SIFAT MUSTAHIL BAGI ALLAH
________________________________________
(ص)
(وَمِمَّا يَسْتَحِيلُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى عِشْرُوْنَ صِفَةً، وَهِيَ أَضْدَادُ الْعِشْرِينَ الأولى)
Di antara sifat yang mustahil bagi Allah Ta'ala, ada 20 sifat, yaitu kebalikan 20 sifat wajib yang telah disebutkan pertama kali.
________________________________________
■ Syarh
[ش]
مُرَادُهُ بِالضَّدَّ هُنَا الضَّدُّ اللُّغَوِيُّ، وَهُوَ كُلُّ مُنَافٍ سَوَاءٌ كَانَ وُجُودِيًّا أَوْ عَدَمِيًّا، فَكَأَنَّهُ يَقُوْلُ: يَسْتَحِيلُ فِي حَقَّهِ تَعَالَى كُلُّ مَا يُنَافِي صِفَةً مِنَ الصَّفَاتِ الْأَوْلَى.
Maksud Kitab Asal dengan kata ضِدُّ (kebalikan) di sini adalah kebalikan lughawi, yaitu setiap hal yang menafikannya, baik yang bersifat wujud maupun yang bersifat tidak wujud, seolah Kitab Asal menyata- kan: "Mustahil bagi Allah Ta'ala setiap sifat yang menafikan suatu sifat dari sifat-sifat wajib-Nya yang telah disebutkan pertama kali."
لمَا تَقَرَّرَ وُجُوْبُهَا لَهُ تَعَالَى عَقْلًا وَشَرْعًا، وَقَدْ عَرَفْتَ أَنَّ حَقِيقَةً الْوَاجِبِ مَا لَا يُتَصَوَّرُ فِي الْعَقْلِ عَدَمُهُ، لَزِمَ أَنْ لَا يَقْبَلَ جَلَّ وَعَزَّ الْإِنْصَافَ بِمَا يُنَافِي شَيْئًا مِنْهَا.
Ketika alasan 'aqli dan syar'i telah menetapkannya bagi Allah Ta'ala, padahal Anda tahu, bahwa hakikat wajib adalah sesuatu yang ketiada- annya tidak dapat dibayangkan dalam akal, maka hal itu memas- tikan bahwa Allah-Jalla wa 'Azza- tidak bersifat dengan sifat yang menafikan sifat manapun darinya.
وَأَنْوَاعُ الْمُنَافَاةِ عَلَى مَا تَقَرَّرَ فِي الْمَنْطِقِ أَرْبَعَةُ: تَنَا فِي التَّقِيْضَيْنِ، وَتَنَا فِي الْعَدَمَ وَالْمَلَكَةَ، وَتُنَا فِي الضَّدَّيْنِ، وَتَنَا فِي الْمُتَضَابِفَيْنِ؛ فَكُلُّ نَوْعٍ مِنْ هَذِهِ الْأَنْوَاعِ الْأَرْبَعَةِ لَا يُمْكِنُ الْاجْتِمَاعُ فِيْهِ بَيْنَ الطَّرَفَيْنِ.
Adapun macam-macam hal yang saling menafikan (menegasikan) ada 4, yaitu penafian naqidhain, penafian 'adam dan malakah,penafian dhiddain, dan penafian mutadhayifain. Di antara dua sisi dari masing-masing keempat penafian ini tidak mungkin menjadi satu.
أَمَّا النَّقِيْضَيْنِ فَهُمَا ثُبُوْتُ أَمْرٍ وَنَفْيِهِ، كَثُبُوْتِ الْحَرَكَةِ وَنَفْيِهَا.
Adapun penafian naqidhain adalah tetapnya sesuatu dan penafiannya. Seperti tetapnya dan ternafikan- nya gerakan.
