9-13. Jahl, Maut, Shamam, 'Ama, dan Bukmu
[ص]
(وَكَذَا يَسْتَحِيلُ عَلَيْهِ تَعَالَى الْجَهْلُ وَمَا فِي مَعْنَاهُ بِمَعْلُومٍ مَا، وَالْمَوْتُ، وَالصُّمَمُ، وَالْعَمَى، وَالْبُكْمُ)
Begitu pula mustahil bagi Allah
(9) sifat jahl (bodoh) dan sifat yang semakna dengannya pada pengetahuan, apapun itu,
(10) maut (mati),
(11) shamam (tuli),
(12) 'ama (buta) dan
(13) bukm (bisu).
[ش]
مُرَادُهُ بِمَا فِي مَعْنَى الْجَهْلِ الظَّنُّ وَالشَّكُ وَالْوَهْمُ وَالنَّسْيَانُ وَالنَّوْمُ وَكَوْنُ الْعِلْمِ نَظَرِيًّا وَنَحْوُ ذَلِكَ. وَبِالْجُمْلَةِ فَالْمُرَادُ بِهِ كُلُّ مَا شَارَكَ الْجَهْلَ فِي مُضَادَّتِهِ لِلْعِلْمِ، وَإِنَّمَا كَانَ فِي مَعْنَى الْجَهْلِ لِمُنَافَاتِهَا الْعِلْمَ حَسْبَ مُنَافَاةِ الجهل
Syarh Maksud ungkapan": semakna dengan bodoh" adalah Kitab Asal dengan "Dan sifat yang zhann (dugaan), syakk (keraguan), wahm (salah sangka), nisyan (lupa), naum (tidur), keberadaan ilmu bersifat nazhari (penalaran), dan semisalnya. Kesimpulannya, yang dimaksud dengan jahl adalah segala hal yang sama dengan kebodohan dalam perlawanannya terhadap sifat ilmu. Semua hal ini termasuk dalam kategori jah/karena menafikan sifat ilmu sebagaimana penafian jahl.
وَالْمُرَادُ بِالصَّمَمِ وَالْعَمَى فِي هَذَا الْمَوْضِعِ عَدَمُ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ أَصْلًا بِوُجُوْدِ مَا يُنَا فِيْهِمَا أَوْ غَيْبَةِ مَوْجُودِ مَا مِنَ الْمَوْجُوْدَاتِ عَنْ صِفَتَي السَّمْعِ وَالْبَصَرِ لِمَا سَبَقَ مِنْ وُجُوْبِ تَعَلُّقِهِمَا بِكُلِّ مَوْجُودٍ.
Maksud shamam (tuli) dan 'ama (buta) di sini adalah sama sekali tidak adanya sifat mendengar dan melihat dengan adanya sifat yang menafikan keduanya; atau dengan tidak wujudnya suatu hal yang wujud dari sifat mendengar dan melihat, karena penjelasan yang telah lewat, yaitu wajibnya keterhubungan keduanya dengan segala hal yang wujud.
