Langsung ke konten utama

Terjemah kitab Ummul barahin imam As-Sanusi tentang sifat mustahil bagi Allah ke 6-8



Sifat-sifat yang mustahil bagi Allah 6-8



6. La Yakun Wahidan 
[ص]
 (وَكَذَا يَسْتَحِيلُ عَلَيْهِ تَعَالَى أَنْ لَا يَكُوْنَ وَاحِدًا، بِأَنْ يَكُونَ مُرَكَبًا فِي ذَاتِهِ، أَوْ يَكُوْنَ لَهُ مُمَائِلٌ فِي ذَاتِهِ أَوْ صِفَاتِهِ، أَوْ يَكُونَ مَعَهُ فِي الْوُجُودِ مُؤَثَّرٌ فِي فِعْلٍ مِنَ الْأَفْعَالِ)

 Begitu pula mustahil bagi Allah Ta' ala (6) tidak esa, yakni Zat-Nya tersusun, ada hal lain yang sama dengan Zat atau sifat-sifat-Nya, atau wujud mu atstsir dalam suatu perbuatan bersama-Nya.


 Syarh
 ش] 
قَدْ عَرَفْتَ أَنَّ أَوْجُهَ الْوَحْدَانِيَّةِ ثَلَاثَةُ: وَحْدَانِيَّةُ الذَّاتِ، وَوَحْدَانِيَّةُ الصَّفَاتِ، وَوَحْدَانِيَّةُ الْأَفْعَالِ. 
Sungguh Anda telah mengetahui, bahwa dimensi Wahdaniyyah ada tiga, yaitu: Wahdaniyyah az-Zat, Wahdaniyyah ash-Shifat, dan Wahdaniyyah al-Af'al.
وَكُلُّهَا وَاجِبَةٌ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ وَحْدَهُ فَوَحْدَانِيَّةُ الذَّاتِ تُنْفِي التَّرْكِيبَ فِي ذَاتِهِ تَعَالَى وَوُجُودُ ذَاتٍ أُخْرَى تُمَائِلُ النَّاتَ الْعَلِيَّةِ.
Semuanya wyajib bagi Allah-Jalla wa 'Azza-saja. Wahdaniyyah az- Zat menafikan ketersusunan Zat Allah Ta'ala, dan wujudnya zat lain yang menyamai Zat-Nya Yang Maha Tinggi.
 وَبِالْجُمْلَةِ فَوَحْدَانِيَّةُ الذَّاتِ تُنْفِي التَّعَدُّدَ فِي حَقِيقَتِهَا مُتَّصِلًا كَانَ أَوْ مُنْفَصلًا. 
Kesimpulannya, Wahdaniyyah az- Zat menafikan keterbilangan bagi hakikat Zat-Nya, baik yang muttashil maupun yang munfashil.
وَوَحْدَانِيَّةُ الصَّفَاتِ تُنْفِي التَّعَدُّدَ فِي حَقِيقَةِ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهَا مُتَّصِلًا أَيْضًا كَانَ أَوْ مُنْفَصِلًا، فَعِلْمُ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ لَيْسَ لَهُ ثَانٍ يُمَائِلُهُ لَا مُتَّصِلًا، أَيْ قَائِمًا بِالذَّاتِ الْعَلِيَّةِ، وَلَا مُنْفَصِلًا، أَيْ قَائِمًا بِذَاتٍ أُخْرَى، بَلْ هُوَ تَعَالَى يَعْلَمُ الْمَعْلُوْمَاتِ الَّتِي لَا نِهَايَةَ لَهَا بِعِلْمٍ وَاحِدٍ لَا عَدَدَ لَهُ وَلَا ثَانِي لَهُ أَصْلًا وَقِسْ عَلَى هَذَا سَائِرَ صِفَاتِ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ.
Wahdaniyyah ash-Shifat menafi- kan keterbilangan bagi hakikat masing-masing sifat Allah, baik keterbilangan yang muttashil maupun yang munfashil. Dengan demikian tidak ada yang menyamai ilmu Allah-Jalla 'Azza-, wa baik yang muttashil, maksudnya yang ada pada Zat- Nya Yang Maha Tinggi, maupun yang munfashil, maksudnya yang ada pada zat selainnya. Justru Allah Ta'ala mengetahui berbagai pengetahuan yang tidak terbatas dengan ilmu yang satu, tidak lebih, tidak ada duanya sama sekali. Qiyaskanlah seluruh sifat Allah-Jalla wa 'Azza-lainnya pada sifat ini.
