Langsung ke konten utama

Terjemah kitab matan Abi syuja'/matan taqrib pembahasan tentang bersuci



 Muqaddimah kitab matan taqrib


بسم الله الرحمن الرحيم الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ وَآلِهِ الطَّاهِرِيْنَ وَصَحَابَتِهِ أَجْمَعِيْنَ، 

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada junjungan kita Muhammad seorang Nabi, segenap keluarganya yang suci, dan semua para sahabatnya.


قَالَ الْقَاضِي أَبُوْ شُجَاعِ أَحْمَدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ أَحْمَدَ الأَصْفِهَانِي رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: سَأَلَنِي بَعْضُ الْأَصْدِقَاءِ؛ حَفِظَهُمُ اللهُ تَعَالَى، أَنْ أَعْمَلَ مُخْتَصَراً فِي الْفِقْهِ عَلَى مَذْهَبِ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ رَحْمَةُ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِ وَرِضْوَانُـهُ فِي غَايَةِ الْإِخْتِصَارِ وَنِهَايَةِ الْإِيجَانِ، لِيَقْرُبَ عَلَى الْمُتَعَلِّمِ دَرْسُهُ، وَيَسْهُلَ عَلَى الْمُبْتَدِئِ حِفْظُهُ، وَأَنْ أُكْثِرَ فِيْهِ مِنَ التَّقْسِيْمَاتِ وَحَصْرِ الْخِصَالِ .

Al-Qadhi Abu Syuja' Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad Al- Asfihaaniy --semoga Allah memberi rahmat kepada beliau- telah berkata: Saya diminta oleh sebagian sahabat-sahabat dekat saya --se- moga Allah Ta'ala menjaga mereka-- agar membuat ringkasan (mukhtashar) fiqih mazhab Imam Syafi'i --rahmat dan ridha Allah Ta'ala semoga tetap atas beliau-- yang seringkas-ringkasnya dan sependek-pendeknya, agar singkat bagi pelajar untuk mempelajarinya dan mudah bagi pemula untuk menghapalnya. Dan saya diminta memperbanyak (di dalamnya) bagian-bagian dan meringkas persoalan-persoalannya.


فَأَجَبْتُهُ إِلَى ذَلِكَ طَالِباً لِلثَّوَابِ، رَاغِباً إِلَى اللَّهِ تَعَالَى فِي الْتَّوْفِيقِ لِلصَّوَابِ، وَإِنَّهُ عَلَى مَا يَشَاءُ قَدِيرٌ. وَبِعِبَادِهِ لَطِيفٌ خَبِيرٌ.

Maka saya penuhi penuhi permintaan tersebut seraya mencari pahala dengan mengharapkan pertolongan dari Allah Ta'ala di dalam memperoleh kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu yang la kehendaki dan Maha Halus lagi Waspada terhadap hamba- hamba-Nya.




(  كِتَابُ الطَّهَارَة )


Pembahasan bersuci


Air yang boleh dipakai untuk bersuci 


الْمِيَاهُ الَّتِي يَجُوْزُ التَّطْهِيرُ بِهَا سَبْعُ مِيَاهِ :

 Macam-macam air yang boleh dipergunakan untuk bersuci itu ada tujuh macam, yaitu:


 (۱) مَاءُ السَّمَاءِ (۲) وَمَاءُ الْبَحْرِ (۳) وَمَاءُ النَّهْرِ (1) وَمَاءُ الْبَحْرِ (٥) وَمَاءُ الْعَيْنِ (1) وَمَاءُ الثَّلْجِ (۷) وَمَاءُ الْبَرَدِ

1. Air hujan, 

2. Air Laut, 

3. Air Sungai, 

4. Air Sumur, 

5. Air Sumber(mata air), 

6. Air Salju (es), 

7. Air Embun.


Pembagian air


 ثُمَّ الْمِيَاهُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ: 

Kemudian macam-macam air itu dibagi menjadi empat bagian:


(۱) طَاهِرٌ مُطَهِّرٌ غَيْرُ مَكْرُوهِ، وَهُوَ الْمَاءُ الْمُطْلَقُ (۲) وَطَاهِرٌ مُطَهَّرٌ مَكْرُوهُ اِسْتِعْمَالُهُ وَهُوَ الْمَاءُ الْمُشَمَّسُ (۳) وَطَاهِرٌ غَيْرُ مُطَهِّرٍ لِغَيْرِهِ، وَهُوَ الْمَاءُ الْمُسْتَعْمَلُ، وَالْمُتَغَيِّرُ بِمَا خَالَطَهُ مِنَ الطَّاهِرَاتِ (٤) وَمَاءٌ نَجْسٌ وَهُوَ الَّذِي حَلَّتْ فِيْهِ نَجَاسَةٌ وَهُوَ دُوْنَ الْقُلَّتَيْنِ أَوْ كَانَ قُلْتَيْنِ فَتَغَيَّرَ،


1. Air suci lagi menyucikan dan tidak makruh, yaitu air mutlak, 

2. Air suci lagi menyucikan tapi makruh penggunaannya, yaitu air yang terjemur matahari, 

3. Air suci akan tetapi tidak menyu- cikan, yaitu air musta'mal (air yang telah dipakai untuk menyucikan hadas) dan air yang telah berubah (warna, bau dan rasanya) karena benda-benda suci lain yang mencampurinya,

 4. Air najis, yaitu air yang kemasukan najis, sedang air itu kurang dari dua kolah atau dua kolah tetapi telah berubah (warna, bau dan rasanya karena ke- masukan najis tersebut).


