِ فِي اللَّفْظِ اسْمُ الْقَدِيمِ، لِأَنَّ أَسْمَاءَهُ جَلَّ وَعَزَّ تَوْقِيفِيَّةٌ؟ 


Yang boleh diucapkan hanya: "Wajib bagi Allah Ta'ala sifat qidam?", atau ungkapan semisalnya; dan tidak boleh diucapkan bagi-Nya nama al- Qadim, sebab Asma Allah-Jalla wa 'Azza-bersifat tauqifi.


هَذَا مِمَّا يَتَرَدَّدُ فِيْهِ بَعْضُ الْأَشْيَاخِ،لَكِنْ قَالَ الْعِرَاقِيُّ فِي شَرْحِ أُصُولِ السُّبْكِي: عَدَّهُ الْحَلِيمِيِّ فِي الْأَسْمَاءِ، وَقَالَ: لَمْ يَرِدْ فِي الْكِتَابِ نَا، وَإِنَّمَا وَرَدَ فِي السُّنَّةِ، قَالَ الْعِرَاقِيُّ: وَأَشَارَ بِذَلِكَ إِلَى مَا رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهِ فِي سُنَنِهِ مِنْ حَدِيْثِ أَبِي هُرَيْرَةَ ،، στ وَفِيهِ عَدُّ الْقَدِيمِ مِنَ التَّسْعَةِ وَالتَّسْعِينَ.


Ini termasuk permasalahan yang diperselisihkan oleh sebagian para Masyayikh. Namun dalam Syarh Ushul as-Subki, al-'Iraqi mengatakan: "Al-Halimi menyebut al-Qadim dalam Asma' Allah, dan ia berkata: "Al-Qadim tidak ada nashnya dalam al-Qur'an, hanya ada dalam as-Sunnah." Imam al- 'Iraqi mengatakan: "Dengan ungkapan itu al-Halimi memberi isyarat pada hadits riwayat Ibn Majah dalam Sunannya dari hadits Abu Hurairah Ra., yang di dalamnya terdapat penyebutan nama al- Qadim dari 99 Asma'Allah."

________________________________________

3. Baqa 
[ص] (وَالْبَقَاءُ) 
(3).Baqa(abadi)

________________________________________

Syarh


[ش] 

هُوَ عِبَارَةٌ عَنْ سَلْبِ الْعَدَمِ اللَّاحِقِ لِلْوُجُودِ، وَإِنْ شِئْتَ قُلْتَ: هُوَ عِبَارَةٌ عَنْ عَدَمِ الْآخِرِيَّةِ لِلْوُجُودِ، وَالْعِبَارَتَانِ بِمَعْنَى وَاحِدٍ.


Yaitu merupakan ungkapan dari menafikan ketiadaan yang terjadi setelah wujud. Bila mau dapat mengatakan: Anda "Baqa merupakan ungkapan dari tidak adanya batas akhir bagi wujud Allah." Kedua ungkapan ini satu makna.


وَبَعْضُ الْأَئِمَّةِ يَقُوْلُ مَعْنَى الْبَقَاءِ فِي حَقَّهِ تَعَالَى اسْتِمْرَارُ الْوُجُودِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ إِلَى غَيْرِ نِهَايَةٍ كَمَا أَنَّ مَعْنَى الْقِدَمِ فِي حَقَّهِ تَعَالَى اسْتِمْرَارُ الْوُجُودِ فِي الْمَاضِي إِلَى غَيْرِ نِهَايَةٍ. 


Sebagian Imam mengatakan, bahwa makna Baqa bagi Allah Ta'ala adalah terus-menerusnya wujud Allah pada masa mendatang tanpa batas, sebagaimana makna qidam bagi Allah Ta'ala adalah terus- menerusnya wujud Allah pada masa lalu tanpa batas awal.


وَكَأَنَّ هَذِهِ الْعِبَارَةَ يَجْنَحُ قَائِلُهَا إِلَى أَنَّ الْقِدَمَ وَالْبَقَاءَ صِفَتَانِ نَفْسِيَّتَانِ، لِأَنَّهُمَا عِنْدَهُ الْوُجُودُ الْمُسْتَمِرُّ فِي الْمَاضِي وَالْمُسْتَقْبَلِ، وَالْوُجُودُ نَفْسِي لِعَدَمٍ تَحَقِّقِاتِ بِدُوْنِهِ. وَهَذَا الْمَذْهَبُ ضَعِيفٌ، لِأَنَّهُمَا لَوْ كَانَتَا نَفْسِيَّتَيْنِ لَزِمَ أَنْ لَا تُعْقَلَ اتُ بِدُوْنِهِمَا وَذَلِكَ بَاطِلُ بِدَلِيْلِ أَنَّ الذَّاتِ يُعْقَلُ وُجُوْدُهَا، ثُمَّ يُطْلَبُ الْبُرْهَانُ عَلَى وُجُوْبِ قِدَمِهَا وَبَقَائِهَاالذَّاتِ.