 وَوَحْدَانِيَّةُ الْأَفْعَالِ تُنْفِي أَنْ يَكُوْنَ ثُمَّ اخْتِرَاعُ لِكُلِّ مَا سِوَى مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ فِي فِعْلٍ مِنَ الْأَفْعَالِ، بَلْ جَمِيعُ الْكَائِنَاتِ حَادِثَةٌ قَدْ عَمَّهَا الْعَجْرُ الضَّرُورِيُّ الدَّائِمُ عَنْ إِيْجَادِ أَثَرٍ مَا، وَمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ هُوَ الْمُنْفَرِدُ بِاخْتِرَاعِهَا وَحْدَهُ بِلَا وَاسِطَةٍ، وَمَا يُنْسُبُ مِنْهَا إِلَى غَيْرِهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى وَجْهِ يَظْهَرُ مِنْهُ التَّأْثِيرُ فَهُوَ مُؤَوَّلٌ، وَبِاللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى التَّوْفِيقُ.
Adapun Wahdaniyyah al-Af'al menafikan adanya kemampuan menciptakan bagi selain Allah- Jalla wa 'Azza-dalam salah satu perbuatan-Nya. Justru semua makhluk yang ada bersifat huduts, yang mempunyai sifat lemah yang pasti abadi dan mewujudkan ciptaan Justru Allah-Jalla wa untuk apapun. 'Azza-, Dialah satu-satunya Zat yang menciptakan makhluk sendiri tanpa perantara. Adapun sesuatu yang dinisbatkan pada selain Allah-Jalla wa 'Azza-dengan pola yang mengesankan penciptaan, maka dita 'wil. Wa subhanahu wa ta'alat taufiq.
7. 'Ajz 'an Mumkin
 [ص]
 (وَكَذَا يَسْتَحِيلُ عَلَيْهِ تَعَالَى الْعَجْزُ عَنْ مُمْكِن مَا)
 Begitu pula mustahil bagi Allah Ta' ala (7) sifat lemah dari menciptakan sesuatu yang mumkin, apapun itu.
 • Syarh 
[ش]
 قَدْ عَرَفْتَ أَنَّ قُدْرَتَهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَاحِدَةٌ عَامَّةُ التَّعَلُّقِ بِجَمِيعِ الْمُمْكِنَاتِ، إِذْ لَوِ اخْتَصَّتْ بِبَعْضِهَا دُوْنَ بَعْضٍ لَا فَتَقَرَّتْ إِلَى مُخصص فَتَكُوْنُ حَادِئَةً، وَهُوَ مُحَالُ عَلَى مَوْلَانَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَلَوِ اتَّصَفَ تَعَالَى بِالْعَجْزِ عَنْ مُمْكِنِ مَا لَانْتَقَى الْعُمُوْمُ الْوَاجِبُ لِلْقُدْرَةِ، بَلْ وَيَلْزَمُ عَلَيْهِ نَفْيُ الْقُدْرَةِ أَصْلًا لِاسْتِحَالَةِ اجْتِمَاعِ الضَّدَّيْنِ.
Sungguh Anda telah mengetahui, bahwa qudrah Allah-Tabaraka wa Ta'ala-adalah satu dan menyeluruh berhubungan dengan seluruh mumkinat. Sebab andaikan hanya berhubungan dengan sebagian mumkinat, niscaya qudrah Allah butuh pada mukhashshihs, sehingga bersifat huduts, dan itu mustahil bagi Allah-Tabaraka wa Ta'ala-. Andaikan Allah Ta'ala bersifat lemah dari menciptakan sesuatu yang mumkin, apapun itu, niscaya ternafikanlah kemenyeluru- han yang wajib bagi sifat qudrah. Bahkan pasti menetapkan ternafikannya sifat qudrah secara total, karena kemustahilan berkumpulnya dhiddain(dua hal yang berlawanan).
8. lyjad ma' al-Karahah
 [ص] 
