Langsung ke konten utama

Terjemah kitab Ummul barahin ilmu tauhid Ummul barahin imam As-Sanusi tentang sifat maknawiyah




SİFAT-SİFAT MAKNAWİYAH 

_________________________________________

 [ص]
 (ثُمَّ سَبْعُ صِفَاتٍ تُسَمَّى صِفَاتٍ مَعْنَوِيَّةٍ، وَهِيَ مُلازِمَةٌ لِلسَّبْعِ الْأُولَى) 
Kemudian tujuh sifat yang dinamakan sifat maknawiyah, yaitu kelaziman tujuh sifat (ma'ani yang telah disebutkan) yang pertama. 

______________________________________
• Syarh 


[ش]
 إِنَّمَا سُمِّيَتْ هَذِهِ الصَّفَاتُ مَعْنَوِيَّةٌ لِأَنَّ الْاتَّصَافَ بِهَا فَرْعُ الْإِنْصَافِ بِالسَّبْعِ الْأَوْلَى، فَإِنَّ اتِّصَافَ مَحَلَّ مِنَ الْمَحَالِ بِكَوْنِهِ عَالِمًا أَوْ قَادِرًا مَثَلًا لَا يَصِحُ إِلَّا إِذَا قَامَ بِهِ الْعِلْمُ أَوِ الْقُدْرَةُ، وَقِسْ عَلَى هَذَا.


Sifat-sifat ma'nawiyah ini disebut sifat karena bersifat dengannya merupakan cabang (pada ranah penalarannya) dari bersifat dengan tujuh sifat ma'ani yang pertama. Sebab, sungguh bersifatnya suatu zat dari berbagai zat dengan sifat 'alim (yang tahu) atau qadir (yang mampu) umpama- nya, tidak sah kecuali bila padanya ada ilmu dan qudrah (kemampuan). Qiyas- kanlah (sifat yang lain) pada hal ini.


 فَصَارَتِ السَّبْعُ الْأَوْلَى، وَهِيَ صِفَاتُ الْمَعَانِي، عِلَلًا لِهَذِهِ، أَيْ مَلْزُوْمَةً لَهَا. فَلِهَذَا نُسِبَتْ هَذِهِ إِلَى تِلْكَ، فَقِيلَ فِيهَا صِفَاتُ مَعْنَوِيَّةٌ. 


Maka, tujuh sifat yang telah disebutkan pertama kali, yaitu sifat-sifat ma'ani merupakan 'illat bagi ketujuh sifat ma'nawiyah ini, maksudnya yang dilaziminya. Karena hal ini, sifat-sifat ma'nawiyah ini dinisbatkan padanya, lalu dikatakan padanya: "Sifat ma'nawiyah."


وَلِهَذَا كَانَتْ هَذِهِ سَبْعًا مِثْلُ الْأَوْلَى، فَالْيَاءُ فِي لَفْظِ الْمَعْنَوِيَّةِ يَاءُ النَّسَبِ نُسِبَتْ إِلَى الْمَعْنَى، وَالْوَاوُ فِيهَا بَدَل مِنَ الْأَلِفِ الَّتِي فِي الْمَعْنَى.


Karenanya, sifat ini berjumlah tujuh seperti sifat yang disebut pertama. Maka, huruf ya'pada kata مَعْنَوِيَّة me rupakan ya' nisbat, yang dinisbatkan pada kata مَعْنَى dan huruf wawu padanya merupakan ganti dari huruf alif yang ada pada kata مَعْنَى

_______________________________________
 14-20. Qadiran, Muridan, 'Aliman, Hayyan, Sami'an, Bashiran, dan Mutakalliman
 (ص) 
(وَهِيَ كَوْنُهُ تَعَالَى قَادِرًا، وَمُرِيْدًا، وَعَالِمًا، وَحَيَّا، وَسَمِيعًا، وَبَصِيْرًا، وَمُتَكَلِّمًا) 
Sifat ma'nawiyah tersebut adalah (14) Qadiran, keberadaan Allah Ta'ala Yang Maha Kuasa, (15) Muridan, Yang Maha Berkehendak, (16) Aliman, Yang Maha Mengetahui, (17) Hayyan, Yang Maha Hidup, (18) Sami'an, Yang Maha Mendengar, (19) Bashiran, Yang Maha Melihat, dan (20) Mutakalliman, Yang Maha Berbicara.