Seolah-olah ungkapan ini mengesankan pengucapnya beranggapan, bahwa qidam dan baqa' merupakan sifat nafsiyah. Sebab menurutnya keduanya merupakan wujud yang terus- menerus di masa lalu dan masa mendatang, dan wujud adalah sifat nafsiyah karena tanpanya zat tidak akan nyata. Pendapat ini lemah, sebab bila keduanya merupakan sifat nafsiyah, maka memastikan bahwa tidak dapat diterima akal wujudnya Zat tanpa keduanya. Hal tersebut bathil dengan argumen, bahwa wujud zat (tanpa keduanya) bisa diterima akal, kemudian baru dicari bukti atas wajibnya qidam dan baqa nya.


 وَشَدَّ قَوْمٌ فَقَالُوا: إِنَّ الْقِدَمَ وَالْبَقَاءَ صِفَتَانِ مَوْجُوْدَتَانِ تَقُوْمَانِ بالذَّاتِ كَالْعِلْمِ وَالْقُدْرَةِ، وَلَا يَخْفَى ضُعْفُهُ، لِأَنَّهُ يَلْزَمُ عَلَيْهِ أَنْ يَكُوْنَا قَدِيمَيْنِ أَيْضًا بِقِدَمٍ آخَرَ مَوْجُوْدٍ، وَبَاقِيَيْنِ أَيْضًا بِبَقَاءِ آخَرَ مَوْجُودٍ، ثُمَّ يَنْتَقِلُ الْكَلَامُ إِلَى هَذَا الْقِدَمِ الْآخَرِ وَهَذَا الْبَقَاءُ الْآخَرُ، فَيَلْزَمُ فِيْهِمَا مَا لَزِمَ فِي الْأَوَّلَيْنِ، وَيَلْزَمُ التَّسَلْسُلُ.


Ada segolongan orang yang menyimpang. Mereka berpenda- pat, bahwa qidam dan baqa merupakan sifat yang wujud yang ada pada Zat Allah, seperti ilmu dan qudrah. Tidak samar lagi kelemahan pendapat ini, sebab memastikan bahwa keduanya juga bersifat qadim karena sifat qidam lain yang wujud (sebagaimana ilmu dan qudrah), dan bersifat juga baqa karena sifat baqa' lain yang wujud (sebagaimana ilmu dan qudrah), kemudian pembahasannya beralih pada: ini adalah qidam dan baqa'lain, maka dalam keduanya terdapat kelaziman yang ada qidam dan baqa yang pertama dan menetapkan tasalsul.


 وَأَضْعَفُ مِنْ هَذَا الْقَوْلِ قَوْلُ مَنْ فَرَّقَ وَقَالَ: الْقِدَمُ سَلْبِيُّ وَالْبَقَاءُ وُجُودِي. 


Yang lebih lemah dari pendapat ini adalah pendapat orang yang membedakan antara qidam dan baqa la menyatakan bahwa qidam adalah sifat salbiyah dan baqa adalah sifat wujudiyah.


وَالْحَقُّ الَّذِي عَلَيْهِ الْمُحَقِّقُوْنَ أَنَّهُمَا صِفَتَانِ سَلْبِيَّتَانِ، أَيْ كُلُّ مِنْهُمَا عِبَارَةٌ عَنْ سَلْبٍ مَعْنَى لَا يَلِيقُ بِهِ تَعَالَى، وَلَيْسَ لَهُمَا مَعْنَى مَوْجُودُ فِي الْخَارِجِ عَنِ الذَّهْنِ.


Pemahaman yang benar yang dipedomani ulama muhaqqiqun adalah keduanya merupakan sifat salbiyah. Maksudnya masing- masing dari keduanya merupakan ungkapan dari menafikan makna yang tidak pantas bagi Allah Ta'ala, dan keduanya tidak mempunyai makna yang maujud dalam kenyataan (dapat dilihat secara kasat mata) dari hati.

________________________________________

4. Mukhalafah li al-Hawadits
 [ص] ( وَمُخَالَفَتُهُ تَعَالَى لِلْحَوَادِثِ) 
(4) Mukhalafatuhu Ta'ala li al-Hawadits (berbeda dengan semua makhluk). 