وَأَمَّا الْعَدَمُ وَالْمَلَكَةُ فَهُمَا ثُبُوْتُ أَمْرٍ وَنَفْيُهُ عَمَّا مِنْ شَأْنِهِ أَنْ يَتَّصِفَ بِهِ كَالْبَصَرِ وَالْعَمَى مَثَلًا، فَالْبَصَرُ وُجُوْدِيُّ، وَهِيَ الْمَلَكَةُ وَالْعَمَى نَفْيُهُ عَمَّا مِنْ شَأْنِهِ أَنْ يَتَّصِفَ بِهِ بِالْبَصَرِ وَلِهَذَا لَا يُقَالُ فِي الْحَائِطِ أَعْمَى، لِأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ شَأْنِهِ أَنْ يَتَّصِفَ بِالْبَصَرِ عَادَةً وَبِهَذَا فَارَقَ هَذَا النَّوْعُ النَّقِيْضَيْنِ، فَإِنَّ كُلَّا مِنَ النَّوْعَيْنِ وَإِنْ كَانَ هُوَ ثُبُوْتُ أَمْرٍ وَنَفْيُهُ لَكِنِ النَّفْيُ فِي تَقَابُلِ الْعَدَمِ وَالْمَلَكَةِ مُقَيَّدُ بِنَفْيِ الْمَلَكَةِ عَمَّا مِنْ شَأْنِهِ أَنْ يَتَّصِفَ بِهَا، وَفِي التَّقِيْضَيْنِ لَا يُتَقَيَّدُ بِذَلِكَ.
Adapun penafian 'adam dan malakah adalah tetapnya sesuatu dan penafiannya dari suatu objek yang semestinya bersifatan de- ngannya. Seperti melihat dan buta, umpamanya. melihat merupakan sesuatu yang bersifat wujud, yaitu merupakan malakah, sedangkan buta adalah menafikannya dari sesuatu yang semestinya bersifat melihat. Karena itu, tembok tidak dapat disebut buta, karena adatnya tidak semestinya ia memiliki sifat melihat. Dengan demikian, penafian ini berbeda dengan penafian naqidhain. Sebab, meskipun masing-masing dari keduanya merupakan tetapnya sesuatu dan penafiannya, namun penafian antara 'adam dan malakah dibatasi dengan penafian malakah dari sesuatu yang semestinya bersifatan dengannya, sementara penafian naqidhain tidak terbatasi dengannya
وَأَمَّا الضَّدَّانِ فَهُمَا الْمَعْنَيَانِ الْوُجُوْدِيَّانِ اللَّذَانِ بَيْنَهُمَا غَايَةُ الخِلَافِ، وَلَا تَتَوَقَّفُ عَقْلِيَّةُ أَحَدِهُمَا عَلَى عَقْلِيَّةِ الْآخَرِ، وَمِثَالُهُمَا الْبَيَاضُ وَالسَّوَادُ، وَمُرَادُنَا بِغَايَةِ الْخِلَافِ التَّنَافِيُّ بَيْنَهُمَا بِحَيْثُ لَا يَصِحُ اجْتِمَاعُهُمَا، وَاحْتَرَزَ بِذَلِكَ مِنَ الْبَيَاضِ مَعَ الْحَرَكَةِ مَثَلًا، فَإِنَّهُمَا أَمْرَانِ وُجُودِيَّانِ مُخْتَلِفَانِ فِي الحَقِيقَةِ، لَكِنْ لَيْسَ بَيْنَهُمَا غَايَةُ الْخِلَافِ الَّتِي هِيَ التَّنَافِيُّ لِصِحَةِ اجْتِمَاعِمَا، إِذْ يُمْكِنُ أَنْ يَكُوْنَ الْمَحَلُّ الْوَاحِدُ مُتَحَرِّكًا أَبْيَضَ.