 وَالْقُلَّتَانِ خَمْسُمِائَةِ رِطْلِ بِالْبَغْدَادِيِّ تَقْرِيباً فِي الأَصَح. 

Dua qullah adalah kurang lebih 500 kati Baghdad menurut pendapat yang paling shahih



(فَصْلٌ)

 وَجُلُوْدُ الْمَيْتَةِ تَطْهُرُ بِالدِّبَاغِ إِلَّا جِلْدَ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيرِ وَمَا   تَوَلَّدَ مِنْهُمَا أَوْ مِنْ أَحَدِهِمَا. وَعَظْمُ الْمَيْتَةِ وَشَعْرُهَا نَجِسٌ إِلَّا الْآدَمِيَّ 

(Pasal) Kulit-kulit bangkai binatang itu bisa menjadi suci dengan disamak, kecualli kulit anjing, babi, dan binatang yang terlahir dari kedua hewan tersebut atau dari salah satunya. Tulang dan rambut bangkai itu najis, kecuali (tulang dan rambut) mayat manusia.


(فَصْلٌ) 

وَلَا يَجُوْزُ اسْتِعْمَالُ أَوَانِي الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَيَجُوْزُ اسْتِعْمَالُ غَيْرِهِمَا مِنَ الْأَوَانِي 

Pasal) Tidak diperbolehkan menggunakan bejana-bejana yang terbuat dari emas dan perak, dan diperbolehkan menggunakan bejana-bejana selain dari ke- duanya


Bersiwak yang sangat disunnahkan


(فَصْلٌ) 

وَالسَّوَاكُ مُسْتَحَبُّ فِي كُلِّ حَالٍ إِلَّا بَعْدَ زَوَالٍ للصَّائِمِ. أَشَدُّ وَهُوَ فِي ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ استحباباً : (۱) عِنْدَ تَغَيُّرِ الْفَمِ مِنْ أَزْمٍ وَغَيْرِهِ (۲) عِنْدَ الْقِيَامِ مِنَ النَّوْمِ (۳) عِنْدَ الْقِيَامِ إِلَى الصَّلَاةِ.

(Pasal) Bersiwak (menggosok gigi) itu disunatkan dalam segala hal, kecuali setelah tergelincirnya matahari bagi orang yang berpuasa. Dan bersiwak itu sangat disunatkan dalam tiga hal, yaitu:

1. Ketika bau mulut telah berubah karena terlalu lama diam atau karena lainnya, 

2. Ketika bangun tidur,

 3. Ketika hendak mengerjakan salat.


Fardhu-fardhu wudhu


(فَصْلٌ)

 وَفُرُوْضُ الْوُضُوْءِ سِتَّةُ أَشْيَاءَ: (1) النِّيَّةُ عِنْدَ غَسْلِ الْوَجْهِ (۲) وَغَسْلُ الْوَجْهِ (۳) وَغَسْلُ الْيَدَيْنِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ (٤) وَمَسْحُ بَعْضِ الرَّأْسِ (٥) وَغَسْلُ الرِّجْلَيْنِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ () وَالتَّرْتِيبُ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ

(Pasal) Fardu-fardunya wudhu itu ada enam, yaitu: 

1. Niat ketika membasuh muka, 

2. Membasuh muka, 

3. Membasuh kedua tangan sampai dengan kedua siku, 

4. Mengusap sebagian kepala, 

5. Membasuh kedua kaki sampai dengan kedua mata kaki, 

6. Tertib (berurutan) sesuai dengan apa yang telah kami sebutkan.


Sunat-sunat dalam berwudhu


 وَسُنَتُهُ عَشَرَةُ أَشْيَاءَ: (1) التَّسْمِيَةُ (۲) وَغَسْلُ الْكَفَّيْنِ قَبْلَ إِدْخَالِهِمَا الإِناءَ (۳) وَالْمَضْمَضَةُ وَالإِسْتِنْشَاقُ (٤) وَمَسْحُ جَمِيعِ الرَّأْسِ (٥) وَمَسْحُ الْأُذُنَيْنِ ظَاهِرِهِمَا وَبَاطِنِهِمَا بِمَاءِ جَدِيدٍ (1) وَتَخْلِيلُ اللَّحْيَةِ الْكَثْةِ (۷) وَتَخْلِيلُ أَصَابِعِ الْيَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ (۸) وَتَقْدِيمُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى (1) وَالطَّهَارَةُ ثَلَاثًا ثَلَاثًا (١٠) وَالْمُوَالاةُ