وَالْمُرَادُ بِالْبُكْمِ عَدَمُ الْكَلَامِ أَصْلًا بِوُجُودِ آفَةٍ تَمْنَعُ مِنْ وُجُودِهِ وَفِي مَعْنَاهُ كَوْنُهُ بِالْحَرْفِ وَالصَّوْتِ، إِذِ الْكَلَامُ الَّذِي
يَكُونُ بِالْحُرُوفِ وَالْأَصْوَاتِ وَلَوْ بَلَغَ غَايَةُ الْبَلَاغَةِ وَالْفَصَاحَةِ وَكَانَ كَمَالًا بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْحَوَادِثِ النَّاقِصَةِ فَهُوَ بِالنِّسْبَةِ إِلَى
مَقَامِ الْأُلُوهِيَّةِ الْأَعْلَى نَقِيْصَةُ عَظِيمَةٌ، إِذْ فِيْهِ رَذِيْلَتَانِ:
Sementara maksud bukm (bisu) adalah sama sekali tidak adanya sifat bicara karena adanya penyakit yang mencegah wujudnya bicara. Berbicara dengan huruf dan suara termasuk dalam kategori bukm. Sebab, bicara yang dengan perantara meskipun huruf dan suara- mencapai puncak balaghah dan kefasihan, dan sempurna bila dinisbatkan kepada makhluk yang penuh kekurangan, bila-dinisbatkan pada maqam ilahiyyah yang tinggi merupakan kekurangan yang sangat besar, sebab mempunyai dua kehinaan:
إِحْدَاهُمَا رَذِيْلَةُ الْعَدَمِ الَّذِي يَجِبُ لِلْحُرُوفِ وَالْأَصْوَاتِ سَابِقًا وَلَاحِقًا وَيَسْتَلْزِمُ حُدُوْثُ مَنْ اتَّصَفَ بِهِ. وَأَيُّ نَقِيْصَةٍ أَعْظَمُ
مِنْ نَقِيْصَةِ الْحُدُوْثِ الْمُلَازِمَةِ رِبْقَةَ الْافْتِقَارِ عَلَى الدَّوَامِ؟
1. Hina ketiadaan, yang pasti ada pada huruf dan suara, yaitu ketiadaan sebelum dan setelah wujudnya; dan yang menetapkan hudutsnya zat yang bersifat dengannya. Lalu, kekurangan apa yang lebih besar daripada kekurangan sifat huduts yang pasti membutuhkan pada selainnya selamanya?
وَالثَّانِيَةُ رَذِيْلَةُ الْبُكْمِ الَّذِي هُوَ لازِمُ لِلْحُرُوْفِ وَالْأَصْوَاتِ، لِأَنَّهُ لَمَّا اسْتَحَالَ اجْتِمَاعُ حَرْفَيْنِ فِي آنٍ وَاحِدٍ فَضْلًا عَنِ الْكَلِمَتَيْنِ فَضْلًا عَنِ الْكَلَامَيْنِ تَبَكَّمَ الْمُتَكَلَّمُ بِالْحَرْفِ وَالصَّوْتِ، وَاحْتَبَسَ عَنْ أَنْ يَدُلُّ عَلَى مَعْلُومَاتٍ لَهُ فِي آنٍ وَاحِدٍ بِصِفَةِ الْكَلَامِ الْمُرَكَبِ مِنَ الْحُرُوفِ وَالْأَصْوَاتِ، فَلَوْ كَانَ كَلَامُ مَوْلَانَا تَعَالَى بِالْحُرُوفِ وَالْأَصْوَاتِ لَزِمَ زِيَادَةً عَلَى رَذِيْلَةِ الْحُدُوْثِ اتَّصَافَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْ ذَلِكَ بِالْخَبْسَةِ الَّتِي هِيَ أَصْلُ الْبُكْمِ عَنِ الدَّلَالَةِ عَلَى مَعْلُوْمَاتِهِ الَّتِي لَا نِهَايَةَ لَهَا بِصِفَةِ الْكَلَامِ، بَلْ يَلْزَمُ الْحَبْسَةَ عَنِ الدَّلَالَةِ بِهِ فِي آنٍ
وَاحِدٍ عَلَى مَعْلُوْمَيْنِ لَهُ فَأَكْثَرَ.
2. Hina kebisuan, yang pasti ada pada huruf dan suara. Sebab, ketika dua huruf mustahil berkumpul dalam satu waktu, apalagi dua kata dan dua kalimat, maka zat yang berbicara dengan huruf dan suara pasti bisu, dan tercegah untuk menunjukkan beberapa pengetahuan dalam satu waktu dengan pembicaraan yang tersusun dari huruf dan suara. Andaikan kalam atau firman Allah Ta'ala berperantara huruf dan suara, maka kebersifatan Allah dengan tercegah berbicara-yang merupakan asal kebisuan dari menunjukkan berbagai pengetahuan yang tidak terbatas dengan sifat kalam- memastikan bertambahnya kehinaan atas kehinaan sifat huduts, bahkan menetapkan ketercegahan menunjukan dua pengetahuan atau lebih dalam satu waktu dengan sifat kalam bagi-Nya.