Adapun dhiddain, merupakan dua makna yang wujud yang di antara keduanya terdapat ghayat al- khilaf, dan penashawwuran salah satunya tidak tergantung pada penashawwuran selainnya, seperti putih dan hitam. Maksud kami dengan ungkapan ghayat al-khilaf adalah penafian antara keduanya mencapai taraf tidak mungkin dapat berkumpul dalam satu objek. Hal ini mengecualikan penafian antara putih dengan gerakan, misalnya. Sebab keduanya merupakan dua hal yang wujud yang pada hakikatnya berbeda, namun di antara keduanya tidak terdapat ghayat al-khilaf yang merupakan penafian atas keabsahan perkumpulan keduanya. Sebab mungkin saja satu objek bergerak dan berwarna putih.
وَأَمَّا الْمُتَضَابِفَانِ فَهُمَا الْأَمْرَانِ الْوُجُوْدِيَانِ اللَّذَانِ بَيْنَهُمَا غَايَةُ الْخِلَافِ، وَتَتَوَقَّفُ عَقْلِيَّةُ أَحَدِهِمَا عَلَى عَقْلِيَّةِ الْآخَرِ كَالْأُبُوَّةِ وَالْبُنُوَّةِ مَثَلًا، وَالْمُرَادُ بِالْوُجُودِ فِي الْمُتَضَابِفَيْنِ إِنَّ كُلَّا مِنْهُمَا لَيْسَ مَعْنَاهُ عَدَمُ كَذَا لَا أَنَّهُمَا مَوْجُوْدَانِ فِي الْخَارِجِ، إِذْ مِنَ الْمَعْلُوْمِ عِنْدَ الْمُحَقِّقِيْنَ أَنَّ الْأُبُوَّةَ وَالْبُنُوَّةَ أَمْرَانِ اعْتِبَارَيَّانِ لَا وُجُودَ لَهُمَا فِي الْخَارِجِ عَنِ الذَّهْنِ.
Adapun mutadhayifan adalah dua hal yang wujud yang di antara keduanya terdapat gahyah al- khilaf, dan penashawwuran salah satunya tergantung pada penashaw- wuran yang lainnya. Seperti sifat kebapakan dan kenabian, umpa- manya. Maksud wujud dalam mutadhayifain adalah tidaklah makna masing-masing dari mutadhayifain adalah tidak adanya sesuatu, bukan bahwa keduanya wujud secara nyata. Sebab, telah maklum bagi muhaqqiqin bahwa sifat kebapakan dan kenabian merupakan dua hal yang bersifat i'tibari yang tidak ada wujudnya secara nyata.
وَأَهْلُ الْأُصُولِ يَجْعَلُوْنَ أَقْسَامَ الْمُنَافَاةِ اثْنَيْنِ فَقَطْ : تَنَافِي الضَّدَّيْنِ وَتَنَا فِي النَّقِيْضَيْنِ وَيَجْعَلُوْنَ الْعَدَمَ وَالْمَلَكَةَ دَاخِلَيْنِ فِي النَّقِيْضَيْنِ وَالْمُتَضَابِفَيْنِ دَاخِلَيْنِ فِي الضَّدَّيْنِ.
Sementara para Ahli Ushul menjadikan pembagian hal yang saling menafikan menjadi dua saja, yaitu penafian dhiddain dan penafian naqidhain, dan mengategorikan 'adam dan malakah termasuk dalam kategori naqidhain dan mengategorikan mutadhayifain dalam kategori dhiddain.
وَلِهَذَا يَقُوْلُوْنَ: الْمَعْلُوْمَاتُ مُنْحَصِرَةٌ فِي أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ: الْمِثْلَيْنِ وَالضَّدَّيْنِ وَالْخِلَافَيْنِ وَالنَّقِيْضَيْنِ، لِأَنَّ الْمَعْلُوْمَيْنِ إِنْ أَمْكَنَ اجْتِمَاعُهُمَا فَهُمَا الْخِلَافَانِ، وَإِلَّا فَإِنْ لَمْ يُمْكِنُ مَعَ ذَلِكَ ارْتِفَاعُهُمَا فَهُمَا النَّقِيْضَانِ، وَإِنْ أَمْكَنَ مَعَ ذَلِكَ ارْتِفَاعُهُمَا فَإِمَّا أَنْ يَخْتَلِفًا فِي الْحَقِيقَةِ أَوْ لَا الْأَوَّلُ الضَّدَّانِ وَالثَّانِي الْمِثْلَانِ.