Dan sunat-sunatnya wudhu itu ada sepuluh perkara, yaitu: 

1. Membaca Basmalah, 

2. Mencuci kedua telapak tangan sebelum memasukkannya ke tempat air, 

3. Berkumur dan menghirup air ke dalam hidung (lalu disem- protkan keluar hidung), 

4. Mengusap seluruh kepala, 

5. Mengusap kedua telinga, luar dan dalamnya dengan air yang baru, 

6. Menyela-nyelai jenggot yang lebat, 

7. Menyela-nyelai jari-jari kedua tangan dan kedua kaki, 

8. Mendahulukan anggota tubuh yang kanan sebelum yang kiri,

9. Membasuh setiap anggota wudu sebanyak tiga kali, 

10. Bersambung (tanpa berhen- ti).


(فَصْلٌ)

 وَالْإِسْتِنْجَاءُ وَاجِبٌ مِنَ الْبَوْلِ وَالْغَائِطِ وَالْأَفْضَلُ أَن يَسْتَنْجِيَ بِالْأَحْجَارِ ثُمَّ يَتْبَعُهَا بِالْمَاءِ وَيَجُوْزُ أَنْ يَقْتَصِرَ بِالْمَاءِ أَوْ عَلَى ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ يُنْقِي بِهِنَّ الْمَحَلَّ، فَإِذَا أَرَادَ الْإِقْتِصَارَ عَلَى أَحَدِهِمَا فَالْمَاءُ أَفْضَلُ.

(Pasal) Istinjak (bersuci) setelah buang air kecil (kencing) dan besar (berak) itu adalah wajib. Dan yang lebih utama ialah bersuci dengan batu-batu kemudian diikuti dengan air. Boleh juga hanya dengan air atau hanya dengan tiga buah batu yang dapat digunakan untuk membersihkan dubur atau kemaluan yang disu- cikan. Tetapi bila hendak mencu- kupkan hanya dengan salah satunya, maka yang lebih utama adalah dengan menggunakan air.



 وَيَجْتَنِبُ اسْتِقْبَالَ الْقِبْلَةِ وَاسْتِدْبَارَهَا فِي الصَّحْرَاءِ. وَيَجْتَنِبُ الْبَوْلَ وَالْغَائِطَ فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ وَتَحْتَ الشَّجَرَةِ الْمُثْمِرَةِ وَفِي الطَّرِيقِ وَالظَّلَّ وَالتَّقْبِ وَلَا يَتَكَلَّمُ عَلَى الْبَوْلِ وَالْغَائِطِ وَلَا يَسْتَقْبِلُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَلَا يَسْتَدْبِرُهُمَا

Dan ketika buang air, jauhilah menghadap kiblat atau mem- belakanginya (jika melakukannya) di tempat terbuka. Hindarilah buang air kecil dan besar di air yang tidak mengalir, di bawah pohon yang sedang berbuah, di jalan, di tempat untuk berteduh, dan di lubang. Dan janganlah bercakap-cakap ketika sedang buang air kecil dan besar, dan jangan menghadap matahari atau bulan,serta jangan membelakangi keduanya 

Perkara-perkara yang membatalkan wudhu 


(فَصْلٌ) 

وَالَّذِي يُنْقِضُ الْوُضُوْءَ سِتَّةُ أَشْيَاءَ: (۱) مَا خَرَجَ مِنَ السَّبِيلَيْنِ. (۲) وَالْيَوْمُ عَلَى غَيْرِ هَيْئَةِ الْمُتَمَكِّن. (۳) وَزَوَالُ الْعَقْلِ بِسُكْرِ أَوْ مَرَضِ. (٤) وَلَمْسُ الرَّجُلِ الْمَرْأَةَ الْأَجْنَبِيَّةَ مِنْ غَيْرِ حَائِل. (٥) وَمَسُّ فَرْجِ الْآدَمِيٌّ بَاطِنِ الْكَفَّ.  (٦) وَمَسَّ حَلْقَةِ دُبُرِهِ عَلَى الْجَدِيدِ.

(Pasal) Perkara yang membatalkan wudu itu ada enam, yaitu: 

1. Sesuatu yang keluar dari dua kemaluan, 

2. Tidur tidak dalam bentuk duduk bersila, 

3. Hilangnya akal disebabkan ma- buk atau sakit, 

4. Persentuhan (kulit) pria dengan (kulit) wanita yang bukan mahram tanpa penghalang (baik berupa benda atau kain), 

5. Menyentuh kemaluan manusia dengan telapak tangan, 

6. Menyentuh lubang dubur ma- nusia (berdasarkan pendapat mazhab Imam Syafi'i) yang baru (qaul jadid).

Perkara-perkara yang mewajibkan mandi


(فَصْلٌ ) 

وَالَّذِي يُوْجِبُ الْغُسْلَ سِتَّةُ أَشْيَاءَ: ثَلَاثَةٌ تَشْتَرِكُ فِيْهَا الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ وَهِيَ: (۱) الْتِقَاءُ الْخِتَانَيْنِ (۲) وَإِنْزَالُ الْمَنِي (۳) وَالْمَوْتُ. وَثَلَاثَةٌ تَخْتَصُّ بِهَا النِّسَاءُ وَهِيَ : (۱) الْحَيْضُ (۲) وَالنَّفَاسُ (۳) وَالْوِلَادَةُ.