فَقَدْ ظَهَرَ لَكَ بِهَذَا أَنَّ الْكَلَامَ الَّذِي يَكُونُ بِالْحُرُوفِ وَالْأَصْوَاتِ وَمَا فِي مَعْنَاهُ مِنْ كَلَامِنَا النَّفْسِي مُلَازِمَانِ لِمَعْنَى الْبُكْمِ، فَيَسْتَحِيلُ اتَّصَافُ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ بِمِثْلِهِمَا، وَأَنَّ الْوَاصِفَ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ بِذَلِكَ مُسْتَنِدًا إِلَى أَنَّ مِثْلَ ذَلِكَ فِي حَقَّنَا كَمَالٌ يُنْفِي عَنَّا رَذِيْلَةَ الْبُكْمِ قَدْ وَصَفَهُ تَعَالَى بِنَقِيْصَةٍ عَظِيمَةٍ، تَعَالَى عَنْهَا عُلُوًّا كَبِيرًا.
Dengan ini maka jelas bagi Anda, bahwa kalam yang berperantara huruf dan suara, dan yang semakna dengannya yaitu kalam nafsi, menetapi makna bisu, maka Allah- Jalla wa 'Azza-mustahil bersifat dengan sifat yang semisal dengan keduanya; dan orang yang menyifati Allah-Jalla wa 'Azza- dengan sifat tersebut, dengan dasar bahwa yang semacam itu merupakan kesempurnaan bagi manusia yang menafikan kehinaan bisu dari kita, sungguh telah menyifati Allah Ta'ala dengan kekurangan yang sangat besar. Maha Luhur Allah darinya dengan keluhuran yang besar.
وَنَظِيرُهُ فِي ذَلِكَ نَظِيرُ مَنْ عَرَفَ بِأَنَّ نَهِيقَ الْحَمِيرِ وَأَصْوَاتِهَا كَمَالٌ فِي حَقَّهَا، وَكَذَا نَبَاحُ الْكِلَابِ كَمَالٌ فِي حَقَّهَا، فَيُسْأَلُ عَنْ كَلَامِ مَلِكٍ مِنَ الْمُلُوكِ لَمْ يُسْمَعْ قَطُّ كَلَامُهُ فَقَالَ: هُوَ مِثْلُ نَهِيقِ الْحَمِيرِ وَنَبَاحِ الْكِلَابِ، مُعْتَقِدًا أَنَّ ذَلِكَ الصَّوْتَ مِنْهُمَا لَمَّا كَانَ كَمَالًا يَمْنَعُ مِنِ اتَّصَافِهِمَا بِرَذِيْلَةِ الْبُكْمِ لَزِمَ أَنَّ اتَّصَافَ الْمَلِكِ مِثْلَ هَذَا كَمَالُ فِي حَقِّهِ يُنْفِي عَنْهُ رَذِيْلَةَ الْبُكْمِ.
Analoginya dalam hal itu adalah orang yang mengetahui bahwa ringkikan keledai dan suaranya merupakan kesempurnaan bagi- nya. Begitu pula gonggongan anjing merupakan kesempurnaan baginya. Lalu ia ditanya tentang ucapan salah seorang raja yang belum pernah didengarkannya sama sekali, kemudian menjawab: "Ucapannya seperti ringkikan keledai dan gonggongan anjing", dengan meyakini bahwa suara dari keledai dan anjing tersebut ketika menjadi kesempurnaan yang mencegah keduanya dari kehinaan bersifat bisu, maka memastikan bahwa kebersifatan seorang raja dengan sifat seperti ini juga merupakan kesempurnaan baginya yang dapat menafikan kehinaan bisu darinya.