Sebab itu, mereka berpendapat, bahwa ma'lumat (sesuatu yang dipahami akal dan diketahui) hanya ada empat macam, yaitu mitslain, 42 dhiddain, khilafain, dan naqidhain. Sebab sungguh ma'lumain (dua hal yang yang dipahami akal dan diketahui), bila mungkin wujud secara bersamaan, maka merupakan khilafain; bila tidak mungkin wujud secara bersamaan, maka bila dalam kondisi tersebut keduanya tidak mungkin tiada secara bersamaan, maka keduanya merupakan naqidhain, dan bila dalam kondisi tersebut keduanya mungkin tiada secara bersamaan, maka pada hakikatnya mungkin keduanya berbeda, dan mungkin tidak berbeda. Kemungkinan pertama merupakan dhiddain, dan kemungkinan kedua merupakan mitslain.
فَخَرَجَ مِنْ هَذَا أَنَّ الْقِسْمَ الْأَوَّلَ مِنْ هَذِهِ الْأَقْسَامِ الْخِلَافَانِ، وَهُمَا يَجْتَمِعَانِ وَيَرْتَفِعَانِ كَالْكَلَامِ وَالْقُعُوْدِ لِزَيْدٍ، وَالثَّانِي النَّقِيْضَانِ لَا يَجْتَمِعَانِ وَلَا يَرْتَفِعَانِ كَوُجُودِ زَيْدٍ وَعَدَمِهِ. وَالثَّالِثُ الضَّدَّانِ لَا يَجْتَمِعَانِ وَقَدْ يَرْتَفِعَانِ كَالْحَرَكَةِ وَالسُّكُوْنِ، فَإِنَّهُمَا لَا يَجْتَمِعَانِ وَقَدْ يَرْتَفِعَانِ لِعَدَمٍ مَحَلَّهِمَا الَّذِي هُوَ الْجِرْمُ، وَالرَّابِعُ الْمِثْلَانِ لَا يَجْتَمِعَانِ وَقَدْ يَرْتَفِعَانِ كَالْبَيَاضِ وَالْبَيَاضِ.
Karenanya, dari hal ini muncul kesimpulan, bahwa bagian pertama dari ma'lumat adalah khilafain, yaitu dua hal yang dapat wujud secara bersamaan dan tiada secara bersama, seperti bicara dan duduk bagi Zaid. Kedua adalah naqidhain yang tidak dapat wujud secara bersamaan dan tidak dapat tiada secara bersamaan, seperti wujud dan tidak wujudnya Zaid. Ketiga adalah dhiddain, yang tidak dapat wujud secara bersamaan namun terkadang dapat tiada secara bersamaan, seperti gerak dan diam, sebab keduanya tidak dapat berkumpul (dalam satu objek) karena tidak adanya objek keduanya, yaitu jirm. Keempat adalah mitslain, yang tidak dapat wujud secara bersamaan, namun terkadang tiada secara bersamaan, seperti hitam dan putih.
وَاحْتَجَّ أَصْحَابُنَا عَلَى أَنَّ الْمِثْلَيْنِ لَا يَجْتَمِعَانِ بِأَنَّ الْمَحَلَّ لَوْ قَبِلَ الْمِثْلَيْنِ لَلَزِمَ أَنْ يَقْبَلَ الضَّدَّيْنِ. فَإِنَّ الْقَابِلَ لِلشَّيْءِ لَا يَخْلُوْ عَنْهُ أَوْ عَنْ مِثْلِهِ أَوْ ضِدِّهِ فَلَوْ قَبِلَ الْمِثْلَيْنِ لَجَازَ وُجُودُ أَحَدِهِمَا فِي الْمَحَلَّ مَعَ انْتِفَاءِ الْآخَرِ فَيَخْلُفُهُ ضِدُّهُ، فَيَجْتَمِعُ الضَّدَّانِ وَهُوَ محال.