(Pasal) Perkara yang mewajibkan mandi itu ada enam, yaitu: 

Tiga di antara-nya berlaku sama bagi pria maupun wanita, yaitu: 

1. Ber-temunya dua jenis kemaluan (bersetubuh), 

2. Keluarnya mani,

3. Mati (bukan mati syahid). 


Dan tiga yang lainnya khusus bagi wanita, yaitu: 

4. Haid, 

5. Nifas, 

6. Melahirkan.


Fardhu-fardhu mandi yang wajib diperhatikan 


(فَصْلٌ)

وَفَرَائِضُ الْغُسْلِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ : (۱) النِّيَّةُ (٢) وَإِزَالَةُ النَّجَاسَةِ إن كَانَتْ عَلَى بَدَنِهِ (۳) وَإِيْصَالُ الْمَاءِ إِلَى جَمِيعِ الشَّعْرِ وَالْبَشَرَةِ. 

(Pasal) Fardu-fardu mandi itu ada tiga hal, yaitu: 1. Niat, 2. Menghilangkan najis jika najis itu terdapat pada tubuhnya, 3. Meratakan air ke seluruh rambut dan kulit.




وَسُنَنُهُ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: (1) التَّسْمِيَةُ (٢) وَالْوُضُوْءُ قَبْلَهُ (۳) وَإِمْرَارُ الْيَدِ عَلَى الْجَسَدِ (٤) وَالْمُوَالَاةُ (٥) وَتَقْدِيمُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى.

Sunat mandi wajib itu ada lima perkara, yaitu: 

1. Membaca basmalah, 

2. Wudhu sebelum mandi, 

3. Menggosokkan tangan ke seluruh permukaan tubuh, 

4. (Muwalat) Bersambung tiada henti, 

5. Mendahulukan anggota tubuh yang kanan dari yang kiri.


Mandi-mandi yang disunnatkan


(فَصْلٌ)

 وَالإِعْتِسَالَاتُ الْمَسْنُونَةُ سَبْعَةَ عَشَرَ غُسْلاً : (۱) غُسْلُ الْجُمُعَةِ، (۲) وَالْعِيدَيْنِ، (۳) وَالْإِسْتِسْقَاءِ ٤) وَالْخُسُوفِ (٥) وَالْكُسُوفِ (٦) وَالْغُسْلِ مِنْ غَسْلِ الْمَيِّتِ، (۷) وَالْكَافِرِ إِذَا أَسْلَمَ، (۸) وَالْمَجْنُونِ (۹) وَالْمُغْمَى عَلَيْهِ إِذَا أَفَاقَ، (۱۰) وَالْغُسْلِ عِنْدَ الْإِحْرَامِ، (۱۱) وَدُخُولِ مَكَّةَ، (۱۲) وَلِلْوُقُوْفِ بِعَرَفَةَ، (۱۳) وَلِلْمَبِيْتِ بِمُزْدَلِفَةَ، (١٤) وَلِرَمْيِ الْحِمَارِ الثَّلَاثِ، (١٥) وَلِلطَّوَافِ (١٦) وَلِلسَّعْي، (۱۷) وَلِدُخُولِ مَدِينَةِ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

(Pasal) Mandi-mandi sunat itu ada tujuh belas, yaitu: 

1. Mandi (untuk salat) Jum'at, 

2. Mandi pada hari Idul Fitri dan Idul Adha, 

3. Mandi ketika hendak salat Istisqa' (salat mohon hujan),

4. Mandi ketika hendak salat ger- hana bulan (salat Khusuf), 

5. Mandi ketika hendak salat gerhana matahari (salat Kusuf), 

6. Mandi sehabis memandikan mayat, 

7. Mandi bagi orang kafir ketika masuk Islam, 

8. Mandi bagi orang gila setelah sembuh, 

9. Mandi bagi orang yang pingsan setelah sadar, 

10. Mandi ketika hendak ihram (haji dan umrah), 

11. Mandi ketika hendak masuk Makah, 

12. Mandi ketika hendak wuquf di Arafah, 

13. Mandi ketika hendak berma- lam di Muzdalifah, 

14. Mandi untuk melemparkan jumrah tiga, 

15. Mandi untuk thawaf (Thawaf qudum, ifadhah dan wada'), 

16. Mandi untuk sa 'i (Berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwa tujuh kali), 

17. Mandi untuk masuk kota Madinah Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam 




Syarat boleh mengusap dua sepatu


(فَصْلٌ) 

وَالْمَسْحُ عَلَى الْخُفَّيْنِ جَائِزٌ بِثَلاثِ شَرَائِطَ :