________________________________________

• Syarh 


[ش] أَيْ لَا يُمَائِلُهُ تَعَالَى شَيْءٌ مِنْهَا مُطْلَقًا، لَا فِي النَّاتِ وَلَا فِي الصَّفَاتِ وَلَا فِي الْأَفْعَالِ. 


Maksudnya tidak ada satupun makhluk yang menyamai Allah Ta'ala secara mutlak, tidak sama dalam zat, sifat, maupun perbuatannya.


قَالَ اللهُ تَعَالَى: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ


Allah Ta'ala berfirman: "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat."


 فَأَوَّلُ هَذِهِ الْآيَةِ تَنْزِيهُ وَآخِرُهَا إِثْبَاتٌ، فَصَدْرُهَا يَرُدُّ عَلَى الْمُجَسِّمَةِ وَأَضْرَابِهِمْ، وَعَجْرُهَا يَرُدُّ عَلَى الْمُعَطِلَةِ النَّافِينَ لِجَمِيعِ الصَّفَاتِ. 


Bagian awal ayat ini merupakan tanzih (penyucian Allah dari menyerupai mahluk), dan bagian akhirnya menetapkan (sifat Maha Mendengar dan Maha Melihat bagi Allah). Maka bagian awalnya me- nolak kaum Mujassimah dan berba- gai variannya, dan bagian akhirnya menolak kaum Mu'aththilah yang menafikan seluruh sifat-sifat Allah.


وَحِكْمَةُ تَقْدِيمِ التَّنْزِيهِ فِي الْآيَةِ وَإِنْ كَانَ مِنْ بَابِ تَقْدِيمِ السَّلْبِ عَلَى الْإِثْبَاتِ، وَإِنْ كَانَ الْأَوْلَى فِي كَثِيرٍ مِنَ الْمَوَاطِنِ الْعَكْسَ، أَنَّهُ لَوْ بَدَأَ بِالسَّمْعِ وَالْبَصَرِ لَأَوْهَمَ التَّشْبِيْةَ، إِذِ الَّذِي يُؤَلِّفُ فِي السَّمْعِ أَنَّهُ بِأُذُنِ، وَفِي الْبَصَرِ أَنَّهُ بِحَدْقَةٍ، وَأَنَّ كُلَّا مِنْهُمَا إِنَّمَا يَتَعَلَّقُ فِي الشَّاهِدِ بِبَعْضِ الْمَوْجُوْدَاتِ دُوْنَ بَعْضٍ، وَعَلَى صِفَةٍ مَخْصُوْصَةٍ مِنْ عَدَمِ الْبُعْدِ جِدًّا وَنَحْوِ ذَلِكَ.


Hikmah mendahulukan tanzih pada ayat tersebut-meskipun termasuk mendahulukan penafian daripada penetapan, meskipun yang lebih utama dalam beberapa tempat adalah sebaliknya-adalah andaikan al-Qur'an memulai dengan menyebutkan sifat men- dengar dan melihat, niscaya akan mengesankan keserupaan Allah terhadap makhluk. Sebab yang segera dipahami dalam sifat mendengar adalah mendengar dengan telinga, dan dalam sifat melihat adalah melihat dengan bola mata, sementara masing-masing dari keduanya dalam hal yang dapat disaksikan hanya berhubungan dengan sebagian makhluk dan tidak berhubungan dengan yang lainnya; dan hanya pada sifat tertentu seperti tidak adanya jarak yang jauh sekali dan semisalnya.


 فَبَدَأَ فِي الْآيَةِ بِالتَّنْزِيْهِ لِيُسْتَفَادَ مِنْهُ نَفْي التَّشْبِيْهِ لَهُ تَعَالَى مُطْلَقًا، حَتَّى فِي السَّمْعِ وَالْبَصَرِ اللَّذَيْنِ ذُكِرَا بَعْدُ، فَإِنَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ لَيْسَا كَسَمْعِ الْخَلَائِقِ وَبَصَرِهِمْ، لِأَنَّ سَمْعَهُ تَعَالَى وَبَصَرَهُ صِفَتَانِ قَائِمَتَانِ بِذَاتِهِ الْعَلِيَّةِ الَّتِي يَسْتَحِيلُ عَلَيْهَا الْجِرْمِيَّةُ وَالْجَارِحَةُ وَلَوَازِمُهُمَا، وَاجِبَتَا الْقِدَمِ وَالْبَقَاءِ مُتُعَلِّقَتَانِ بِكُلِّ مَوْجُوْدٍ قَدِيمًا كَانَ أَوْ حَادِثًا، ذَاتَا كَانَ أَوْ صِفَةً، ظَاهِرًا كَانَ أَوْ بَاطِنًا.