(وَإِنْجَادُ شَيْءٍ مِنَ الْعَالَمِ مَعَ كَرَاهَتِهِ لِوُجُودِهِ، أَيْ عَدَمُ إِرَادَتِهِ لَهُ تَعَالَى، أَوْ مَعَ النُّهُوْلِ أَوِ الْغَفْلَةِ أَوْ بِالتَّعْلِيلِ أَوْ بِالطَّبْعِ) 
(8) Dan menciptakan sesuatu dari alam disertai keengganan atas wujudnya, maksudnya tanpa kehendak- Nya, disertai lalai atau lupa, karena karena tabiat. 'illat atau 
• Syarh 
ش] قَدْ عَرَفْتَ أَنَّ حَقِيقَةً الْإِرَادَةِ هِيَ الْقَصْدُ إِلَى تَخْصِيْصِ الجَائِزِ بِبَعْضِ مَا يَجُوزُ عَلَيْهَ، وَقَدْ تَقَرَّرَ أَنَّ إِرَادَتَهُ تَعَالَى عَامَّهُ التَّعَلُّقِ لِجَمِيعِ الْمُمْكِنَاتِ، فَيَلْزَمُ أَنْ يَسْتَحِيلَ وُقُوْعُ شَيْءٍ مِنْهَا بِغَيْرِ إِرَادَةٍ مِنْهُ تَعَالَى لِوُقُوْعِ ذَلِكَ الشَّيْء. 
Sungguh telah Anda ketahui, bahwa hakikat iradah adalah bermaksud menentukan perkara ja iz dengan sebagian hal yang mungkin terjadi padanya, dan telah tetap, bahwa iradah Allah Ta'ala berhubungan secara menyeluruh dengan semua mumkinat, sehingga pasti mustahil terjadi suatu hal mumkin tanpa iradah dari Allah Ta'ala atas terjadinya hal tersebut.
وَذَلِكَ يُنْفِي إِرَادَتَهُ تَعَالَى لِضِدَّ ذَلِكَ الْوَاقِعِ، وَإِلَّا لَاجْتَمَعَ الضَّدَّانِ، وَيُنْفِي اتَّصَافَهُ تَعَالَى بِالذُّهُوْلِ وَالْغَفْلَةِ، لِأَنَّهُمَا مُنَافِيَانِ لِلْقَصْدِ الَّذِي هُوَ مَعْنَى الْإِرَادَةِ وَيُنْفِي أَيْضًا أَنْ تَكُوْنَ الدَّاتُ الْعَلِيَّةُ عِلَّةً لِوُجُوْدِ شَيْءٍ مِنَ الْمُمْكِنَاتِ أَوْ مُؤَثِرَةً فِيْهِ بِالطَّبْعِ، لِأَنَّهُ يَلْزَمُ عَلَيْهِ قِدَمُ ذَلِكَ الْمُمْكِنِ لِوُجُوْبِ اقْتِرَانِ الْعِلَّةِ بِمَعْلُوْلِهَا وَالطَّبِيعَةِ بِمَطْبُوْعِهَا، وَذَلِكَ يُنَافِي إِرَادَةَ وُجُوْدِ ذَلِكَ الْمُمْكِنِ الْقَدِيمِ، لِأَنَّ الْقَصْدَ إِلَى إِيْجَادِ الْمَوْجُوْدِ مُحَالُ، إِذْ هُوَ مِنْ بَابِ تَحْصِيلِ الْحَاصِلِ. 
Kemustahilan terjadinya suatu hal mumkin tanpa iradah dari Allah itu menafikan iradah Allah Ta'ala terhadap kebalikan dari kenyataan terjadinya hal mumkin tersebut,  bila tidak demikian maka akan wujud dhiddain secara bersamaan;  menafikan kebersifatan Allah Ta'ala dengan sifat lalai dan lupa, karena keduanya menafikan maksud Allah yang merupakan makna iradah, dan menafikan keberadaan Zat Allah Yang Maha Lurus sebagai 'illat bagi wujudnya suatu hal yang mumkin atau sebagai faktor yang mempengaruhi wujudnya karena tabiatnya, sebab hal itu berkonsekuensi memastikan keqidaman hal mumkin tersebut, karena 'illat pasti bersamaan dengan yang di'illatinya, dan tabiat pasti bersa- maan dengan yang ditabiatinya. Adapun keqidaman hal mumkin, menafikan iradah wujudnya yang qadim, sebab bermaksud mewujudkan hal yang sudah wujud adalah mustahil, karena termasuk kategori tahsil al-hasil.