 ________________________________________
■ Syarh
[ ش]
 لَمَّا كَانَتْ هَذِهِ الصَّفَاتُ الْمَعْنَوِيَّةُ لَا زِمَةً لِصِفَاتِ الْمَعَانِي رَتَّبَهَا عَلَى حَسَبٍ تَرْتِيبِ تِلْكَ فَكَوْنُهُ تَعَالَى قَادِرًا لَازِمُ لِلصَّفَةِ الْأَوْلَى مِنْ صِفَاتِ الْمَعَانِي، وَهِيَ الْقُدْرَةُ الْقَائِمَةُ بِذَاتِهِ تَعَالَى وَكَوْنُهُ جَلَّ وَعَزَّ مُرِيْدًا لَازِمُ لِلْإِرَادَةِ الْقَائِمَةِ بِذَاتِهِ تَعَالَى وَهَكَذَا إِلَى آخِرِهَا.


Ketika sifat-sifat ma'nawiyah ini merupakan sifat yang melazimi (menetapi) sifat-sifat ma'ani, maka Kitab Asal mengurutkannya sesuai urutan sifat-sifat ma'ani. Maka keberadaan Allah Ta'ala Yang Maha Mampu menetapi sifat pertama dari sifat-sifat ma'ani, yaitu qudrah yang ada pada Zat Allah Ta'ala; dan keberadaan Allah-Jalla wa 'Azza-Yang Maha Berkehendak menetapi sifat iradah yang ada pada Zat Allah Ta'ala; begitu seterusnya sampai akhir.


وَاعْلَمْ أَنَّ عَدَّهُمْ لِهَذِهِ السَّبْعِ فِي الصَّفَاتِ هُوَ عَلَى سَبِيلِ الْحَقِيقَةِ إِنْ قُلْنَا بِصِفَاتِ الْأَحْوَالِ، وَهِيَ صِفَاتُ ثُبُوْتِيَّةٌ لَيْسَتْ بِمَوْجُوْدَةٍ وَلَا مَعْدُوْمَةٍ تَقُوْمُ بِمَوْجُوْدٍ، فَتَكُوْنُ هَذِهِ الصِّفَاتُ الْمَعْنَوِيَّةُ عَلَى هَذِهِ صِفَاتُ ثَابِتَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى. 


Ketahuilah, sungguh pendapat ulama yang memasukkan tujuh sifat ini pada sifat-sifat Allah ada pada konteks hakikatnya, jika kita berpendapat dengan pendapat yang menetapkan sifat-sifat ahwal, yaitu sifat-sifat yang tetap, yang tidak wujud (dalam kenyataan), dan bukan ketiadaan yang ada pada hal yang wujud. Maka sifat- sifat ma'nawiyah ini merupakan sifat-sifat yang menetap dan ada pada Zat Allah Ta'ala.


وَأَمَّا إِنْ قُلْنَا بِنَفْيِ الْأَحْوَالِ، وَأَنَّهُ لَا وَاسِطَةَ بَيْنَ الْوُجُوْدِ وَالْعَدَمِ كَمَا هُوَ مَذْهَبُ الْأَشْعَرِيِّ، فَالثَّابِتُ مِنَ الصَّفَاتِ الَّتِي تَقُوْمُ بِالذَّاتِ إِنَّمَا هُوَ السَّبْعُ الْأَوْلَى الَّتِي هِيَ صِفَاتُ الْمَعَانِي، أَمَّا هَذِهِ فَعِبَارَةٌ عَنْ قِيَامِ تِلْكَ بِالذَّاتِ لَا أَنَّ لِهَذِهِ ثُبُوتًا فِي الْخَارِجِ عَنِ الذهن.


Adapun bila kita berpendapat dengan pendapat yang menafikan ahwal, dan yang menyatakan sungguh tidak ada tengah-tengah antara wujud dan ketiadaan seperti madzhab Imam al-Asy'ari, maka sifat-sifat yang tetap yang ada pada Zat Allah hanyalah tujuh sifat yang pertama (ma'ani). Adapun tujuh sifat ma'nawiyah ini (hanya) merupakan ungkapan dari adanya sifat-sifat ma'ani terseput pada Zat Allah, tidak berarti bahwa sifat-sifat ma'nawiyah ini ada secara nyata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terjemah kitab matan taqrib pembahasan tentang hukum-hukum shalat

