Langsung ke konten utama

Terjemah kitab ilmu tauhid Ummul barahin imam As-Sanusi tentang sifat ma'ani






Tujuh Sifat Ma'ani 

________________________________________

[ص] 

(ثُمَّ يَجِبُ لَهُ تَعَالَى سَبْعُ صِفَاتٍ تُسَمَّى صِفَاتِ الْمَعَانِي)
 Kemudian wajib bagi Allah Ta' ala tujuh sifat yang disebut sifat ma' ani.

________________________________________

 [ش] 

مُرَادُهُمْ بِصِفَاتِ الْمَعَانِي الصَّفَاتُ الَّتِي هِيَ مَوْجُودَةٌ فِي نَفْسِهَا سَوَاءٌ كَانَتْ حَادِثَةٌ كَبَيَاضِ الْجِرْمِ مَثَلًا وَسَوَادِهِ، أَوْ قَدِيمَةٌ كَعِلْمِهِ تَعَالَى وَقُدْرَتِهِ فَكُلُّ صِفَةٍ مَوْجُوْدَةٌ فِي نَفْسِهَا فَإِنَّهَا تُسَمَّى فِي الْإِصْطِلَاحِ صِفَةً معنى. 


Maksud ulama dengan istilah sifat-sifat ma'ani adalah sifat-sifat yang wujud dengan memper- timbangkan dirinya sendiri, baik bersifat hadits, seperti warna putih suatu benda dan warna hitamnya, umpamanya, ataupun bersifat qadim, seperti ilmu dan qudrah Allah Ta'ala. Maka setiap sifat yang wujud dengan mempertim- bangkan dirinya sendiri dalam istilah ilmu kalam disebut sifat makna (ma'ani).


وَإِنْ كَانَتْ الصَّفَةُ غَيْرَ مَوْجُودَةٍ فِي نَفْسِهَا، فَإِنْ كَانَتْ وَاجِبَةٌ لِلذَّاتِ مَا دَامَتِ النَّاتُ غَيْرَ مُعَلَّلَةٍ بِعِلَّةٍ سميَتْ صِفَةً نَفْسِيَّةً أَوْ حَالًا نَفْسِيَّةً، وَمِثَالُهَا التَّحَيُّرُ لِلْجِرْمِ وَكَوْنُهُ قَابِلًا لِلْأَعْرَاضِ مَثَلًا.

وَإِنْ كَانَتِ الصَّفَةُ غَيْرَ مَوْجُودَةٍ فِي نَفْسِهَا إِلَّا أَنَّهَا مُعَلَّلَةٌ بِعِلَّةٍ إِنَّمَا تَجِبُ لِلذَّاتِ مَا دَامَتْ عِلَّتُهَا قَائِمَةً بِالذَّاتِ سُمِّيَتْ صِفَةٌ مَعْنَوِيَّةً، وَمِثَالُهَا كَوْنُ النَّاتِ عَالِمَةً أَوْ قَادِرَةً مَثَلًا. 


Bila suatu sifat tidak wujud dengan mempertimbangkan dirinya sendiri, namun ter'illati dengan suatu 'illat dan hanya wajib bagi zat selama 'illat itu ada padanya maka disebut sifat ma'nawiyah, seperti keberadaan suatu zat 'alimatan (yang mengetahui) dan qadiratan yang mampu umpamanya.

________________________________________

(ص) 
(وَهِيَ الْقُدْرَةُ، وَالإِرَادَةُ، الْمُتَعَلَّقَانِ بِجَمِيعِ الْمُمْكِنَاتِ) 
(7 dan 8) tujuh sifat ma' ani tersebut adalah qudra dan iradah yang berhubungan dengan seluruh perkara yang mumkin

________________________________________

[ ش] 
يَعْنِي أَنَّ الْقُدْرَةَ وَالْإِرَادَةَ مُتَعَلَّقُهُمَا وَاحِدٌ، وَهُوَ الْمُمْكِنَاتُ دُونَ الْوَاجِبَاتِ وَالْمُسْتَحِيْلَاتِ إِلَّا أَنَّ جِهَةً تَعَلُّقِهِمَا بِالْمُمْكِنَاتِ مختلفة.


Maksudnya, sungguh yang berhu- bungan dengan qudrah dan iradah adalah satu, yaitu mumkinat (perkara-perkara yang mungkin wujud dan mungkin tidak wujud), tidak yang wajib dan yang mustahil; namun, sisi hubungannya dengan mumkinat berbeda-beda.


فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ تُؤْثِرُ فِي إِيجَادِ الْمُمْكِنِ وَإِهْدَامِهِ، وَالْإِرَادَةُ صِفَةٌ تُؤْثِرُ فِي اخْتِصَاصِ أَحَدِ طَرَفَي الْمُمْكِنِ مِنْ وُجُوْدٍ أَوْ طُوْلٍ أَوْ قَصْرٍ - وَنَحْوِهَا بِالْوُقُوعِ بَدَلًا عَنْ مُقَابِلِهِ، فَصَارَ تَأْثِيرُ الْقُدْرَةِ فَرْعَ تَأْثِيرِ الْإِرَادَةِ، إِذْ لَا يُوجِدُ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ مِنَ الْمُمْكِنَاتِ أَوْ يُعْدِمُ بِقُدْرَتِهِ إِلَّا مَا أَرَادَ تَعَالَى وُجُوْدَهُ أَوْ إِعْدَامَهُ. 


Qudrah adalah sifat yang berpengaruh mewujudkan dan meniadakan mumkin; sedangkan iradah adalah sifat yang berpenga- ruh mengkhususkan (menentukan) salah satu dari dua opsi mumkin, yaitu wujud, panjang, pendek, dan semisalnya, menjadi wujud sebagai ganti dari lawannya. Maka pengaruh qudrah merupakan cabang dari pengaruh iradah, sebab Allah-Jalla wa 'Azza-tidak mewujud-kan atau meniadakan mumkinat dengan qudrah-Nya, kecuali apa yang dikehendaki-Nya diwujud-kan atau ditiadakan-Nya.


وَتَأْثِيرُ الْإِرَادَةِ عَلَى وِفْقِ الْعِلْمِ عِنْدَ أَهْلِ الْحَقِّ، فَكُلُّ مَا عَلِمَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ يُكَوَّنُ مِنَ الْمُمْكِنَاتِ أَوْ لَا يُكَوَّنُ، فَذَلِكَ مُرَادُهُ جَلَّ وَعَزَّ.


Menurut Ahlussunnah wal Jama'ah, pengaruh iradah Allah itu cocok dengan ilmu-Nya. Sebab itu, setiap mumkinat yang diketahui Allah- Tabaraka wa Ta'ala-akan diwujud- kan atau tidak akan diwujudkan, maka itulah yang dikehendaki-Nya.


 وَالْمُعْتَزِلَةُ، فَبَحَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى جَعَلُوا تَعَلَّقَ الْإِرَادَةِ تَابِعًا لِلْأَمْرِ، فَلَا يُرِيدُ عِنْدَهُمْ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ إِلَّا مَا أَمَرَ بِهِ مِنَ الْإِيْمَانِ وَالطَّاعَةُ سَوَاءٌ وَقَعَ ذَلِكَ أَمْ لَا.


Golongan Mu'tazilah-semoga Allah Ta'ala memperbanyak keburukan mereka-menjadikan hubungan iradah mengikuti perintah-Nya, sehingga menurut mereka Allah- Jalla wa 'Azza-tidak menghendaki kecuali perkara yang diperintahkan- Nya, yaitu keimanan dan ketaatan, baik terjadi maupun tidak.


فَعِنْدَنَا إِيْمَانُ أَبِي جَهْلٍ مَأْمُورُ بِهِ غَيْرُ مُرَادٍ لَهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، لِأَنَّهُ جَلَّ وَعَزَّ عَلِمَ عَدَمَ وُقُوْعِهِ، وَكُفْرُ أَبِي جَهْلٍ مَنْهِيٌّ عَنْهُ، وَهُوَ وَاقِعُ بِإِرَادَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَقُدْرَتِهِ. 


Maka menurut kita Ahlussunnah wal Jama'ah, iman Abu Jahal itu diperintahkan namun tidak dikehendaki oleh Allah- Tabaraka wa Ta'ala, karena Allah-Jalla wa Azza-mengetahui tidak akan terjadi-nya; sedangkan kekufuran Abu Jahal dilarang oleh Allah, namun terjadi dengan iradah dan qudrah-Nya.


وَعِنْدَ الْمُعْتَزِلَةِ، فَبَحَ اللَّهُ تَعَالَى رَأْيَهُمْ، إِيْمَانُهُ هُوَ الْمُرَادُ لِلَّهِ تَعَالَى لَا كُفْرُهُ، فَلَزِمَهُمْ أَنْ يَقَعَ نَقْصُ في مُلْكِ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ، إِذْ وَقَعَ فِيْهِ عَلَى قَوْلِهِمْ مَا لَا يُرِيدُهُ، تَعَالَى مَنْ لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا، تَعَالَى اللَّهُ عَنْ ذَلِكَ عُلُوًّا كَبِيرًا. 