وَلِهَذَا لَمَّا اعْتَقَدَتْ الْمُلْحِدَةُ مِنَ الْفَلَاسِفَةِ، أَهْلَكَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى، أَنَّ اسْتِنَادَ الْعَالَمِ إِلَيْهِ تَعَالَى إِنَّمَا هُوَ عَلَى طَرِيقِ اسْتِنَادِ الْمَعْلُوْلِ إِلَى الْعِلَّةِ قَالُوا بِقِدَمِ الْعَالَمِ، وَنَفَوْا، لَعَنَهُمُ اللَّهُ، جَمِيعَ الصَّفَاتِ الْوَاجِبَةِ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ مِنَ الْقُدْرَةِ وَالْإِرَادَةِ وَغَيْرِهِمَا، وَذَلِكَ كُفْرُ صَرَّاحُ.
Karena kepastian 'illat bersamaan dengan yang di 'illatinya, dan tabiat bersamaan dengan yang ditabi- atinya, ketika kaum filosuf yang menyeleweng-semoga Allah Ta'ala membinasakannya-meyakini bah- wa penyandaran alam semesta kepada Allah Ta'ala hanya terjadi berdasarkan penyandaran ma'lul (yang di'illati) pada 'illat-nya, mereka berpendapat atas keqidam- an alam, dan menafikan-semoga Allah melaknatnya seluruh sifat wajib Allah-Jalla wa 'Azza-, yaitu qudrah, iradah, dan selainnya, dan hal itu merupakan kekufuran yang sangat nyata.
 وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْإِيجَادِ عَلَى طَرِيقِ الْعِلَّةِ وَالْإِيجَادِ عَلَى طَرِيقِ الطَّبْعِ وَإِنْ كَانَا مُشْتَرِكَيْنِ فِي عَدَمِ الْإِخْتِيَارِ، أَنَّ الْإِيجَادَ بِطَرِيقِ الْعِلَّةِ لَا يَتَوَقَّفُ عَلَى وُجُوْدِ شَرْطٍ وَلَا انْتِفَاءِ مَانِعِ، وَالْإِنْجَادَ بِطَرِيقِ الطَّبْعِ يَتَوَقَّفُ عَلَى ذَلِكَ.
Perbedaan antara penciptaan dengan cara 'illat dan dengan cara tabiat, meskipun keduanya sama- sama meniadakan ikhtiar, adalah bahwa penciptaan dengan cara 'illat tidak tergantung pada wujudnya syarat dan tidak adanya pencegah. Sedangkan penciptaan dengan cara tabiat tergantung dengannya.
 وَلِهَذَا يَلْزَمُ اقْتِرَانَ الْعِلَّةِ بِمَعْلُوْلِهَا كَتَحَرُّكِ الْأُصْبُعِ مَعَ الْخَاتَمِ الَّتِي هِيَ فِيْهِ مَثَلًا، وَلَا يَلْزَمُ اقْتِرَانُ الطَّبِيعَةِ بِمَطْبُوْعِهَا كَإِحْرَاقِ النَّارِ مَعَ الْخَطَبِ، لِأَنَّهُ قَدْ لَا يَحْتَرِقُ بِالنَّارِ لِوُجُوْدِ مَانِعٍ وَهُوَ الْبَلَلُ فِيهِ مَثَلًا، أَوْ تَخَلَّفِ شَرْطٍ كَعَدَمِ مُمَاسَّةِ النَّارِ لَهُ، وَهَذَا فِي حَقٌّ الحادث. 
Karena itu, 'illat pasti bersamaan dengan ma'lulnya, seperti gerakan jari bersamaan cincin yang ada padanya, umpamanya; dan tabiat tidak pasti bersamaan dengan yang ditabiatinya, seperti hidupnya api bersamaan dengan kayu, sebab terkadang kayu tidak terbakar ketika bersamaan dengan api karena adanya pencegah, seperti basah-basah yang ada padanya,umpamanya, atau tidak terpenu- hinya syarat, seperti sentuhan api padanya. Pemahaman ini bagi zat yang bersifat hadits.
وَأَمَّا الْبَارِي جَلَّ وَعَزَّ فَلَوْ كَانَ فِعْلُهُ بِالتَّعْلِيْلِ أَوْ بِالطَّبْعِ لَزِمَ قِدَمُ الْفِعْلِ فِيهِمَا مَعًا لِوُجُوْبِ قِدَمِهِ تَعَالَى وَاقْتِرَانِ الْفِعْلِ حِينَئِذٍ بِوُجُوْدِهِ تَعَالَى، أَمَّا عَلَى التَّعْلِيلِ فَظَاهِرُ، وَأَمَّا عَلَى الطَّبْعِ فَلَا يَصِحُ أَنْ يَكُوْنَ ثَمَّ مَانِعُ، وَإِلَّا لَزِمَ أَنْ لَا يُوْجَدَ الْفِعْلُ أَبَدًا، لِأَنَّ ذَلِكَ الْمَانِعَ لَا يَكُوْنُ إِلَّا قَدِيمًا، وَالْقَدِيمُ لَا يَنْعَدِمُ أَبَدًا، وَلَا يَصِحُ تَأْخِيرُ الشَّرْطِ لِمَا يَلْزَمُ عَلَيْهِ مِنَ التَّسَلْسُلِ.
Adapun bagi Allah Yang Maha Bebas-Jalla wa Azza-andaikan perbuatan-Nya terjadi dengan cara 'illat atau tabiat, maka hal itu menetapkan keqidaman perbua- tan-Nya dalam kedua kondisi ini secara bersamaan, karena wajibnya sifat qidam Allah Ta'ala dan wajibnya kebersamaan perbuatan- Nya dalam kondisi semacam ini dengan wujud-Nya. Kebersamaan perbuatan-Nya dengan wujud-Nya berdasarkan anggapan Allah adalah 'illat, maka sudah jelas; adapun berdasarkan bahwa Allah melaku- kan perbuatan dengan tabiat-Nya, maka tidak sah ada pencegah di situ, bila tidak maka tidak akan ada perbuatan Allah selamanya, sebab pencegah itu pasti qadim dan sesuatu yang qadim tidak akan sirna selamanya, dan tidak sah tertundanya syarat karena pasti menyebabkan tasalsul.