وَمِنَ الْمَعْلُوْمِ ضَرُورَةً أَنَّ الْوَاصِفَ لِلْمَلِكِ بِمِثْلِ هَذَا قَدِ اسْتَنْقَصَهُ غَايَةَ الْإِسْتِنْقَاصِ، وَوَصَفَهُ بِأَقْبَح أَنْوَاعِ الْبُكْمِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى نَوْعِهِ الْإِنْسَانِي، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ بُكْمًا بِالنِّسْبَةِ إِلَى نَوْعِ الْحَمِيرِ وَنَوْعِ الْكِلَابِ.
Dan dimaklumi secara pasti, bahwa orang yang menyifati raja dengan sifat seperti ini sungguh telah merendahkannya dengan serendah- rendahnya dan telah menyifatinya dengan macam kebisuan yang paling hina bagi kemanusiawiannya, meskipun tidak termasuk kebisuan bagi keledai dan anjing.
وَلَا شَكٍّ أَنَّ كَلَامَنَا وَإِنْ بَلَغَ الْغَايَةَ فِي الْبَلَاغَةِ وَالْحُسْنِ بِالنَّسْبَةِ إِلَى كَلَامِ اللَّهِ أَدْنَى بِمَا لَا حَصْرَ لَهُ مِنْ نَهِيقِ الْحَمِيرِ وَنَبَاحِ الْكِلَابِ بِالنَّسْبَةِ إِلَى أَفْصَحِ كَلَامٍ وَأَعْذَبِهِ إِذِ الْحَوَادِثُ كُلُّهَا لَا تَفَاضُلَ بَيْنَهَا لِذَوَاتِهَا، بَلْ مَا يَقُوْمُ بِبَعْضِهَا مِنْ صِفَةِ نَقْصٍ أَوْ كَمَالٍ يَصِحُ أَنْ يَقُوْمَ بِغَيْرِهَا مِنْ سَائِرِ ذَوَاتِ الْحَوَادِثِ.
Tidak diragukan, bahwa ucapan kita meskipun mencapai puncak sastra keindahan, dan bila dinisbatkan kepada Allah pasti lebih rendah sampai tidak terhingga daripada ringkikan keledai dan gonggongan Anjing bila dinisbatkan pada ucapan yang terfasih dan terindah. Sebab di antara sesama makhluk tidak ada keutamaan karena zatnya, bahkan sifat kekurangan atau kesempurnaan yang ada pada salah satunya sah berada pada makhluk selainnya.
وَمَوْلَانَا سُبْحَانَهُ الْفَاعِلُ بِمَحْضِ اخْتِيَارِهِ، هُوَ الَّذِي فَاوَتَ فِيْمَا بَيْنَهَا، وَخَصَّ مِنْهَا مَا شَاءَ بِمَا شَاءَ مِنْ صِفَةِ نَقْصٍ أَوْ كَمَالٍ.
Adapun Allah-Subhanah-adalah Zat Yang Maha Berbuat dengan pilihan-Nya. Dia yang membeda- bedakan makhluk, menentukan sebagian makhluk dikehendaki-Nya dengan yang sifat kekurangan atau kesempurnaan yang dikehendaki-Nya.