(1) أَنْ يَبْتَدِئَ لُبْسَهُمَا بَعْدَ كَمَالِ الطَّهَارَةِ، (1) وَأَنْ يَكُوْنَ سَاتِرَيْنِ لِمَحَلَّ غَسْلِ الْفَرْضِ مِنَ الْقَدَمَيْنِ، (۳) وَأَنْ يَكُوْنَ مِمَّا يُمْكِنُ تَابُعُ الْمَشْيِ عَلَيْهِمَا ، 

(Pasal) Mengusap kedua khuf (sejenis terompah kulit di dalam wudhu itu) diperbolehkan dengan 3 syarat:

1. Pemasangan khuf harus dimulai setelah sempurna bersuci, 

2. Kedua khuf tersebut harus me- nutupi bagian kaki yang wajib dibasuh, 

3. Kedua khuf tersebut harus terbuat dari sesuatu yang tahan (kuat) terus-menerus dipergunakan untuk berjalan.


وَيَمْسَحُ الْمُقِيمُ يَوْماً وَلَيْلَةً، وَالْمُسَافِرُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ بِلَيَالِيْهِنَّ، وَابْتِدَاءُ الْمُدَّةِ مِنْ حِيْنِ يُحْدِثُ بَعْدَ لُبْسِ الْخُفَّيْنِ. 

Orang yang mukim boleh mengusap kedua khuf selama sehari semalam dan orang yang sedang bepergian (musafir) boleh meng- usap kedua khuf selama tiga hari tiga malam. Permulaan waktu (penghitungannya) mulai dari ketika hadas setelah memakai kedua khuf tersebut.



فَإِنْ مَسَحَ فِي الْحَضَرِ ثُمَّ سَافَرَ أَوْ مَسَحَ فِي السَّفَرِ ثُمَّ أَقَامَ أَتَمَّ مَسْحَ مُقِيمٍ. 

Apabila seseorang mengusap ketika ia berada di tempat tinggalnya (mukim) kemudian bepergian, atau mengusap ketika ia bepergian kemudian menetap (mukim), maka ia harus memenuhi (syarat) pengusapan seperti orang yang mukim.


Sebab² yang membatalkan sapu sepatu


وَيَبْطُلُ الْمَسْحُ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: (۱) بِخَلْعِهِمَا، (۲) وَانْقِضَاءِ الْمُدَّةِ، (۳) وَمَا يُوْجِبُ الْغُسْلَ.

Pengusapan khuf itu batal sebab tiga hal, yaitu: 

1. Dilepasnya kedua khuf tersebut

2. Telah habis waktu yang ditentu- kan,

3. Mengalami sesuatu yang mewa- jibkannya untuk mandi (junub, haid, nifas atau melahirkan).



(فَصْلٌ)

 وَشَرَائِطُ التَّيَمُّمِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: (۱) وُجُوْدُ الْعُذْرِ بِسَفَرٍ أَوْ مَرَضِ، (۲) وَدُخُولُ وَقْتِ الصَّلَاةِ، (۳) وَطَلَبُ الْمَاءِ (٤) وَتَعَدُّرُ اسْتِعْمَالِهِ وَاعْوَازُهُ بَعْدَ الطلب (٥) وَالتَّرَابُ الطَّاهِرُ الَّذِي لَهُ غُبَارٌ فَإِنْ خَالَطَهُ حِصَّ أَوْ رَمَلٌ لَمْ يُجْزِ. 

(Pasal) Syarat-syarat tayamum itu ada lima perkara, yaitu: 

1. Adanya halangan (udzur) karena bepergian atau sakit ketika telah masuk waktu salat, 

2. Masuk waktu salat, 

3. Mencari air (setelah datang waktu salat), 

4. Terhalang memakai air dan air tersebut diperlukan (misalnya untuk diminum) setelah (berhasil) mencarinya, 

5. (Memakai) tanah suci yang berdebu, bila debu tersebut bercampur kapur atau pasir, maka tidak boleh dipakai tayamum.


Fardhu-fardhu dalam tayammum


وَفَرَائِضُهُ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: ،(۱) النية( (۲) وَمَسْحُ الْوَجْهِ (۳) وَمَسْحُ الْيَدَيْنِ مَعَ الْمِرْفَقَيْنِ، (٤) وَالتَّرْتِيبُ

Fardu-fardu tayamum itu ada empat perkara, yaitu: 

1. Niat, 

2. Mengusap muka, 

3. Mengusap kedua tangan sampai dengan kedua siku, 

4. Tertib (berurutan).


Sunat-sunat dalam tayammum 


وَسُنَنُهُ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ: (1) التَّسْمِيَّةُ، (۲) وَتَقْدِيمُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى، (۳) وَالْمُوَالاَةُ، 

Sedangkan sunat tayamum itu ada tiga perkara, yaitu: 

1. Membaca basmalah, 

2. Mendahulukan (mengusap) anggota tubuh yang kanan dari yang kiri, 

3. Bersambung tanpa henti (di an- tara tiap-tiap pengusapan).


Sebab-sebab membatalkan tayammum 


وَالَّذِي يُبْطِلُ التَّيَمُّمَ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ : (۱) مَا أَبْطَلَ الْوُضُوْءَ، (۲) وَرُؤْيَةُ الْمَاءِ فِي غَيْرِ وَقْتِ الصَّلاةِ، (۳) وَالرِّدَّةُ،

Hal-hal yang membatalkan tayamum itu ada tiga perkara, yaitu: 

1. Segala sesuatu yang membatal- kan wudhu, 

2. Melihat air sebelum melakukan salat, 

3. Murtad (keluar dari Islam).


 وَصَاحِبُ الْجَبَائِرِ يَمْسَحُ عَلَيْهَا وَيَتَيَمَّمُ وَيُصَلِّي وَلَا إِعَادَةَ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ وَضَعَهَا عَلَى طُهْرٍ. 

