![]() |
| Tentang puasa |
كتاب الصيام
Pembahasan puasa
وَشَرَائِطُ وُجُوْبِ الصِّيَامِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ :
(۱) الْإِسْلَامُ،
(۲) وَالْبُلُوْغُ،
(۳) وَالْعَقْلُ،
(٤) وَالْقُدْرَةُ عَلَى الصَّوْمِ.
Syarat-syarat wajib puasa itu ada empat, yaitu:
1. Islam,
2. Dewasa (baligh),
3. Berakal,
4. Mampu berpuasa.
وَفَرَائِضُ الصَّوْمِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: ،1) النِّيَةُ( (۲) وَالْإِمْسَاكُ عَنِ الْأَكْلِ وَالشَّرْبِ (۳) وَالْجِمَاعِ، (٤) وَتَعَمُّدِ الْقَيْءِ.
Fardhu-fardhu puasa itu ada empat, yaitu:
1. Niat,
2. Tidak makan dan minum,
3. Tidak Bersenggama (di siang hari),
4. Tidak muntah dengan sengaja.
وَالَّذِي يُفْطِرُ بِهِ الصَّائِمُ عَشَرَةُ أَشْيَاءَ : (۱) مَا وَصَلَ عَمْداً إِلَى الْجَوْفِ، (۲) أَوِ الرَّأْسِ، (۳) وَالْحُقْنَةُ فِي أَحَدِ السَّبِيلَيْنِ، (٤) وَالْقَيْءُ عَمْداً، (٥) وَالْوَطْء عَمْداً فِي الْفَرْجِ، (1) وَالْإِنْزَالُ عَنْ مُبَاشَرَةٍ، (۷) وَالْحَيْضُ، (۸) وَالنَّفَاسُ، (۹) وَالْجُنون (١٠) وَالرَّدَّةُ.
Yang membatalkan puasa seseorang ada sepuluh hal, yaitu:
1. Memasukkan sesuatu melalui lubang (yang lazim dalam tubuh manusia) dengan sengaja,
2. Memasukkan sesuatu dengan sengaja (melalui lubang yang ada) di kepala,
3. Memasukkan obat ke dalam salah satu dari dua jalan (kemaluan),
4. Muntah dengan sengaja,
5. Bersetubuh dengan sengaja pada kemaluan (farji),
6. Keluar mani karena bersentuhan (bercumbu rayu),
7. Haid,
8. Nifas,
9. Gila,
10. Murtad (keluar dari Islam).
وَيُسْتَحَبُّ فِي الصَّوْمِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ: (۱) تَعْجِيْلُ الْفِطْرِ، (۲) وَتَأْخِيرُ السَّحُورِ، (۳) وَتَرْكُ الْهُجْرِ مِنَ الْكَلَامِ.
Dalam berpuasa disunatkan tiga hal, yaitu:
1. Menyegerakan berbuka,
2. Mengakhirkan sahur,
3. Meninggalkkan perkataan yang keji.
وَيَحْرُمُ صِيَامُ خَمْسَةِ أَيَّامٍ: (۱) الْعِيْدَانِ، (۲) وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ الثلاثة.
Diharamkan berpuasa pada hari-hari yang lima, yaitu:
- Dua hari raya (idul fitri dan idul adha) dan,
-hari-hari tasyriq yang berjumlah tiga hari (tanggal 11,12 dan 13 Dzulhijjah).
وَيُكْرَهُ صَوْمُ يَوْمُ الشَّكَ إِلَّا أَنْ يُوَافِقَ عَادَةً لَهُ.
Dan dimakruhkan berpuasa pada hari yang diragukan, kecuali jika bertepatan dengan hari biasanya dia berpuasa.
وَمَنْ وَطِئَ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ عَامِداً فِي الْفَرْجِ فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ وَالْكَفَّارَةُ وَهِيَ عِتْقُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ،فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِيْنَ مِسْكِيْنَا لِكُلِّ مِسْكِيْنِ مُدِّ.
Barangsiapa yang bersetubuh pada siang hari di bulan Ramadan dengan sengaja pada kemaluan (farji), maka ia harus mengganti puasanya dan membayar denda (kafarat), yaitu:
- Memerdekakan seorang budak mukmin. Jika tidak diperolehnya,
- ia harus berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika ia tidak kuasa mengerjakan,
- ia wajib mengganti dengan memberi makan kepada 60 orang miskin, untuk tiap orang 1 mud.
وَمَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ مِنْ رَمَضَانَ أُطْعِمَ عَنْهُ لِكُلِّ يَوْمٍ مُدِّ.
Dan barangsiapa yang meninggal dunia sedang ia mempunyai tanggungan (utang) puasa Ramadan, maka harus dikeluarkan makanan atas namanya untuk tiap hari 1 mud.
وَالشَّيْخُ الْهَرَمُ إِذَا عَجَزَ عَنِ الصَّوْمِ يُفْطِرُ وَيُطْعِمُ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مداً .
Orang tua yang telah lanjut usia, jika tidak kuat untuk berpuasa, boleh tidak berpuasa, tetapi harus mengganti puasanya dengan memberi makan kepada orang miskin tiap hari 1 mud.
وَالْحَامِلُ وَالْمُرْضِعُ إِنْ خَافَتَا عَلَى أَنْفُسِهِمَا أَفْطَرَنَا وَعَلَيْهِمَا الْقَضَاءُ، فَإِنْ خَافَتَا عَلَى أَوْلَادِهِمَا أَفْطَرَنَا وَعَلَيْهِمَا الْقَضَاءُ وَالْكَفَّارَةُ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مُدٌ وَهُوَ رِطْلٌ وَثُلُثَ بالْعِرَاقِيِّ.
Wanita yang hamil dan wanita yang menyusui jika khawatir akan kesehatan dirinya, boleh tidak berpuasa, dan keduanya harus mengqada' (mengganti pada hari yang lain). Jika keduanya meng- khawatirkan kesehatan anaknya, maka ia boleh tidak berpuasa, tetapi harus mengqada' dan membayar fidyah untuk tiap hari 1 mud, yaitu 1,5 kati Irak (6 ons).
وَالْمَرِيْضُ وَالْمُسَافِرُ سَفَراً طويلاً يُفْطِرَانِ وَيَقْضِيَان.
Orang yang sedang sakit dan orang yang dalam perjalanan jauh, boleh berbuka, tetapi harus mengqada.
(فَصْلٌ)
وَالإِعْتِكَافُ سُنَّةٌ مُسْتَحَبَّةٌ، وَلَهُ شَرْطَان: النِّيَّةُ وَاللَّبْتُ فِي الْمَسْجِدِ، وَلَا يَخْرُجُ مِنَ الْإِعْتِكَافِ الْمَنْذُوْرِ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ أَوْ عُذْرٍ مِنْ حَيْضِ أَوْ مَرَضِ لَا يُمْكِنُ الْمَقَامُ مَعَهُ وَيَبْطُلُ بِالْوَطْءِ.
(Pasal) Iktikaf, (berdiam diri di masjid) itu sunat yang sangat dianjurkan. Dan iktikaf itu mempunyai dua syarat, yaitu:
1. Niat,
2. Berdiam di masjid.
Seseorang tidak diperbolehkan keluar dari iktikaf yang dinadzari kecuali untuk keperluan (yang bersifat ) manusiawi (seperti kencing dan buang air besar), atau karena datangnya udzur (halangan) di antaranya haid, atau sakit yang tidak memungkinkan seseorang untuk berdiam di masjid. Dan iktikaf itu menjadi batal karena persetubuhan.

Komentar
Posting Komentar