فَإِذَا كَانَ كَمَالُ بَعْضِهَا نَقْصًا عَظِيمًا بِالنَّسْبَةِ إِلَى غَيْرِهِ مِمَّا يَقْبَلُ صِفَتَهُ وَيُشَارِكُهُ فِي الْحُدُوْثِ، فَكَيْفَ يَكُوْنُ الْحَالُ فِيمَنْ يَصِفُ الْمَوْلَى الْعَظِيمَ الَّذِي لَا مِثْلَ لَهُ وَلَمْ يُشَارِكْ شَيْئًا سِوَاهُ فِي جِئْسٍ وَلَا نَوْعٍ بِمِثْلِ أَوْصَافِ الْحَوَادِثِ النَّاقِصَةِ الَّتِي هِيَ كَمَالُ لَائِقُ بِنُقْصَانِهَا، وَهِيَ أَنْقَصُ شَيْءٍ وَأَرْذَلُهُ بِالنِّسْبَةِ إِلَى جَنَابِ الْمَوْلَى الْكَرِيمِ الْكَبِيرِ الْمُتَعَالِ؟
Jika kesempurnaan sebagian makhluk bisa menjadi kekurangan yang sangat besar bagi selainnya yang dapat menerima sifatnya dan sama-sama hudutsnya, maka bagaimana dengan orang yang menyifati Allah Yang Maha Agung yang tidak ada permisalan bagi- Nya dan tidak menyekutui apapun selain-Nya dari sisi jenis dan macam, dengan sifat yang menyamai sifat-sifat makhuk yang penuh kekurangan yang menjadi kesempurnaan yang pantas dengan kekurangannya, sementara sifat-sifat itu merupakan sifat yang paling kurang dan paling rendah bila dinisbatkan kepada Allah Yang Maha Menguasai, Maha Mulia, Maha Agung, dan Maha Luhur?
وَقَدْ وَرَدَ عَنْ سَيِّدِنَا مُوسَى عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّهُ كَانَ يَسُدُّ أُذُنَيْهِ بَعْدَ رُجُوعِهِ مِنَ الْمُنَاجَاةِ وَسِمَاعِ كَلَامِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَى مُدَّةٍ لِئَلَّا يَسْمَعَ كَلَامَ النَّاسِ فَيَمُوْتَ مِنْ شِدَّةِ قَبْحِهِ وَخِسَّتِهِ حَقِيقَةً بِالنَّسْبَةِ إِلَى كَلَامِ اللهِ تَعَالَى الْعَدِيمِ الْمِثَالِ، وَلَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْمَعَ كَلَامَ الْخَلْقِ حَتَّى تَطُوْلَ بِهِ الْمُدَّةُ وَيُنْسِيْهِ اللَّهُ تَعَالَى مَا ذَاقَ مِنْ لَذَّةِ ذَلِكَ الْإِسْتِمَاعِ لِكَلَامِهِ تَعَالَى.
Sungguh telah diriwayatkan dari Nabi Musa-'alaihish shalatu was salam-bahwa beliau menutup kedua telinganya setelah kembali dari bermunajat dan mendengar kalam Allah sampai waktu yang cukup lama, agar tidak mendengar ucapan manusia sehingga mati karena keburukan dan kehinaan- nya secara hakiki bila dinisbatkan pada kalam Allah yang tiada banding. Beliau tidak mampu mendengar ucapan manusia sampai waktu yang lama dan Allah lupakan kenikmatan mendengar kalam-Nya yang pernah dicicipinya.
وَقَدْ نَقَلَ ابْنُ عَطَاءِ اللَّهِ عَنْ مَكِينِ الدِّيْنِ الْأَسْمَرِ وَكَانَ مِنَ الْأَبْدَالِ أَنَّهُ رَأَى فِي الْمَنَامِ حَوْرَاءَ فَكَلَّمَتْهُ فَبَقِيَ نَحْوَ شَهْرَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةَ أَشْهُرٍ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْمَعَ كَلَامًا إِلَّا تَقَايُاً.