Orang yang menggunakan pembalut (perban karena luka atau lainnya) boleh mengusap balutannya (ketika berwudu), tetapi kemudian harus bertaya- mum dan (barulah boleh) mela- kukan salat. Dan ia tidak wajib mengulangi salatnya apabila sewaktu menggunakan perban tersebut dalam keadaan suci.



وَيَتَيَمَّمُ لِكُلِّ فَرِيضَةٍ وَيُصَلِّي بِتَيَمُّمِ وَاحِدٍ مَا شَاءَ مِنَ النَّوَافِلِ. 

Seseorang (yang mempunyai udzur berwudhu) boleh bertaya- mum untuk setiap kali salat fardhu (sekali tayamum hanya untuk sekali salat fardhu). Tetapi sekali tayamum boleh untuk melakukan salat sunat beberapa kali sesuai yang ia kehendaki.


(فَصْلٌ)

 وَكُلُّ مَائِعِ خَرَجَ مِنَ السَّبِيلَيْنِ نَجَسٌ إِلَّا الْمَنِيَّ.

(Pasal) Setiap benda cair yang keluar dari dua jalan adalah najis, kecuali air mani.



 وَغَسْلُ جَمِيعِ الْأَبْوَالِ وَالْأَرْوَاتِ وَاجِبٌ إِلَّا بَوْلَ الصَّبِيِّ الَّذِي لَمْ يَأْكُلِ الطَّعَامَ فَإِنَّهُ يَطْهُرُ بِرَ الْمَاءِ عَلَيْهِ. 

Membasuh semua (yang terkena) air kencing dan kotoran (manusia atau binatang) itu adalah wajib, kecuali (yang terkena) air kencing anak laki- laki kecil yang belum makan makanan (kecuali air susu ibunya), maka bisa suci dengan diperciki air (sampai merata dan basah) pada tempatnya.


وَلَا يُعْفَى عَنْ شَيْءٍ مِنَ النَّجَاسَاتِ إِلَّا الْيَسِيْرَ مِنَ الدَّمِ وَالْقَيْحِ وَمَا لَا نَفْسَ لَهُ سَائِلَةٌ إِذَا وَقَعَ فِي الإِنَاءِ فَإِنَّهُ لَا يُنْحِسُهُ. 

Benda-benda najis itu tidak dimaafkan kecuali darah dan nanah yang sangat sedikit. Dan binatang kecil yang tidak berdarah mengalir, jika ia jatuh ke dalam tempat air dan mati di dalamnya, maka ia tidak menye- babkan air itu menjadi najis.



وَالْحَيَوَانُ كُلُّهُ طَاهِرٌ إِلَّا الْكَلْبَ وَالْخِنْزِيرَ وَمَا تَوَلَّدَ مِنْهُمَا أَوْ مِنْ أَحَدِهِمَا .

Seluruh binatang-binatang itu suci, kecuali anjing, babi, dan binatang yang dilahirkan dari anjing dan babi atau dari salah satunya 


 وَالْمَيْتَةُ كُلُّهَا نَحِسَةٌ إِلَّا السَّمَكَ وَالْجَرَادَ وَالْآدَمِيَّ.

Semua bangkai adalah najis, kecuali bangkai ikan, belalang, dan manusia (mayat).



 وَيُغْسَلُ الإِنَاءُ مِنْ وُلُوْعِ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيرِ سَبْعَ مَرَّاتٍ: إِحْدَاهُنَّ بِالتَّرَابِ، وَيُغْسَلُ مِنْ سَائِرِ النَّجَاسَاتِ مَرَّةً وَاحِدَةً تَأْتِي عَلَيْهِ وَالثَّلَاثُ أَفْضَلُ. 

Bejana yang terkena ludah anjing dan babi harus dibasuh tujuh kali, dan salah satu basuhannya harus dicampuri dengan tanah. Dan semua najis- najis selain itu cukup dibasuh sekali saja pada tempatnya. Akan lebih utama bila dibasuh sebanyak tiga kali.



وَإِذَا تَخَلَّلَتِ الْخَمْرَةُ بِنَفْسِهَا طَهُرَتْ، وَإِنْ تَخَلَّلَتْ بِطَرْحِ شَيْءٍ فِيهَا لَمْ تَطْهُرْ.