Maka dalam al-Qur'an memulai dengan penyebutan tanzih agar darinya dipahami penafian keserupaan Allah Ta'ala dengan makhluk secara mutlak, sampai pada sifat mendengar dan melihat yang disebutkan setelahnya. Sebab mendengar dan melihatnya Allah tidak seperti mendengar dan melihatnya makhluk, karena mendengar dan melihatnya Allah Ta'ala merupakan sifat yang ada pada Zat-Nya Yang Maha Luhur yang mustahil ada unsur fisik, anggota tubuh, dan berbagai kelazimannya, yang wajib (pasti) qidam dan baqa, yang berhubungan dengan setiap wujud yang bersifat qadim maupun hadits, yang berupa zat maupun sifat; dan lahir maupun batin.

________________________________________

5. Qiyamuhu bi Nafsih 
[ص] 
(وَقِيَامُهُ تَعَالَى بِنَفْسِهِ، أَيْ لَا يَفْتَقِرُ إِلَى مُحَلٍ وَلَا مُخَصِّص) 
(5) Qiyamuhu bi Nafsih (kemandirian Allah dengan Zatnya). 
Maksudnya Ia tidak membutuhkan mahall (zat lain yang menjadi tempat Zat-Nya) dan mukhashhish (zat lain yang mewujudkan-Nya). 

________________________________________

• Syarh


[ ش] 
يَعْنِي أَنَّهُ مِمَّا يَجِبُ لَهُ تَعَالَى أَنْ يَقُوْمَ بِنَفْسِهِ، أَيْ بِذَاتِهِ؛ وَمَعْنَى قِيَامِهِ تَعَالَى بِنَفْسِهِ سَلْبُ افْتِقَارِهِ لِشَيْءٍ مِنَ الْأَشْيَاءِ، فَلَا يَفْتَقِرُ تَعَالَى إِلَى مَحَلَّ، أَيْ ذَاتٍ سوَى ذَاتِهِ، يُوجَدُ فِيهَا كَمَا تُوْجَدُ الصَّفَةُ فِي الْمَوْصُوْفِ، لِأَنَّ ذَلِكَ لَا يَكُوْنُ إِلَّا لِلصَّفَاتِ، وَهُوَ تَعَالَى ذَاتُ مَوْصُوفٍ بِصِفَةٍ وَلَيْسَ جَلَّ وَعَزَّ بِصِفَةٍ كَمَا تَدَّعِيْهِ النَّصَارَى وَمَنْ فِي مَعْنَاهُمْ مِنَ الْبَاطِنِيَّةِ أَهْلَكَ اللَّهُ تَعَالَى جَمِيعَهُمْ وَسَيَأْتِي بُرْهَانُ ذَلِكَ عِنْدَ تَعَرُّضِنَا إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى لِلْبَرَاهِينِ.


Maksudnya, di antara sifat yang wajib bagi Allah Ta'ala adalah Allah mandiri dengan diri-Nya, maksudnya Zat-Nya. Maksud mandirinya Allah Ta'ala dengan Zat-Nya adalah menafikan butuhnya Allah pada sesuatu apapun. Maka Allah Ta'ala tidak membutuhkan pada mahall, yaitu zat selain-Nya dimana Allah wujud di dalamnya, sebagaimana sifat yang wujud pada hal yang disifatinya. Sebab kebutuhan semacam itu hanya untuk sifat, sementara Allah Ta'ala adalah Zat yang disifati dengan suatu sifat. Allah-Jalla wa 'Azza-bukan suatu sifat sebagaimana anggapan orang-orang Nasrani dan sekte Bathiniyah yang sepaham dengan mereka-semoga Allah Ta'ala membinasakan mereka-. Dalilnya akan disebutkan pada penjelasanku tentang berbagai dalil, insyaallah Ta'ala.


وَكَذَا لَا يَفْتَقِرُ تَعَالَى إِلَى مُخَصِّص، أَيْ فَاعِلٍ يُخَصِّصُهُ بِالْوُجُودِ، لَا فِي ذَاتِهِ وَلَا فِي صِفَةٍ مِنْ صِفَاتِهِ لِوُجُوبِ الْقِدَمِ وَالْبَقَاءِ لِذَاتِهِ تَعَالَى وَلِجَمِيعِ صِفَاتِهِ، وَإِنَّمَا يَحْتَاجُ إِلَى الْمُخَصَّصِ ، أَي الْفَاعِلِ، مَنْ يَقْبَلُ الْعَدَمَ، وَمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ لَا يَقْبَلُهُ، فَإِذَا يَسْتَحِيلُ عَلَى مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ الْافْتِقَارُ عُمُومًا.