Ibn 'Athaillah ra. telah mengutip kisah dari Makinuddin al-Asmar, seorang wali abdal, bahwa ia pernah mimpi melihat bidadari yang kemudian berbicara kepadanya. Lalu sekitar dua atau tiga bulan berikutnya ia tidak mampu mendengar ucapan manu- sia kecuali muntah-muntah (kare- na keburukan dan kehinaannya)
فَانْظُرْ هَذَا الْأَمْرَ كَيْفَ صَارَ كَلَامُ النَّاسِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى كَلَامِ الْحُوْرِ الَّذِي هُوَ مِنْ جِنْسِ كَلَامِهِمْ أَدْنَى وَأَقْبَحَ مِنْ صَوْتِ الحَمِيرِ وَنَبَاحِ الْكِلَابِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى كَلَامِ النَّاسِ، إِذْ لَا نَجِدُ مَنْ يَتَقَايَأُ بِسِمَاعِ صَوْتِ الْحَمِيرِ وَنَبَاحِ الْكِلَابِ وَلَوْ سَمِعَهُ إِثْرَ سِمَاعِ أَفْصَحِ كَلَامٍ وَأَعْذَبِهِ.
Lihatlah kasus ini, bagaimana ucapan manusia bila dinisbatkan pada ucapan bidadari yang masih sejenis dengan ucapannya, lebih rendah dan lebih hina daripada suara keledai dan gonggongan anjing bila dinisbatkan pada ucapan manusia, sebab kita tidak menemukan orang yang muntah- muntah karena mendengar suara keledai dan gonggongan anjing, meskipun ia mendengarnya setelah mendengar ucapan terfasih dan terindah dari manusia.
فَكَيْفَ يَكُوْنُ نِسْبَةُ كَلَامِ الْخَلْقِ إِلَى كَلَامِ الْخَالِقِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِي جَلَّ عَنِ الْمِثْلِ فِي ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى؟ وَبَاقِي الْكَلَامِ وَاضِحُ.
Bila demikian, bagaimana dengan penisbatan ucapan makhluk pada kalam Allah yang tidak ada padanannya dalam zat, sifat dan perbuatan-Nya-Tabararaka wa Ta'ala? Penjelasan berikutnya sudah jelas.
• Kebalikan Sifat Ma'nawiyah
[ص]
(وَأَقْدَادُ الصَّفَاتِ الْمَعْنَوِيَّةِ وَاضِحَةُ مِنْ هَذِهِ)
(14-20) Kebalikan sifat-sifat ma' nawiyah sudah jelas dari kebalikan sifat-sifat ma' ani ini.
• Syarh
[ش]
يَعْنِي أَنَّكَ إِذَا عَرَفْتَ كَوْنَ ضِدَّ الْقُدْرَةِ الْعَامَّةِ الْعَجْزَ عَنْ مُمْكِنٍ مَا لَزِمَ أَنْ يَكُونَ ضِدُّ الصَّفَةِ الْمَعْنَوِيَّةِ اللَّازِمَةَ لِلْقُدْرَةِ وَهِيَ كَوْنُهُ تَعَالَى قَادِرًا عَلَى جَمِيعِ الْمُمْكِنَاتِ كَوْنُهُ عَاجِرًا عَنْ مُمْكِن مَا، هَكَذَا كُلُّ صِفَةٍ مَعْنَى ، فَإِنَّ ضِدَّهَا الصَّفَةُ الْمَعْنَوِيَّةُ اللَّازِمَةُ لَهَا، وَبِاللَّهِ التوفيق.
•syarh
Maksudnya, sungguh ketika Anda telah mengetahui bahwa kebalikan qudrah yang menyeluruh adalah lemah dari melakukan hal mumkin, apapun itu, maka pasti kebalikan sifat ma'nawiyah yang menetapi sifat qudrah, yaitu kaunuhu qadiran (keberadaan Allah sebagai Zat Yang Maha Kuasa atas segala hal mumkin), adalah kaunuhu 'ajizan (keberadaan Allah lemah) dari hal mumkin, apapun itu. Begitu pula seterusnya bagi setiap sifat ma'nawi, sifat yang menetapi kebalikannya adalah sifat ma'nawiyah yang menetapinya.
Komentar
Posting Komentar