Sementara menurut Muktazilah semoga Allah Ta'ala menampakkan keburukan pendapat mereka-iman Abu Jahal itulah yang dikehendaki oleh Allah Ta'ala, bukan kekufurannya. Konsekuensinya, terjadi kekurangan bagi kekuasaan Allah- Jalla wa 'Azza-, sebab berpijak pada pendapat mereka, telah terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki Allah. Maha Luhur Allah yang bagi-Nya kerajaan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya. Maha Luhur Allah dari hal seperti itu dengan seluhur-luhurnya.
Kesimpulannya, menurut Ahlus- sunnah wal Jama'ah secara umum ta'alluqat (hubungan dalam ranah penalaran, bukan ranah kenyataan) ada tiga level, yaitu: hubungan qudrah, hubungan iradah, dan hubungan ilmu Allah dengan mumkinat. Yang pertama ada karena yang kedua, dan yang kedua ada karena yang ketiga.


وَإِنَّمَا لَمْ تَتَعَلَّقُ الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ بِالْوَاجِبِ وَالْمُسْتَحِيْلِ لِأَنَّ الْقُدْرَةَ وَالْإِرَادَةَ لَمَّا كَانَتَا صِفَتَيْنِ مُؤْثِرَتَيْنِ، وَمِنْ لَا زِمِ الْأَثَرِ أَنْ يَكُوْنَ مَوْجُودًا بَعْدَ عَدَمٍ، لَزِمَ أَنَّ مَا لَا يَقْبَلُ الْعَدَمَ أَصْلًا كَالْوَاجِبِ لَا يَقْبَلُ أَنْ يَكُوْنَ أَثَرًا لَهُمَا، وَإِلَّا لَزِمَ تَحْصِيلُ الْحَاصِلِ؛ وَمَا لَا يَقْبَلُ الْوُجُوْدَ أَصْلًا كَالْمُسْتَحِيْلِ لَا يَقْبَلُ أَيْضًا أَنْ يَكُوْنَ أَثَرًا لَهُمَا، وَإِلَّا لَزِمَ قَلْبُ الْحَقَائِقِ بِرُجُوعِ الْمُسْتَحِيْلِ عَيْنَ الْجَائِزِ.


Qudrah dan iradah tidak berhubungan dengan perkara yang wajib dan yang mustahil karena keduanya merupakan dua sifat yang mempengaruhi, di mana kelaziman suatu pengaruh adalah wujud setelah ketiadaan, maka hal itu memastikan bahwa sesuatu yang sama sekali tidak menerima ketiadaan, seperti perkara wajib, tidak bisa menjadi atsar (pengaruh) bagi qudrah dan iradah. Bila tidak demikian maka akan memastikan adanya tahsil al- hasil (menghasilkan sesuatu yang sudah ada); dan sesuatu yang sama sekali tidak menerima (tidak bisa) wujud seperti perkara yang mustahil, juga tidak bisa menjadi atsar (pengaruh) bagi qudrah dan iradah. Bila tidak demikian maka pasti membalik berbagai hakikat, seperti perkara mustahil menjadi perkara jaiz.


 فَلَا قَصُورَ أَصْلًا فِي عَدَمٍ تَعَلُّقِ الْقُدْرَةِ وَالْإِرَادَةِ الْقَدِيمَتَيْنِ بِالْوَاجِبِ وَالْمُسْتَحِيْلِ، بَلْ لَوْ تَعَلَّقْنَا بِهِمَا لَزِمَ حِينَئِذٍ الْقَصُورُ لِأَنَّهُ يَلْزَمُ عَلَى هَذَا التَّقْدِيرِ الْفَاسِدِ أَنْ يَجُوْزَ تَعَلُّقُهُمَا بِإِعْدَامِ أَنْفُسِهِمَا، بَلْ وَبِإِعْدَامِ الذَّاتِ الْعَلِيَّةِ، وَبِإِثْبَاتِ الْأُلُوْهِيَّةِ لِمَنْ لَا يَقْبَلُهَا مِنَ الْحَوَادِثِ وَسَلْبِهَا عَمَّنْ تَجِبُ لَهُ، وَهُوَ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ وَأَيُّ نَقْصٍ وَفَسَادٍ أَعْظَمُ مِنْ هَذَا؟


Maka tidak ada kekurangan sama sekali dalam tidak adanya hubungan qudrah dan iradah yang qadim dengan perkara yang wajib dan mustahil. Bahkan bila keduanya berhubungan dengan perkara yang wajib dan mustahil, justru akan ada kekurangan. Sebab pengandaian yang salah seperti ini akan berkonsekuensi bolehnya hubungan keduanya meniadakan dirinya sendiri, bahkan bisa meniadakan Zat Allah Yang Maha Luhur, menetapkan sifat ketuhanan bagi makhluk yang tidak dapat menerimanya, dan menafikannya dari Zat yang wajib menerimanya, yaitu Allah-Jalla wa 'Azza-. Adakah kekurangan dan kerusakan yang lebih besar dari hal ini?