Ulama Ahlussunnah berhujah atas pendapat bahwa mitslain tidak dapat wujud secara bersamaan, dengan alasan bahwa suatu objek bila menerima mitslain, niscaya ia menerima dhiddain. Sebab suatu objek yang dapat menerima sesuatu, pasti tidak terlepas dari sesuatu tersebut, dari sesamanya, atau dari perlawanannya. Sebab itu, bila suatu objek menerima mitslain, niscaya dapat terjadi wujudnya salah satu dari mitslain itu pada objek yang ditempatinya, bersamaan dengan tidak adanya salah satu yang lain, lalu lawan darinya menggantikannya, dan berkumpullah dhiddain, sementara hal semacam itu mustahil terjadi.
________________________________________
1,2 &3. 'Adam, Huduts, dan Thuruw al-'Adam (Datangnya 'Adam)
[ص]
(وَهِيَ الْعَدَمُ، وَالْحُدُوْتُ، وَطُرُقُ الْعَدَمِ)
20 sifat mustahil bagi Allah tersebut adalah (1) 'adam (tidak wujud sama sekali), (2) huduts (wujud dengan permulaan), dan (3) thuruw al-'adam (tiada setelah wujud).
_______________________________________
[ش]
اعْلَمْ أَنَّهُ رَتَبَ هَذِهِ الْعِشْرِيْنَ الْمُسْتَحِيْلَةَ عَلَى حَسَبِ تَرْتِيبِ الْعِشْرِينَ الْوَاجِبَةِ، فَذُكِرَ مَا يُنَافِي الصَّفَةَ الْأَوْلَى ثُمَّ مَا يُنَافِي الثَّانِيَةَ وَهَكَذَا عَلَى ذَلِكَ التَّرْتِيبِ إِلَى آخِرِهَا.
Ketahuilah, sungguh urutan 20 sifat mustahil ini sesuai dengan urutan 20 sifat wajib. Sebab itu disebutkan sifat mustahil yang menafikan sifat wajib yang pertama, kemudian yang menafikan sifat wajib yang kedua, dan seterusnya sesuai urutannya sampai akhir.
فَالْعَدَمُ نَقِيضُ الصَّفَةِ الْأَوْلَى وَهِيَ الْوُجُودُ، وَالْحُدُوْثُ نَقِيضُ الصَّفَةِ الثَّانِيَةِ وَهِيَ الْقِدَمُ، وَطُرُو الْعَدَمِ، وَيُسَمَّى الْفَنَاءَ، هُوَ نَقِيضُ الصَّفَةِ الثَّالِثَةِ وَهِيَ الْبَقَاءُ.
'Adam lawan sifat wajib yang pertama, yaitu wujud, huduts lawan sifat wajib kedua, yaitu qidam; dan thuruw al-'adam yang disebut fana lawan sifat wajib ketiga, yaitu baqa'.
وَاسْتِحَالَةُ الْعَدَمِ عَلَيْهِ تَعَالَى تَسْتَلْزِمُ اسْتِحَالَةَ الصَّفَتَيْنِ الْأَخِيرَتَيْنِ عَلَيْهِ جَلَّ وَعَزَّ، وَهُمَا الْحُدُوْثُ وَطُرُقُ الْعَدَمِ لِأَنَّ الْعَدَمَ إِذَا كَانَ مُسْتَحِيْلًا فِي حَقَّهِ تَعَالَى لَمْ يُتَصَوَّرُ لَا سَابِقًا وَلَا لَا حِقًا، وَبِهَذَا تُعْرَفُ أَنَّ وُجُوْبَ الْوُجُودِ لَهُ جَلَّ وَعَزَّ يَسْتَلْزِمُ وُجُوبَ الْقِدَمِ وَالْبَقَاءِ لَهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.
