Barahin
■ Burhan Wujud Allah
(ص)
(أَمَّا بُرْهَانُ وُجُوْدِهِ تَعَالَى فَحُدُوْثُ الْعَالَمِ. لِأَنَّهُ لَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مُحْدِثُ بَلْ حَدَثَ بِنَفْسِهِ لَزِمَ أَنْ يَكُوْنَ أَحَدُ الأَمْرَيْنِ الْمُتَسَاوِيَيْنِ مُسَاوِيًا لِصَاحِبِهِ رَاجِحًا عَلَيْهِ بِلا سَبَبٍ وَهُوَ مُحَالُ. وَدَلِيلُ حُدُوْثِ الْعَالَمِ مُلَا زَمَتُهُ لِلْأَعْرَاضِ الْحَادِثَةِ مِنْ حَرَكَةٍ وَسُكُوْنٍ وَغَيْرِهِمَا وَمُلازِمُ الْحَادِثِ حَادِثُ وَدَلِيلُ حُدُوْثِ الْأَعْرَاضِ مُشَاهَدَةُ تَغَيَّرِهَا مِنْ عَدَمٍ إِلَى وُجُودِ وَمِنْ وُجُودِ إِلَى عَدَمٍ)
Burhan wujudnya Allah Ta' ala adalah kehudutsan alam. Sebab andaikan alam tidak ada yang menciptakan, namun ada dengan sendirinya, maka pasti ada salah satu dari dua hal yang sama, yang menyamai selainnya, dan yang mengunggulinya tanpa sebab, dan hal itu muhal. Dalil kehudutsan alam adalah selalu menetapi sifat baru seperti bergerak, diam, dan selainnya. Padahal sesuatu yang selalu menetapi sifat baru adalah baru. Adapun dalil kehudutsan sifat baru adalah perubahannya yang terlihat kasat mata, dari tidak ada menjadi ada, dan dari ada menjadi tidak ada.
■Syarh
[ش ]
لَا خَفَاءَ أَنَّ الْعَالَمَ مِنَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِينَ وَمَا فِيهِمَا وَمَا بَيْنَهُمَا أَجْرَامُ مُلَازِمَةٌ لِأَعْرَاضٍ تَقُوْمُ بِهَا مِنْ حَرَكَةٍ وَسُكُوْنٍ وَغَيْرِهِمَا.
Tidak samar lagi, bahwa alam yaitu langit, bumi, apa yang ada di dalam keduanya, dan apa yang ada di antara keduanya, merupakan jirm yang selalu menetapi sifat baru yang ada padanya, yaitu bergerak, diam, dan selainnya.
وَلْنَقْتَصِرْ عَلَى الْحَرَكَةِ وَالسُّكُوْنِ، فَإِنَّ مَعْرِفَةَ لُزُوْمِ الْأَجْرَامِ لَهُمَا ضَرُورِيَّةً لِكُلِّ عَاقِلٍ، فَتَقُولُ:
Sebaiknya kita batasi pada gerakan dan diam saja, sebab mengetahui kepastian jirm pada keduanya merupakan kebenaran yang pasti diakui oleh semua orang berakal. Lalu kita katakan:
لَا شَكٍّ فِي وُجُوبِ الْخُدُوثِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْحَرَكَةِ وَالسُّكُونِ، إِذْ لَوْ كَانَ وَاحِدُ مِنْهُمَا قَدِيمًا لَمَا قَبِلَ أَنْ يَنْعَدِمَ أَبَدًا أَصْلًا، لِأَنَّ مَا ثَبَتَ قِدَمُهُ اسْتَحَالَ عَدَمُهُ.
"Tidak diragukan lagi wajibnya sifat huduts bagi masing-masing dari bergerak dan diam. Sebab andaikan salah satunya qadim, niscaya sama sekali ia tidak dapat tiada selamanya, sebab sesuatu yang telah ditetapkan qidamnya, maka mustahil ketiadaannya."
وَلَا خَفَاءَ أَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنَ السُّكُونِ وَالْحَرَكَةِ قَابِلُ لِلْعَدَمِ لِأَنَّهُ قَدْ شُوْهِدَ عَدَمُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِوُجُودِ ضِدَّهِ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَجْرَامِ، فَلَزِمَ اسْتِوَاءَ الْأَجْرَامِ فِي ذلِكَ، وَإِذَا ثَبَتَ حُدُوتُهُمَا وَاسْتِحَالِ وُجُودِهِمَا فِي الْأَزَلِ قطْعًا لِاسْتِحَالَةِ انْفِكَاكِهَا عَنِ الْحَرَكَةِ وَالسُّكُونِ.
"Tidak samar lagi bahwa masing- masing dari bergerak dan diam pasti bisa tiada, sebab telah disaksikan ketiadaan masing- masing dari keduanya dengan wujud lawannya dalam berbagai jirm, sehingga hal itu memastikan kesamaan berbagai jirm dalam hal wujudnya salah satu dari bergerak dan diam dengan wujud lawannya. Bila demikian, tetaplah kehudutsan keduanya dan mustahil wujud ke duanya pada azali secara pasti, karena kemustahilan terlepasnya jirm dari keduanya."
وَبِالْجُمْلَةِ فَحُدُوْثُ أَحَدِ الْمُتَلَازِمَيْنِ يَسْتَلْزِمُ حُدُوْنَ الْآخَرِ ضَرُورَةً.
Kesimpulannya, kehudustan salah satu dari dua hal yang saling melazimi, secara pasti menetapkan kehudustan yang lainnya.