Begitu pula Allah Ta'ala tidak butuh kepada mukhashshish, yaitu pelaku yang mewujudkannya, tidak butuh dalam zat, dan satu sifat pun dari sifat-sifat-Nya, karena wajibnya qidam dan baqa` bagi Zat Allah Ta'ala dan semua sifat-Nya. Yang butuh kepada mukhashshish adalah zat yang menerima ketiadaan (mungkin menjadi tidak ada), sedangkan Allah-Jalla wa Azza-tidak mungkin menerimanya. Bila demikian, maka secara umum mustahil bagi Allah-Jalla wa 'Azza- membutuhkan zat lain.

وَبِهَذَا تَعْرِفُ أَنَّ مُرَادَنَا بِالْمَحَلَّ فِي أَصْلِ الْعَقِيدَةِ الدَّاتُ، وَمُرَادَنَا بِالْمُخَصِّصِ الْفَاعِلُ. فَبِعَدَمِ افْتِقَارِهِ تَعَالَى إِلَى مَحَلَّ، أَيْ ذَاتٍ أُخْرَى، لَزِمَ أَنَّهُ جَلَّ وَعَزَّ ذَاتُ لَا صِفَةٌ، وَبِعَدَمِ افْتِقَارِهِ تَعَالَى إِلَى مُخَصِّص، أَيْ فَاعِلٍ، لَزِمَ أَنَّ ذَاتَهُ جَلَّ وَعَزَّ لَيْسَتْ كَسَائِرِ الدَّوَاتِ الَّتِي لَا تَفْتَقِرُ هِيَ أَيْضًا إِلَى مَحَلَّ كَالْأَجْرَامِ مَثَلًا، لِأَنَّ هَذِهِ وَإِنْ كَانَتْ مُسْتَغْنِيَةً عَنِ الْمَحَلَّ، أَيْ عَنْ ذَاتٍ تَقُوْمُ بِهَا قِيَامَ الصَّفَةِ بِالْمَوْصُوْفِ، فَهِيَ مُفْتَقِرَةُ ابْتِدَاءً وَدَوَامًا افْتِقَارًا ضَرُوْرِيًا لَا زِمًا إِلَى الْمُخَصِّصِ ، أَي الْفَاعِلِ، وَهُوَ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ، فَإِذَا الْقِيَامُ بِالنَّفْسِ هُوَ عِبَارَةُ عَنِ الْغِنَى الْمُطْلَقِ، وَذَلِكَ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُوْنَ إِلَّا لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ.


Dengan penjelasan ini Anda ketahui, sungguh maksudku dengan kata mahall dalam Kitab Asal, yakni al-'Aqidah, adalah zat; sedangkan maksudku dengan kata mukhashshish adalah fa'il (pelaku yang dengan mewujudkannya). Maka ketidakbutuhan Allah Ta'ala pada mahall, maksudnya zat lain, tetaplah bahwa Allah-Jalla wa Azza-bukan sifat; dan dengan ketidakbutuhan Allah Ta'ala pada mukhashshish, maksudnya fa'il (pelaku yang mewujudkannya), tetaplah bahwa Zat Allah-Jalla wa 'Azza-tidak seperti zat lain yang juga tidak membutuhkan pada mahall seperti berbagai jirm upamanya, meskipun berbagai jirim ini tidak membutuhkan mahall, maksudnya dari zat yang menjadi tempat eksistensinya, sebagaimana eksistensi sifat pada sesuatu yang disifatinya, namun untuk permulaan dan keberlang- sungannya secara pasti membu- tuhkan pada mukhashshish, yakni fa'il, yaitu Allah-Jalla wa 'Azza-. Bila demikian, maka qiyam bi an- nafs merupakan ungkapan dari kemandirian secara mutlak, yang tidak mungkin kecuali bagi Allah- Jalla wa 'Azza-.

قَالَ جَلَّ مِنْ قَائِلٍ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ، وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ. وَقَالَ تَعَالَى: اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ . 


Allah Yang Maha Agung berkata: "Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak membutuhkan sesuatu) lagi Maha Terpuji." Allah berkata pula: "Allah adalah Tuhan yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang dengan-Nya."