وَبِالْجُمْلَةِ فَذَلِكَ التَّقْدِيرُ الْفَاسِدِ يُؤَدِّي إِلَى تَخْلِيْطٍ عَظِيمٍ لَا يَبْقَى مَعَهُ شَيْءٌ مِنَ الْإِيْمَانِ وَلَا شَيْءٌ مِنَ الْعَقْلِيَّاتِ أَصْلًا.


Kesimpulannya, pengandaian yang salah semacam itu mengarahkan pada kesalahan besar yang sama sekali tidak akan menyisakan keimanan dan hukum-hukum 'aqliyah sedikit-pun.


 وَالِخَفَاءِ هَذَا الْمَعْنَى عَلَى بَعْضِ الْأَغْبِيَاءِ مِنَ الْمُبْتَدِعَةِ صَرَّحَ بِنَقِيْضِ ذَلِكَ فَنَقَلَ عَنِ ابْنِ حَزْمٍ أَنَّهُ قَالَ فِي الْمِلَلِ وَالنَّحَلِ: إِنَّهُ تَعَالَى قَادِرُ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا، إِذْ لَوْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَيْهِ لَكَانَ عَاجِزًا.


Karena begitu samarnya pemahaman ini bagi sebagian orang bodoh dari golongan ahli bid'ah, secara terang-terangan ia menya- takan kebalikannya, kemudian mengutip pendapat Ibn Hazm yang dalam al-Milal wa an-Nihal menyatakan: "Sungguh Allah Ta'ala Maha Mampu untuk beranak, sebab andaikan la tidak mampu melakukannya niscaya ia adalah zat yang lemah."


 فَانْظُرْ اخْتِلَالَ عَقْلِ هَذَا الْمُبْتَدِعِ كَيْفَ غَفَلَ عَمَّا يَلْزَمُهُ عَلَى هَذِهِ الْمَقَالَةِ الشَّنِيْعَةِ مِنَ اللَّوَازِمِ الَّتِي لَا تَدْخُلُ تَحْتَ وَهُم، وَكَيْفَ فَاتَهُ أَنَّ الْعَجْزَ إِنَّمَا يَكُونُ لَوْ كَانَ الْقَصُورُ جَاءَ مِنْ نَاحِيَةِ الْقُدْرَةِ، أَمَّا إِذَا كَانَ لِعَدَمِ تَعَلُّقِ الْقُدْرَةِ فَلَا يَتَوَهَّمُ عَاقِلُ أَنَّ هَذَا عَجْز


Lihatlah kerancuan akal ahli bid'ah ini. Bagaimana ia lalai dari konsekuensi-konsekuensi yang ditetapkannya berdasarkan penda- pat keji ini, yang akan masuk pada waham (prasangka); dan bagaimana ia tidak memahami bahwa ketidak mampuan Allah hanya terjadi bila muncul dari arah sifat qudrah-Nya? Adapun bila ketidakmampuan itu karena tidak adanya hubungan sifat qudrah (pada suatu objek), maka orang berakal tidak akan salah sangka bahwa hal ini merupakan ketidakmampuan Allah.

________________________________________

 • Syarh

Bila suatu sifat tidak wujud dengan mempertimbangkan dirinya sendiri, maka bila wajib bagi zat, selama zat tersebut tidak di'illati dengan suatu 'illat, maka disebut sifat nafsiyah atau hal nafsiyah, seperti mengambil tempat secukupnya bagi benda, dan keberadaannya menerima sifat- sifat yang datang padanya, umpamannya.


________________________________________

7&8. Qudrah dan Iradah 

________________________________________

Syarh 













وَبِالْجُمْلَةِ فَالتَّعَلُّقَاتُ عِنْدَ أَهْلِ الْحَقِّ ثَلَاثَةُ مَرْتَبَةٍ: تَعَلُّقُ الْقُدْرَةِ وَتَعَلُّقُ الْإِرَادَةِ، وَتَعَلُّقُ الْعِلْمِ بِالْمُمْكِنَاتِ، فَالْأَوَّلُ مُرَتَّبُ عَلَى الثَّانِي، وَالثَّانِي مُرَبٌ عَلَى الثالث.