 فَلِهَذَا قُلْنَا فِيمَا سَبَقَ أَنَّهُ يَلْزَمُ عَلَى تَقْدِيرِ التَّعْلِيلِ أَوِ الطَّبْعِ فِي حَقَّهِ تَعَالَى قِدَمُ الْمَعْلُوْلِ أَوِ الْمَطْبُوْعِ، وَقَدْ قَامَ الْبُرْهَانُ عَلَى وُجُوبِ الْحُدُوْثِ لِكُلِّ مَا سِوَاهُ تَعَالَى، وَعَلَى وُجُوْبِ الْقِدَمِ وَالْبَقَاءِ لَهُ جَلَّ وَعَزَّ فَتَعَيَّنَ أَنَّهُ تَعَالَى فَاعِلُ بِمَحْضِ الْاِخْتِيَارِ، وَبَطَلَ مَذْهَبُ الْفَلَاسِفَةِ وَالطَّبَائِعِينَ أَذَلَّهُمُ اللَّهُ تَعَالَى وَأَخْلَى مِنْهُمْ الْأَرْضَ.
Karena itu, dalam penjelasan yang telah lewat aku berpendapat, berdasarkan pengandaian ta'lil dan tabiat bagi Allah Ta'ala, maka yang di'illati dan yang ditabiati pasti qidam, padahal sudah ada Burhan yang menyatakan wajibnya sifat huduts bagi segala hal selain Allah Ta'ala, dan atas wajibnya qidam dan baqa bagi-Nya-Jalla wa 'Azza-, sehingga pasti tersim- pulkan bahwa Allah Ta'ala adalah Zat Yang Maha Berbuat murni atas pilihan-Nya, dan gugurlah pendapat madzhab kaum filosuf dan kaum Naturalisme-semoga Allah merendahkan mereka dan mengosongkan bumi darinya-.
 وَالْحَاصِلُ أَنَّ أَقْسَامَ الْفَاعِلِ بِحَسَبِ التَّقْدِيرِ الْعَقْلِي ثَلَاثَةُ:
Kesimpulannya, berdasarkan analisa akal macam-macam fa'il (pelaku) ada tiga:
 فَاعِلُ بِالْإِخْتِيَارِ، وَهُوَ الَّذِي يَتَأَنَّى مِنْهُ الْفِعْلُ وَالتَّرْكُ.
1. Pelaku dengan pilihannya, yaitu yang dengan mudah melakukan dan meninggalkan perbuatan.
 وَفَاعِلُ بِالتَّعْلِيلِ، وَهُوَ الَّذِي يَتَأَنَّى مِنْهُ الْفِعْلُ دُوْنَ التَّرْكِ وَلَا يَتَوَقَّفُ فِعْلُهُ عَلَى وُجُوْدِ شَرْطٍ وَلَا انْتِفَاءِ مَانِع.
2. Pelaku sebab 'illat, yang mudah melakukan dan tidak mudah meninggalkan perbuatan, yang perbuatannya tidak tergantung pada adanya syarat dan tidak adanya pencegah.
 وَفَاعِلُ بِالطَّبْعِ، وَهُوَ الَّذِي يَتَأَنَّى مِنْهُ الْفِعْلُ دُوْنَ التَّرْكِ وَيَتَوَقَّفُ فِعْلُهُ عَلَى وُجُودِ الشَّرْطِ وَانْتِفَاءِ الْمَانِعِ. 
3. Pelaku sebab tabiat, yang mudah melakukan dan tidak mudah meninggalkan perbuatan, yang perbuatannya tergantung pada adanya syarat dan tidak adanya pencegah.
وَهَذِهِ الْأَقْسَامُ الثَّلَاثَةُ كُلُّهَا مَوْجُوْدَةُ عِنْدَ الْفَلَاسِفَةِ وَالطَّبَائِعِينَ، وَلَمْ يُوْجَدْ مِنْهَا عِنْدَ الْمُؤْمِنِينَ إِلَّا وَاحِدٌ، وَهُوَ الْمُوْجِدُ بِالْاخْتِيَارِ، ثُمَّ هُوَ خَاصٌ بِوَاحِدٍ، وَهُوَ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ، إِذْ لَا مُوْجِدَ سِوَاهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، وَمَهْمَا جَرَى لَفْظُ التَّعْلِيْلِ فِي عِبَارَاتِ أَهْلِ السُّنَّةِ فَلَيْسَ مُرَادُهُمْ بِهِ إِلَّا ثُبُوْتَ التَّلَازُمِ بَيْنَ أَمْرٍ وَأَمْرٍ، إِمَّا عَقْلًا أَوْ شَرْعًا مِنْ غَيْرِ تَأْثِيرِ الْعِلَّةِ فِي مَعْلُوْلِهَا الْبَتَةَ، فَاعْرِفْ ذَلِكَ وَلَا تَغْتَرْ بِظَوَاهِرِ الْعِبَارَاتِ فَتَهْلِكَ مَعَ الْهَالِكِينَ. 
Menurut kaum filosuf dan kaum Naturalisme, ketiga macam Fail tersebut ada. Sedangkan menurut kaum mukminin yang ada hanya satu, yaitu zat yang menciptakan dengan pilihannya. Kemudian ia hanya ada satu, yaitu Allah-Jalla wa 'Azza. Sebab tiada yang mewujudkan Tabaraka wa selain Ta'ala. Allah- Ketika terdapat lafal ta'lil ('illat-ma'lul) dalam ungkapan-ungkapan ulama Ahlussunnah, tidak ada yang dikehendaki kecuali menetapkan talazum antara suatu perkara dengan perkara lain, ada kalanya dari sudut pandang akal atau syara' tanpa mengakui adanya pengaruh 'illat pada ma'lumya sama sekali. Ketahuilah hal ini, dan jangan tertipu dengan lahiriah teks, sehingga binasa bersama orang- orang yang binasa.