كِتَابُ الصَّلَاةِ  Pembahasan shalat  Shalat-shalat yang diwajibkan  الصَّلَاةُ الْمَفْرُوْضَةُ خَمْسٌ: Shalat yang diwajibkan itu ada 5.yaitu:  (۱) الظَّهْرُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهَا زَوَالُ الشَّمْسِ، وَآخِرُهُ إِذَا صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ بَعْدَ ظِلَّ الزَّوَال.  1. Zhuhur,  waktu salat zhuhur mulai setelah lewat rembang matahari (setelah matahari tergelincir ke arah barat). Dan akhir waktunya adalah ketika bayang- bayang sebuah benda telah sama panjangnya dengan benda itu, sesudah matahari lewat rembang. (۲) وَالْعَصْرُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهَا الزَّيَادَةُ عَلَى ظِلَّ الْمِثْلِ، وَآخِرُهُ في الاخْتِيَارِ إِلَى ظِلَّ الْمِثْلَيْنِ وَفِي الْجَوَازِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ  2. Ashar,  waktu salat ashar dimulai setelah bayang-bayang sebuah benda yang sama dengan benda aslinya tadi bertambah panjang. Dan akhir waktunya menurut waktu Ikhtiar (waktu yang menjadi pilihan untuk menger- jakan salat sebelum masuk pada bagian waktu berikutnya) adalah...

Terjemah kitab mutammimah tentang bab kalam

               بَابُ الكلام          Bab Kalam     الكلامُ هُوَ  اللفظ المُرَكَّبُ الْمُفِيدُ بالوضع kalam adalah satu lafazd yang murakkab yang memberi faedah dengan waza'(sengaja)/bahasa arab Keterangan : • Lafadz adalah suara yang mengandung sebagian huruf Hijaiyah (huruf huruf Arab yang diawali dari alif sampai ya'). Contoh: زَيْدُ dan قَائِمُ  • Murokkab adalah lafadz yang tersusun dari dua kalimat atau lebih dengan susunan isnadi (penisbatan atau penyandaran hukum yang menjadikan kesempurnaan faidah). Contoh: زَيْدُ قَائِمٌ )Zaid orang yang berdiri( أنا قائم )Saya orang yang berdiri • Mufid adalah ungkapan berfaidah yang dapat memberikan pemahaman sehingga tidak membutuhkan pertanyaan dari orang yang mendengarkan. Contoh: زَيْدُ قَائِمٌ )Zaid orang yang berdiri( • Wad'i menurut sebagian ulama' nahwu adalah berbahasa Arab, dan menurut ulama' yang lain wad'i adalah disengaja oleh orang yang men...

Terjemah kitab matammimah tentang isem alam

    _________________________________________ Note:⚠️ Bila antum menemukan kesalahan dalam penulisan maka sangat diharapkan untuk mengomentari nya, Syukran kasiran ____________________________________________   فَصْلٌ فِي بَيَانِ الإِسْمِ الْعَلَمِ Fasal Tentang Isim Alam الْعَلَمُ نَوْعَانِ: شَخْصِيٌّ وَهُوَ مَا وُضِعَ لِشَيْءٍ بِعَيْنِهِ لَا يَتَنَاوَلُ غَيْرُهُ كَزَيْدٍ وَفَاطِمَةَ وَمَكَّةَ وَشَدْقَمٍ وَقَرَنٍ. Isim alam ada dua. Yaitu: 1. Alam syakhs, ialah alam yang diletakkan (dicetak) untuk sesuatu yang sudah nyata (individu) dan tidak mencakup yang lainnya.  Contoh: زَيْدٍ - فَاطِمَةَ - مَكَّةَ - شَدْقَم - قَرَنٍ  وَجِنْسِيٌّ وَهُوَ مَا وُضِعَ لِجِنْسِ مِنَ الْأَجْنَاسِ كَأَسَامَةَ لِلْأَشَدِ وَثُعَالَةَ لِلتَّعْلَبِ وَذُؤَالَةَ لِلذِّئْبِ وَأُمُّ عِرْيَطٍ لِلْعَقْرَبِ. 2. Alam jinis, ialah alam yang diletakkan (dicetak) untuk beberapa jinis.  Contoh: أسامة untuk nama harimau, تُعَالَةَ untuk nama musang, ذُؤَالَةَ untuk srigala, dan أُمُّ عِرْبَط...