Kemustahilan 'adam bagi Allah Ta'ala menetapkan kemustahilan dua sifat selainnya bagi-Nya-Jalla wa 'Azza-, yaitu huduts dan thuruw al-'adam. Sebab, sungguh bila 'adam mustahil bagi Allah Ta'ala, maka 'adam tidak tertashaw- wurkan pernah dan akan terjadi pada-Nya. Dari hal ini diketahui, bahwa wajibnya sifat wujud bagi Allah-Jalla wa 'Azza-menetapkan wajibnya sifat qidam dan baqa bagi-Nya-Tabaraka wa Ta'ala-.
فَعَطْفُ الْقِدَمِ وَالْبَقَاءِ هُنَالِكَ عَلَى الْوُجُودِ مِنْ عَطْفِ الْخَاص عَلَى الْعَامِ، أَوِ اللَّازِمِ عَلَى الْمَلْزُوْمِ كَعَطْفِ الْحُدُوْثِ وَطُرُوِّ الْعَدَمِ عَلَى الْعَدَمِ هُنَا.
Sebab itu, peng'athafan qidam dan baqa pada wujud dalam penjelasan sifat wajib merupakan 'athaf al-khash 'ala al-'amm atau al-lazim 'ala al-malzum, seperti halnya peng'athafan huduts dan thuruw al-'adam pada 'adam dalam penjelasan sifat mustahil ini.
وَإِنَّمَا لَمْ يُكْتَفَ بِالْأَوَّلِ فِي الْمَوْضِعَيْنِ لِأَنَّ الْمَقْصُوْدَ ذِكْرُ الصَّفَاتِ الْوَاجِبَةِ وَالْمُسْتَحِيلَةِ عَلَى التَّفْصِيلِ، لِأَنَّهُ لَوِ اسْتُغْنِيَ فِيهَا بِالْعَامِ عَنِ الْخَاصِّ وَبِالْمَلْزُوْمِ عَنِ اللَّازِمِ لَكَانَ ذَلِكَ ذَرِيْعَةً إِلَى جَهْلِ كَثِيرٍ مِنْهَا لِخَفَاءِ اللَّوَازِمِ وَعُسْرِ إِدْخَالِ الْجُزْئِيَّاتِ تَحْتَ كُلَّيَّاتِهَا وَخَطَرُ الْجَهْلِ فِي هَذَا عَظِيمٌ.
Dalam kedua penjelasan itu tidak dicukupkan penyebutan sifat yang pertama saja, karena maksudnya menyebutkan sifat wajib dan mustahil secara rinci. Sebab, andaikan dalam hal penjelasan tersebut dicukupkan penyebutan lafal 'amm dari lafal khash, dan malzum dari lazim-nya, niscaya mengantarkan pada ketidaktahuan pada sifat Allah yang banyak karena samarnya sifat lazim dan sulitnya memasukkan sifat-sifat juz'iyyah pada sifat-sifat kulliyah-nya. Padahal resiko ketidaktahuan atas sifat-sifat Allah ini sangat besar.
فَيَنْبَغِي الْاِعْتِنَاءُ فِيْهِ بِمَزِيدِ الْإِيضَاحِ عَلَى قَدْرِ الْإِمْكَانِ وَالْإِحْتِيَاطِ الْبَلِيغِ لِتَحْلِيَةِ الْقُلُوْبِ بِيَوَاقِيْتِ الْإِيْمَانِ، وَبِاللَّهِ سُبْحَانَهُ التَّوْفِيقُ، وَهُوَ الْهَادِي مَنْ يَشَاءُ بِمَحْضِ فَضْلِهِ إِلَى سَوَاءِ الطَّرِيقِ.
Karena itu, sebaiknya keseriusan dalam hal tersebut harus disertai penjelasan ekstra sesuai kemampuan dan kehati-hatian yang dalam, agar hati terhiasi dengan intan-intan keimanan. Allah Sang Penunjuk orang yang dikehendakinya menuju jalan lurus dengan kemurnian anugerah-Nya.
___________________________________________

Komentar
Posting Komentar