فَأَثْبَتَ تَعَالَى بِقَوْلِهِ: اللَّهُ الصَّمَدُ، افْتِقَارَ كُلِّ مَا سِوَاهُ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَزَّ. إِذِ الصَّمَدُ هُوَ الَّذِي يُصْمَدُ إِلَيْهِ فِي الْحَوَائِجِ، أَيْ يُقْصَدُ فِيْهَا، وَمِنْهُ تُسْتَلُ. وَلَا شَكَ أَنَّ كُلَّ مَا سِوَاهُ تَعَالَى صَامِدٌ لَهُ، أَيْ مُفْتَقِرُ إِلَيْهِ ابْتِدَاءً وَدَوَامًا بِلِسَانِ حَالِهِ أَوْ بِلِسَانِ مَقَالِهِ أَوْ بِهِمَا مَعًا.


Dengan firman-Nya: الله الصَّمَدُ Allah menetapkan butuhnya selain Allah kepada-Nya-Jalla wa Azza-. Sebab makna الصَّمَدُ adalah Zat yang dituju dalam berbagai kebutuhan, maksudnya yang menjadi rujukan berbagai kebutuhan, dan dari-Nya berbagai kebutuhan diminta.tidak diraguan, sungguh setiap selain Allah Ta'ala adalah zat yang butuh kepada-Nya, maksudnya mulai dari awal dan pada keberlanju- tannya membutuhkan kepada Allah dengan kondisinya, ucapan- nya, atau dengan keduanya secara bersamaan.

وَأَثْبَتَ تَعَالَى بِقَوْلِهِ: لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدُ وُجُوْبَ اسْتِغْنَائِهِ جَلَّ وَعَزَّ عَنِ الْمُؤْثِرِ وَالْأَثَرِ، فَلَا حَاجَةَ لِلَّهِ تَعَالَى إِلَى الْمُؤْثِرِ، وَلَا عِلَّةَ لِوُجُوْدِهِ جَلَّ وَعَزَّ وَإِلَيْهِ الْإِشَارَةُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: "وَلَمْ يُولَدْ"، أَيْ لَمْ يَتَوَلَّدْ وُجُودُهُ تَعَالَى عَنْ شَيْءٍ، أَيْ لَا سَبَبَ لِوُجُودِهِ تَعَالَى لِوُجُوْبِ قِدَمِهِ وَبَقَائِهِ.


Dengan firman-Nya: لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ Allah menetapkan wajibnya ketidakbutuhan Allah-Jalla wa 'Azza-pada mu'atstsir dan atsar. Maka tidak ada kebutuhan bagi Allah Ta'ala kepada mu`atstsir, dan tidak ada 'illat bagi wujud-Nya- Jalla wa 'Azza-. Pada pemahaman itu isyarat firman Allah Ta'ala: وَلَمْ يُولَدْ maksudnya wujud-Nya tidak terlahirkan dari sesuatu pun. Artinya tidak ada sebab bagi wujud-Nya, karena wajibnya qidam dan baqa'bagi-Nya.

وَكَذَلِكَ لَا حَاجَةً لَهُ تَعَالَى إِلَى الْأَثَرِ، وَهُوَ مَا أَوْجَدَ تَعَالَى مِنَ الحَوَادِثِ، وَلَا غَرَضَ لَهُ جَلَّ وَعَزَّ فِي شَيْءٍ مِنْهَا، تَعَالَى عَنِ الْأَغْرَاضِ وَالْأَعْرَاضِ، وَلَا مُعِينَ لَهُ تَعَالَى فِي شَيْءٍ مِنْهَا، بَلْ هُوَ جَلَّ وَعَزَّ فَاعِلٌ بِمَحْضِ الْاِخْتِيَارِ بِلا وَاسِطَةٍ وَلَا مُعَالِجَةٍ وَلَا عِلَّةٍ. وَإِلَيْهِ الْإِشَارَةُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: "لَمْ يَلِدْ، أَيْ لَمْ يَتَوَلَّدْ وُجُودُ شَيْءٍ عَنْ ذَاتِهِ الْعَلِيَّةِ، بِأَنْ يَكُوْنَ بَعْضًا مِنْهُ أَوْ نَاشِئًا عَنْهُ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ أَوْ نَاشِئًا عَنْهُ تَعَالَى بِاسْتِعَانَةٍ مِمَّنْ يُزَاوِجُهُ عَلَى ذَلِكَ، أَوْ ثَمَّ غَرَضُ يَحْمِلُ عَلَى ذَلِكَ، كَمَا هُوَ شَأْنُ الزَّوْجَيْنِ وَنَحْوِهِمَا بِالنِّسْبَةِ لِلْوَلَدِ وَنَحْوِهِ فِي جَمِيعِ مَا ذكر.