وَإِنَّمَا فَسَّرْنَا الْكَرَاهَةَ بِعَدَمِ الْإِرَادَةِ لِتَحْتَرِزَ بِذَلِكَ مِنَ الْكَرَاهَةِ الَّتِي هِيَ مِنْ أَقْسَامِ الْحُكْمِ الشَّرْعِيَّ، وَهِيَ طَلَبُ الْكَفَّ عَنِ الْفِعْلِ طَلَبًا غَيْرَ جَازِمٍ، فَتِلْكَ يَصِحُ أَنْ تَجْتَمِعَ مَعَ الْإِيجَادِ، فَيُوْجِدُ اللَّهُ تَعَالَى الْفِعْلَ مَعَ كَرَاهَتِهِ لَهُ، أَيْ نَهْيُهُ عُنْهُ كَمَا أَصَّلَ اللَّهُ كَثِيْرًا مِنَ الْخَلْقِ مَعَ نَهْيِهِ لَهُمْ عَنْ ذَلِكَ الضَّلَالِ. 
Kami tafsiri karahah (keterpak- saan) dengan tiadanya iradah agar mengecualikan karahah yang ada pada hukum syar'i, yaitu tuntutan mencegah dari suatu perbuatan dengan tuntutan yang tidak tegas, maka karahah jenis ini dapat berkumpul bersama penciptaan, sehingga bisa saja Allah Ta'ala menciptakan perbuatan disertai karahah-Nya padanya, maksudnya pencegahan dari-Nya, sebagai- mana Allah menyesatkan banyak makhluk disertai larangan-Nya terhadap mereka dari kesesatan itu