وَإِذَا اسْتَبَانَ بِهَذَا حُدُوتُ الْعَالَمِ لَزِمَ افْتِقَارُهُ إِلَى مُحْدِثٍ، لِأَنَّهُ لَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مُحْدِثُ، بَلْ حَدَثَ بِنَفْسِهِ لَزِمَ اجْتِمَاعُ أَمْرَيْنِ مُتَنَافِيَيْنِ، وَهُمَا الْإِسْتِوَاءُ وَالرُّجْحَانُ بِلَا مُرَبِّحٍ، لِأَنَّ وُجُودَ كُلِّ فَرْدٍ مِنْ أَفْرَادِ الْعَالَمِ مُسَاوٍ لِعَدَمِهِ، وَزَمَانُ وُجُوْدِهِ مُسَاوٍ لِغَيْرِهِ مِنَ الْأَزْمِنَةِ، وَمِقْدَارُهُ الْمَخْصُوصُ مُسَاوِ لِسَائِرِ الْمَقَادِيرِ، وَمَكَانُهُ الَّذِي اخْتَصَّ بِهِ مُسَاوٍ لِسَائِرِ الْأَمْكِنَةِ، وَجِهَتُهُ الْمَخْصُوْصَةُ مُسَاوِيَةٌ لِسَائِرِ الْجِهَاتِ، وَصِفَتُهُ الْمَخْصُوْصَةُ مُسَاوِيَةٌ لِسَائِرِ الصَّفَاتِ.
Ketika dengan penjelasan ini kehudustan alam telah jelas, maka pastilah kebutuhan alam terhadap zat yang menciptakannya. Sebab andaikan tidak ada penciptanya, namun tercipta dengan sendirinya, niscaya akan berkumpul dua hal yang saling menafikan, yaitu kesamaan dan keunggulan tanpa faktor yang mengunggulkan. Sebab (pada hakikatnya) wujud masing-masing alam itu sama dengan ketiadaannya, zaman wujudnya sama dengan zaman selainnya, ukuran yang terkhusus baginya sama dengan ukuran selainnya, tempat yang terkhusus baginya sama dengan tempat selainnya, arah yang terkhusus baginya sama dengan arah selainnya, dan sifat yang terkhusus baginya sama dengan sifat selainnya.
فَهَذَهِ أَنْوَاعُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهَا فِيهِ أَمْرَانِ مُتَسَاوِيَانِ، فَلَوْ حَدَثَ أَحَدُهُمَا بِلَا مُحْدِثٍ لَتَرَجَّح عَلَى مُقَابِلِهِ مَعَ أَنَّهُ مُسَاوِ لَهُ، إِذْ قَبُوْلُ كُلِّ جِرْمٍ لَهُمَا عَلَى حَدَّ سَوَاءٍ، فَقَدْ لَزِمَ أَنْ لَوْ وُجِدَ شَيْءٌ مِنَ الْعَالَمِ بِنَفْسِهِ بِلَا مُوْجِدٍ لَزِمَ اجْتِمَاعُ الْاِسْتِوَاءِ وَالرُّجْحَانِ الْمُتَنَافِيَيْنِ، وَذَلِكَ مُحَالُ.
Inilah berbagai macam-macam hal yang di dalam masing-masing sifatnya terdapat dua hal yang sama. Andaikan salah satunya ada tanpa pencipta, niscaya ia telah mengungguli yang lainnya padahal ia menyamainya. Sebab penerimaan setiap jirm pada keduanya adalah sama. Kemudian sungguh menjadi tetap bahwa andaikan ada sesuatu dari alam yang wujud dengan sendirinya tanpa pencipta, maka pasti terjadi berkumpulnya kesamaan dengan keunggulan yang saling menafikan. Padahal hal tersebut muhal(mustahil).
فَإِذَا لَوْلَا مَوْلَانَا تَعَالَى الَّذِي خَصَّ كُلَّ فَرْدٍ مِنْ أَفْرَادِ الْعَالَمِ بِمَا اخْتَصَّ بِهِ لَمَا وُجِدَ شَيْءٌ مِنَ الْعَالَمِ. فَسُبْحَانَ مَنْ أَفْصَحَ بِوُجُوْبِ وُجُوْدِهِ وُجُوْبُ افْتِقَارِ الْكَائِنَاتِ كُلَّهَا إِلَيْهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.
Bila demikian, andaikan Tidak ada Allah Ta'ala yang menentukan ketentuan-ketentuan khusus bagi masing-masing alam, niscaya tidak akan wujud alam sedikit pun. Maha suci Allah Zat yang kewajiban wujud-Nya ditunjukkan oleh kewajian butuhnya semua kepada- Nya-Tabaraka wa Ta'ala.
فَقَوْلِيْ لَزِمَ أَنْ يَكُوْنَ أَحَدُ الْأَمْرَيْنِ الْمُتَسَاوِيَيْنِ أَعْنِي بِهِمَا الْوُجُوْدَ وَالْعَدَمَ وَالْمِقْدَارَ الْمَخْصُوْصَ وَغَيْرَهُ وَنَحْوَ ذَلِكَ مِمَّا ذَكَرْنَاهُ آنِفًا. وَبَاقِي الْكَلَامِ وَاضِحُ، وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ.
Maka maksud ucapanku: "Maka pasti ada salah satu dari dua hal yang sama", adalah wujud dan ketiadaan, ukuran tertentu dan selainnya, dan semisalnya dari beberapa hal yang telah aku sebutkan barusan. Pembahasan selanjutnya sudah jelas. Wabillait taufiq.
Komentar
Posting Komentar