Begitu pula tidak ada kebutuhan bagi Allah Ta'ala pada atsar, yaitu makhluk yang diwujudkan-Nya; tidak ada tujuan bagi-Nya-Jalla wa Azza-dalam suatu makhluk pun- Maha Luhur Allah dari berbagai tujuan dan harta benda-; dan tidak ada penolong bagi-Nya dalam suatu makhluk pun, justru Allah- Jalla wa 'Azza-adalah Zat yang menciptakannya, dengan murni pilihan-Nya tanpa perantara, aktifitas (bergerak dan diam),maupun alasan. Pada pemahaman seperti itu isyarat firman Allah Ta'ala: لَمْ يَلِدْ maksudnya tidak ada sesuatupun yang terlahir dari Zat- Nya Yang Maha Luhur, yaitu menjadi bagian dari-Nya, muncul dari-Nya tanpa sengaja, muncul dari-Nya dengan pertolongan orang yang menikahi-Nya untuk mewujudkannya, atau di situ ada tujuan yang mengarahkan-Nya untuk mewujudkannya, sebagai- mana kondisi suami istri dan semisalnya dalam penisbatannya terhadap anak, dan semisalnya dalam hal yang telah disebutkan.

إِذْ لَوْ كَانَ تَعَالَى كَذَلِكَ لَزِمَ أَنْ يُمَائِلَ الْحَوَادِثَ، كَيْفَ وَهُوَ تَبَارَكَ لَيْسَ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ فَلَا وَالِدَ إِذَنْ وَلَا صَاحِبَةً وَلَا وَلَدَ وَلَا مُمَاثَلَةَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْحَوَادِثِ بِوَجْهِ مِنَ الْوُجُوهِ، فَتَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ.


Sebab, andaikan Allah Ta'ala demikian adanya, maka pasti menyamai makhluk. Bagaimana hal itu benar, sementara Allah- Tabaraka tiada satu makhlukpun yang sepadan dengan-Nya. Bila demikan maka tidak ada orang tua, teman, anak baginya, dan tidak ada kesamaan antara Allah dan makhluk dari satu sisi pun- tabarakallahu rabbul 'alamin.


________________________________________

6. Wahdaniyyah 
(ص) 
(وَالْوَحْدَانِيَةُ، أَيْ لَا ثَانِيَ لَهُ فِي ذَاتِهِ وَلَا فِي صِفَاتِهِ وَلَا فِي أَفْعَالِهِ) 
(6) Wahdaniyyah (keesaan Allah dengan Zat-Nya). Maksudnya tidak ada duanya zat, sifat dan perbuatan Allah. 
________________________________________

• Syarh


 (ش) 
يَعْنِي أَنَّ الْوَحْدَانِيَّةَ فِي حَقَّهِ تَعَالَى تَشْتَمِلُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهِ: أَحَدُهَا نَفْيُ الْكَثْرَةِ فِي ذَاتِهِ تَعَالَى وَيُسَمَّى الْكَمَّ الْمُتَّصِلَ الثَّانِي نَفْيُ النَّظِيْرِ لَهُ جَلَّ وَعَزَّ فِي ذَاتِهِ أَوْ في صِفَةٍ مِنْ صِفَاتِهِ وَيُسَمَّى الْكَمَّ الْمُنْفَصِلَ الثَّالِثُ انْفِرَادُهُ تَعَالَى بِالْإِيجَادِ وَالتَّدْبِيرِ الْعَامَ بِلَا وَاسِطَةٍ وَلَا مُعَالِجَةٍ، فَلَا مُؤْثِرَ سِوَاهُ تَعَالَى فِي أَثَرِ مَا عُمُوْمًا.


Maksudnya, sungguh wahdaniyyah bagi Allah Ta'ala mencakup tiga sisi: pertama, menafikan jumlah banyak bagi Zat Allah Ta'ala, yang disebut al-kamm al-muttashil kedua, menafikan zat lain yang sepadan bagi-Nya-Jalla wa 'Azza- dalam zat atau salah satu sifat- sifat-Nya, yang disebut al-kamm al-munfashil, dan ketiga, kesendirian Allah Ta'ala dalam mewujudkan, dan menciptakan alam secara sempurna dan menyeluruh, tanpa perantara, dan tanpa aktifitas (bergerak dan diam). Maka tidak ada mu`atstsir (yang memberi efek) apapun selain Allah Ta'ala pada efek apa saja secara menyeluruh.

ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ. وَقَالَ جَلَّ وَعَزَّ: لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ. وَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ. قَالَ جَلَّ مِنْ قَائِلٍ: إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ وَقَالَ تَعَالَى:


Allah Yang Maha Agung berfirman: "Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran." Allah Ta'ala berfirman: "! (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah Dia." Allah-Jalla wa 'Azza- berfirman: "Kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah." Allah-Tabaraka wa Ta'ala berfirman pula: "Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat."