أَمَّا الْكَرَاهَةُ بِمَعْنَى عَدَمِ إِرَادَةِ اللهِ تَعَالَى الْفِعْلَ فَيَسْتَحِيلُ اجْتِمَاعُهَا مَعَ الْإِيجَادِ، إِذْ يَسْتَحِيلُ أَنْ يَقَعَ فِي مُلْكِ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ مَا لَا يُرِيدُ وُقُوْعَهُ. فَتَنَبَّهُ لِهَذِهِ النُّكْتَةِ الْعَجِيبَةِ فِي ذَلِكَ التَّقْبِيْدِ الَّذِي قَيَّدْنَا بِهِ الْكَرَاهَةَ فِي أَصْلِ الْعَقِيدَةِ، وَبِاللَّهِ تَعَالَى التَّوْفِيقُ.
Adapun karahah dengan makna tiadanya iradah Allah Ta'ala terhadap suatu perbuatan, maka mustahil berkumpul bersama penciptaan. Sebab mustahil di kerajaan Allah-Jalla wa 'Azza- terjadi sesuatu yang tidak dikehendakinya. Ingatlah catatan indah ini terkait batasan yang aku gunakan untuk membatasi karahah dalam Kitab Asal, yakni Kitab al- 'Aqidah. Wa billai ta'alat taufiq.