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terjemah kitab matan taqrib pembahasan tentang hukum-hukum shalat

كِتَابُ الصَّلَاةِ  Pembahasan shalat  Shalat-shalat yang diwajibkan  الصَّلَاةُ الْمَفْرُوْضَةُ خَمْسٌ: Shalat yang diwajibkan itu ada 5.yaitu:  (۱) الظَّهْرُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهَا زَوَالُ الشَّمْسِ، وَآخِرُهُ إِذَا صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ بَعْدَ ظِلَّ الزَّوَال.  1. Zhuhur,  waktu salat zhuhur mulai setelah lewat rembang matahari (setelah matahari tergelincir ke arah barat). Dan akhir waktunya adalah ketika bayang- bayang sebuah benda telah sama panjangnya dengan benda itu, sesudah matahari lewat rembang. (۲) وَالْعَصْرُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهَا الزَّيَادَةُ عَلَى ظِلَّ الْمِثْلِ، وَآخِرُهُ في الاخْتِيَارِ إِلَى ظِلَّ الْمِثْلَيْنِ وَفِي الْجَوَازِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ  2. Ashar,  waktu salat ashar dimulai setelah bayang-bayang sebuah benda yang sama dengan benda aslinya tadi bertambah panjang. Dan akhir waktunya menurut waktu Ikhtiar (waktu yang menjadi pilihan untuk menger- jakan salat sebelum masuk pada bagian waktu berikutnya) adalah...

Terjemah kitab mutammimah tentang bab kalam

               بَابُ الكلام          Bab Kalam     الكلامُ هُوَ  اللفظ المُرَكَّبُ الْمُفِيدُ بالوضع kalam adalah satu lafazd yang murakkab yang memberi faedah dengan waza'(sengaja)/bahasa arab Keterangan : • Lafadz adalah suara yang mengandung sebagian huruf Hijaiyah (huruf huruf Arab yang diawali dari alif sampai ya'). Contoh: زَيْدُ dan قَائِمُ  • Murokkab adalah lafadz yang tersusun dari dua kalimat atau lebih dengan susunan isnadi (penisbatan atau penyandaran hukum yang menjadikan kesempurnaan faidah). Contoh: زَيْدُ قَائِمٌ )Zaid orang yang berdiri( أنا قائم )Saya orang yang berdiri • Mufid adalah ungkapan berfaidah yang dapat memberikan pemahaman sehingga tidak membutuhkan pertanyaan dari orang yang mendengarkan. Contoh: زَيْدُ قَائِمٌ )Zaid orang yang berdiri( • Wad'i menurut sebagian ulama' nahwu adalah berbahasa Arab, dan menurut ulama' yang lain wad'i adalah disengaja oleh orang yang men...

Terjemah kitab matammimah tentang isem alam

    _________________________________________ Note:⚠️ Bila antum menemukan kesalahan dalam penulisan maka sangat diharapkan untuk mengomentari nya, Syukran kasiran ____________________________________________   فَصْلٌ فِي بَيَانِ الإِسْمِ الْعَلَمِ Fasal Tentang Isim Alam الْعَلَمُ نَوْعَانِ: شَخْصِيٌّ وَهُوَ مَا وُضِعَ لِشَيْءٍ بِعَيْنِهِ لَا يَتَنَاوَلُ غَيْرُهُ كَزَيْدٍ وَفَاطِمَةَ وَمَكَّةَ وَشَدْقَمٍ وَقَرَنٍ. Isim alam ada dua. Yaitu: 1. Alam syakhs, ialah alam yang diletakkan (dicetak) untuk sesuatu yang sudah nyata (individu) dan tidak mencakup yang lainnya.  Contoh: زَيْدٍ - فَاطِمَةَ - مَكَّةَ - شَدْقَم - قَرَنٍ  وَجِنْسِيٌّ وَهُوَ مَا وُضِعَ لِجِنْسِ مِنَ الْأَجْنَاسِ كَأَسَامَةَ لِلْأَشَدِ وَثُعَالَةَ لِلتَّعْلَبِ وَذُؤَالَةَ لِلذِّئْبِ وَأُمُّ عِرْيَطٍ لِلْعَقْرَبِ. 2. Alam jinis, ialah alam yang diletakkan (dicetak) untuk beberapa jinis.  Contoh: أسامة untuk nama harimau, تُعَالَةَ untuk nama musang, ذُؤَالَةَ untuk srigala, dan أُمُّ عِرْبَط...