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terjemah kitab matan taqrib pembahasan tentang hukum-hukum shalat

كِتَابُ الصَّلَاةِ  Pembahasan shalat  Shalat-shalat yang diwajibkan  الصَّلَاةُ الْمَفْرُوْضَةُ خَمْسٌ: Shalat yang diwajibkan itu ada 5.yaitu:  (۱) الظَّهْرُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهَا زَوَالُ الشَّمْسِ، وَآخِرُهُ إِذَا صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ بَعْدَ ظِلَّ الزَّوَال.  1. Zhuhur,  waktu salat zhuhur mulai setelah lewat rembang matahari (setelah matahari tergelincir ke arah barat). Dan akhir waktunya adalah ketika bayang- bayang sebuah benda telah sama panjangnya dengan benda itu, sesudah matahari lewat rembang. (۲) وَالْعَصْرُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهَا الزَّيَادَةُ عَلَى ظِلَّ الْمِثْلِ، وَآخِرُهُ في الاخْتِيَارِ إِلَى ظِلَّ الْمِثْلَيْنِ وَفِي الْجَوَازِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ  2. Ashar,  waktu salat ashar dimulai setelah bayang-bayang sebuah benda yang sama dengan benda aslinya tadi bertambah panjang. Dan akhir waktunya menurut waktu Ikhtiar (waktu yang menjadi pilihan untuk menger- jakan salat sebelum masuk pada bagian waktu berikutnya) adalah...

Terjemah kitab mutammimah tentang bab kalam

               بَابُ الكلام          Bab Kalam     الكلامُ هُوَ  اللفظ المُرَكَّبُ الْمُفِيدُ بالوضع kalam adalah satu lafazd yang murakkab yang memberi faedah dengan waza'(sengaja)/bahasa arab Keterangan : • Lafadz adalah suara yang mengandung sebagian huruf Hijaiyah (huruf huruf Arab yang diawali dari alif sampai ya'). Contoh: زَيْدُ dan قَائِمُ  • Murokkab adalah lafadz yang tersusun dari dua kalimat atau lebih dengan susunan isnadi (penisbatan atau penyandaran hukum yang menjadikan kesempurnaan faidah). Contoh: زَيْدُ قَائِمٌ )Zaid orang yang berdiri( أنا قائم )Saya orang yang berdiri • Mufid adalah ungkapan berfaidah yang dapat memberikan pemahaman sehingga tidak membutuhkan pertanyaan dari orang yang mendengarkan. Contoh: زَيْدُ قَائِمٌ )Zaid orang yang berdiri( • Wad'i menurut sebagian ulama' nahwu adalah berbahasa Arab, dan menurut ulama' yang lain wad'i adalah disengaja oleh orang yang men...

Terjemah kitab matammimah tentang isem alam

    _________________________________________ Note:⚠️ Bila antum menemukan kesalahan dalam penulisan maka sangat diharapkan untuk mengomentari nya, Syukran kasiran ____________________________________________   فَصْلٌ فِي بَيَانِ الإِسْمِ الْعَلَمِ Fasal Tentang Isim Alam الْعَلَمُ نَوْعَانِ: شَخْصِيٌّ وَهُوَ مَا وُضِعَ لِشَيْءٍ بِعَيْنِهِ لَا يَتَنَاوَلُ غَيْرُهُ كَزَيْدٍ وَفَاطِمَةَ وَمَكَّةَ وَشَدْقَمٍ وَقَرَنٍ. Isim alam ada dua. Yaitu: 1. Alam syakhs, ialah alam yang diletakkan (dicetak) untuk sesuatu yang sudah nyata (individu) dan tidak mencakup yang lainnya.  Contoh: زَيْدٍ - فَاطِمَةَ - مَكَّةَ - شَدْقَم - قَرَنٍ  وَجِنْسِيٌّ وَهُوَ مَا وُضِعَ لِجِنْسِ مِنَ الْأَجْنَاسِ كَأَسَامَةَ لِلْأَشَدِ وَثُعَالَةَ لِلتَّعْلَبِ وَذُؤَالَةَ لِلذِّئْبِ وَأُمُّ عِرْيَطٍ لِلْعَقْرَبِ. 2. Alam jinis, ialah alam yang diletakkan (dicetak) untuk beberapa jinis.  Contoh: أسامة untuk nama harimau, تُعَالَةَ untuk nama musang, ذُؤَالَةَ untuk srigala, dan أُمُّ عِرْبَط...