x

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terjemah kitab matan taqrib pembahasan tentang hukum-hukum shalat

كِتَابُ الصَّلَاةِ  Pembahasan shalat  Shalat-shalat yang diwajibkan  الصَّلَاةُ الْمَفْرُوْضَةُ خَمْسٌ: Shalat yang diwajibkan itu ada 5.yaitu:  (۱) الظَّهْرُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهَا زَوَالُ الشَّمْسِ، وَآخِرُهُ إِذَا صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ بَعْدَ ظِلَّ الزَّوَال.  1. Zhuhur,  waktu salat zhuhur mulai setelah lewat rembang matahari (setelah matahari tergelincir ke arah barat). Dan akhir waktunya adalah ketika bayang- bayang sebuah benda telah sama panjangnya dengan benda itu, sesudah matahari lewat rembang. (۲) وَالْعَصْرُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهَا الزَّيَادَةُ عَلَى ظِلَّ الْمِثْلِ، وَآخِرُهُ في الاخْتِيَارِ إِلَى ظِلَّ الْمِثْلَيْنِ وَفِي الْجَوَازِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ  2. Ashar,  waktu salat ashar dimulai setelah bayang-bayang sebuah benda yang sama dengan benda aslinya tadi bertambah panjang. Dan akhir waktunya menurut waktu Ikhtiar (waktu yang menjadi pilihan untuk menger- jakan salat sebelum masuk pada bagian waktu berikutnya) adalah...

Terjemah kitab mutammimah tentang bab kalam

               بَابُ الكلام          Bab Kalam     الكلامُ هُوَ  اللفظ المُرَكَّبُ الْمُفِيدُ بالوضع kalam adalah satu lafazd yang murakkab yang memberi faedah dengan waza'(sengaja)/bahasa arab Keterangan : • Lafadz adalah suara yang mengandung sebagian huruf Hijaiyah (huruf huruf Arab yang diawali dari alif sampai ya'). Contoh: زَيْدُ dan قَائِمُ  • Murokkab adalah lafadz yang tersusun dari dua kalimat atau lebih dengan susunan isnadi (penisbatan atau penyandaran hukum yang menjadikan kesempurnaan faidah). Contoh: زَيْدُ قَائِمٌ )Zaid orang yang berdiri( أنا قائم )Saya orang yang berdiri • Mufid adalah ungkapan berfaidah yang dapat memberikan pemahaman sehingga tidak membutuhkan pertanyaan dari orang yang mendengarkan. Contoh: زَيْدُ قَائِمٌ )Zaid orang yang berdiri( • Wad'i menurut sebagian ulama' nahwu adalah berbahasa Arab, dan menurut ulama' yang lain wad'i adalah disengaja oleh orang yang men...

Terjemah kitab matammimah tentang isem alam

    _________________________________________ Note:⚠️ Bila antum menemukan kesalahan dalam penulisan maka sangat diharapkan untuk mengomentari nya, Syukran kasiran ____________________________________________   فَصْلٌ فِي بَيَانِ الإِسْمِ الْعَلَمِ Fasal Tentang Isim Alam الْعَلَمُ نَوْعَانِ: شَخْصِيٌّ وَهُوَ مَا وُضِعَ لِشَيْءٍ بِعَيْنِهِ لَا يَتَنَاوَلُ غَيْرُهُ كَزَيْدٍ وَفَاطِمَةَ وَمَكَّةَ وَشَدْقَمٍ وَقَرَنٍ. Isim alam ada dua. Yaitu: 1. Alam syakhs, ialah alam yang diletakkan (dicetak) untuk sesuatu yang sudah nyata (individu) dan tidak mencakup yang lainnya.  Contoh: زَيْدٍ - فَاطِمَةَ - مَكَّةَ - شَدْقَم - قَرَنٍ  وَجِنْسِيٌّ وَهُوَ مَا وُضِعَ لِجِنْسِ مِنَ الْأَجْنَاسِ كَأَسَامَةَ لِلْأَشَدِ وَثُعَالَةَ لِلتَّعْلَبِ وَذُؤَالَةَ لِلذِّئْبِ وَأُمُّ عِرْيَطٍ لِلْعَقْرَبِ. 2. Alam jinis, ialah alam yang diletakkan (dicetak) untuk beberapa jinis.  Contoh: أسامة untuk nama harimau, تُعَالَةَ untuk nama musang, ذُؤَالَةَ untuk srigala, dan أُمُّ عِرْبَط...