Jika khamar (benda cair yang memabukkan yang dibuat dari bahan yang suci) menjadi cuka dengan sendirinya, maka hukum- nya suci. Jika menjadi cuka sebab diberikan sesuatu ke dalamnya, maka hukumnya tidak suci (najis).

Darah-darah yang keluar dari kemaluan perempuan 


 (فَصْلٌ) 

وَيَخْرُجُ مِنَ الْفَرْجِ ثلاثة دماء:(۱) دَمُ الْحَيْض (٢) وَالنّفَاسِ (۳) وَالاِسْتِحَاضَةِ

(Pasal) Darah yang keluar dari kemaluan wanita ada tiga macam, yaitu: 

1. Darah haid, 

2. Darah nifas, 

3. Darah Istihadhah.



فَالْحَيْضُ هُوَ الدَمُ الْخَارِجُ مِنْ فَرْجِ الْمَرْأَةِ عَلَى سَبِيلِ الصَّحَةِ مِنْ غَيْرِ سَبَبِ الْوِلَادَةِ، وَلَوْتُهُ أَسْودُ مُحْتَدِمٌ لَذَاعٌ. 

Darah haid adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita dalan keadaan sehat, bukan karena melahirkan, warnanya hitam kemerah-merahan lagi terasa panas.


وَالنَّفَاسُ هُوَ الدَّمُ الْخَارِجُ عَقِبَ الْوِلَادَةِ. 

Darah Nifas adalah darah yang keluar setelah melahirkan. 


وَالاِسْتِحَاضَةُ هُوَ الدَّمُ الْخَارِجُ فِي غَيْرِ أَيَّامِ الْحَيْضِ وَالنَّفَاسِ. 

Sedangkan darah Istihadhah adalah darah yang keluar selain pada hari-hari haid dan nifas



وَأَقَلُّ الْحَيْضِ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ وَأَكْثَرُهُ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا، وَغَالِبُهُ ستْ أَوْ سَبْعٌ 

Waktu haid itu paling sedikit adalah sehari semalam, dan paling lama 15 hari. Sedangkan pada umumnya 6 atau 7 hari.


وَأَقَلُّ النَّفَاسِ لَحْظَةٌ، وَأَكْثَرُهُ ستُونَ يَوْمًا، وَغَالِبُهُ أَرْبَعُوْنَ يَوْماً.

Waktu nifas paling sedikit adalah sekejap mata (satu kali pancaran), dan paling lama 60 hari. Sedangkan pada umumnya adalah 40 hari.


 وَأَقَلُّ الطَّهْرِ بَيْنَ الْحَيْضَتَيْنِ خمسة عَشَرَ يَوْمًا وَلَا حَدَّ الأكثره.

Masa suci antara dua haid itu paling sedikit adalah 15 hari, dan paling lama tidak terbatas.


 وَأَقَلُّ زَمَن تَحِيضُ فِيْهِ الْمَرْأَةُ تسع سنين.

Sekurang-kurangnya umur wanita yang mulai haid itu 9 tahun.



وَأَقَلُّ الْحَمْلِ سِتَّةُ أَشْهُرٍ، وَأَكْثَرُهُ أَرْبَعُ سِنِينَ، وَغَالِبُهُ تِسْعَةُ أَشْهُرٍ. 

Sekurang-kurangnya masa mengandung itu adalah 6 bulan, dan paling lama 4 tahun. Sedangkan pada umumnya adalah 9 bulan.


Hal-hal yang haram dilakukan ketika haid dan nifas 


وَيَحْرُمُ بِالْحَيْضِ وَالنَّفَاسِ ثَمَانِيَةُ أَشْيَاءَ: (۱) الصَّلَاةُ، (۲) وَالصَّوْمُ، (۳) وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ، (٤) وَمَسُّ الْمُصْحَفِ وَحَمْلُهُ، (٥) وَدُخُولُ الْمَسْجِدِ، (٦) وَالطَّوَافُ، (۷) وَالْوَطْءُ، (۸) وَالْاِسْتِمْتَاعُ بِمَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ. 

Hal-hal yang diharamkan (tidak boleh dilakukan oleh) wanita yang sedang haid atau nifas itu ada delapan per- kara, yaitu: 

1. Salat, 

2. Puasa, 

3. Mem- baca Al-Quran, 

4. Menyentuh dan membawa Mushhaf Al- Quran, 

5. Masuk ke dalam masjid, 

6. Thawaf, 

7. Bersetubuh, 

8. Menikmati bagian tubuh yang ada di antara pusat dan lutut.


Hal-hal yang haram dilakukan ketika berjunub


وَيَحْرُمُ عَلَى الْجُنُبِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: (۱) الصَّلَاةُ، (۲) وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ، (۳) وَمَسُ الْمُصْحَفِ وَحَمْلُهُ، (٤) وَالطَّوَافُ، (٥) وَاللُّبْتُ فِي الْمَسْجِدِ. 

Dan haram (dilarang) bagi orang yang sedang junub untuk mengerjakan lima perkara, yaitu: 

1. Shalat, 

2. Membaca Al- Quran, 

3. Menyentuh dan membawa Musshaf Al-Quran, 

4. Thawaf, 

5. Berdiam di masjid.


Hal-hal yang haram dilakukan ketika berhadas kecil


وَيَحْرُمُ عَلَى الْمُحْدِثِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ: (۱) الصَّلَاةُ، (۲) وَالطَّوَافُ، (۳) وَمَسَّ الْمُصْحَفِ وَحَمْلُهُ.

Sedangkan bagi orang yang berhadas kecil haram (dilarang) untuk mengerjakan tiga hal, yaitu:

1. Salat,

 2. Thawaf, 

3. Menyentuh dan membawa Mushhaf Al- Quran.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terjemah kitab matan taqrib pembahasan tentang hukum-hukum shalat

كِتَابُ الصَّلَاةِ  Pembahasan shalat  Shalat-shalat yang diwajibkan  الصَّلَاةُ الْمَفْرُوْضَةُ خَمْسٌ: Shalat yang diwajibkan itu ada 5.yaitu:  (۱) الظَّهْرُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهَا زَوَالُ الشَّمْسِ، وَآخِرُهُ إِذَا صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ بَعْدَ ظِلَّ الزَّوَال.  1. Zhuhur,  waktu salat zhuhur mulai setelah lewat rembang matahari (setelah matahari tergelincir ke arah barat). Dan akhir waktunya adalah ketika bayang- bayang sebuah benda telah sama panjangnya dengan benda itu, sesudah matahari lewat rembang. (۲) وَالْعَصْرُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهَا الزَّيَادَةُ عَلَى ظِلَّ الْمِثْلِ، وَآخِرُهُ في الاخْتِيَارِ إِلَى ظِلَّ الْمِثْلَيْنِ وَفِي الْجَوَازِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ  2. Ashar,  waktu salat ashar dimulai setelah bayang-bayang sebuah benda yang sama dengan benda aslinya tadi bertambah panjang. Dan akhir waktunya menurut waktu Ikhtiar (waktu yang menjadi pilihan untuk menger- jakan salat sebelum masuk pada bagian waktu berikutnya) adalah...

Terjemah kitab mutammimah tentang bab kalam

               بَابُ الكلام          Bab Kalam     الكلامُ هُوَ  اللفظ المُرَكَّبُ الْمُفِيدُ بالوضع kalam adalah satu lafazd yang murakkab yang memberi faedah dengan waza'(sengaja)/bahasa arab Keterangan : • Lafadz adalah suara yang mengandung sebagian huruf Hijaiyah (huruf huruf Arab yang diawali dari alif sampai ya'). Contoh: زَيْدُ dan قَائِمُ  • Murokkab adalah lafadz yang tersusun dari dua kalimat atau lebih dengan susunan isnadi (penisbatan atau penyandaran hukum yang menjadikan kesempurnaan faidah). Contoh: زَيْدُ قَائِمٌ )Zaid orang yang berdiri( أنا قائم )Saya orang yang berdiri • Mufid adalah ungkapan berfaidah yang dapat memberikan pemahaman sehingga tidak membutuhkan pertanyaan dari orang yang mendengarkan. Contoh: زَيْدُ قَائِمٌ )Zaid orang yang berdiri( • Wad'i menurut sebagian ulama' nahwu adalah berbahasa Arab, dan menurut ulama' yang lain wad'i adalah disengaja oleh orang yang men...

Terjemah kitab matammimah tentang isem alam

    _________________________________________ Note:⚠️ Bila antum menemukan kesalahan dalam penulisan maka sangat diharapkan untuk mengomentari nya, Syukran kasiran ____________________________________________   فَصْلٌ فِي بَيَانِ الإِسْمِ الْعَلَمِ Fasal Tentang Isim Alam الْعَلَمُ نَوْعَانِ: شَخْصِيٌّ وَهُوَ مَا وُضِعَ لِشَيْءٍ بِعَيْنِهِ لَا يَتَنَاوَلُ غَيْرُهُ كَزَيْدٍ وَفَاطِمَةَ وَمَكَّةَ وَشَدْقَمٍ وَقَرَنٍ. Isim alam ada dua. Yaitu: 1. Alam syakhs, ialah alam yang diletakkan (dicetak) untuk sesuatu yang sudah nyata (individu) dan tidak mencakup yang lainnya.  Contoh: زَيْدٍ - فَاطِمَةَ - مَكَّةَ - شَدْقَم - قَرَنٍ  وَجِنْسِيٌّ وَهُوَ مَا وُضِعَ لِجِنْسِ مِنَ الْأَجْنَاسِ كَأَسَامَةَ لِلْأَشَدِ وَثُعَالَةَ لِلتَّعْلَبِ وَذُؤَالَةَ لِلذِّئْبِ وَأُمُّ عِرْيَطٍ لِلْعَقْرَبِ. 2. Alam jinis, ialah alam yang diletakkan (dicetak) untuk beberapa jinis.  Contoh: أسامة untuk nama harimau, تُعَالَةَ untuk nama musang, ذُؤَالَةَ untuk srigala, dan أُمُّ عِرْبَط...