Langsung ke konten utama

Terjemah kitab Ummul barahin imam As-Sanusi tentang dalil sifat wahdaniyyah











■ Burhan Sifat Wahdaniyyah



 (ص) 
(وَأَمَّا بُرْهَانُ وُجُوْبِ الْوَحْدَانِيَّةِ لَهُ تَعَالَى، فَلِأَنَّهُ لَوْ لَمْ يَكُنْ وَاحِدًا لَلَزِمَ أَنْ لَا يُوْجَدَ شَيْءٌ مِنَ الْعَالَمِ لِلُزُوْمِ عَجْزِهِ حِينَئِذٍ) 

Burhan wajibnya sifat wahdaniyyah bagi Allah Ta' ala adalah, andaikan Allah tidak esa, pasti alam apapun tidak akan terwujud, karena dalam kondisi demikian Allah pasti lemah. 



Syarh 


[ش] يَعْنِي أَنَّهُ لَوْ كَانَ لَهُ تَعَالَى مُمَائِلُ فِي أُلُوْهِيَتِهِ لَزِمَ أَنْ لَا 
يُوْجَدَ شَيْءٌ مِنَ الْحَوَادِثِ، وَالتَّالِي مَعْلُوْمُ الْبُطْلَانِ بِالضَّرُورَةِ

Maksudnya, andaikan ada sesuatu yang menyamai Allah Ta'ala dalam ketuhanan-Nya, niscaya tidak ada makhluk apapun yang tercipta. Frase yang terakhir ini jelas-jelas gugur secara pasti.

 وَبَيَانُ لُزُوْمِ ذَلِكَ أَنَّهُ قَدْ تَقَرَّرَ بِالْبُرْهَانِ الْقَاطِعِ وُجُوبُ عُمُوْمِ قُدْرَتِهِ تَعَالَى وَإِرَادَتِهِ لِجَمِيعِ الْمُمْكِنَاتِ، فَلَوْ كَانَ ثَمَّ مَوْجُودُ لَهُ مِنَ الْقُدْرَةِ عَلَى إِيجَادِ مُمْكِن مَا مِثْلُ مَا لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ لَزِمَ عِنْدَ تَعَلُّقِ تَيْنِكَ الْقُدْرَتَيْنِ بِإِيْجَادِ ذَلِكَ الْمُمْكِنِ أَنْ لَا يُوْجَدَ بِهِمَا مَعًا لِاسْتِحَالَةِ أَثَرٍ وَاحِدٍ بَيْنَ مُؤْثِرَيْنِ لِمَا يَلْزَمُ عَلَيْهِ مِنْ رُجُوعِ الْأَثَرِ الْوَاحِدِ أَثَرَيْنِ، وَذَلِكَ لَا يُعْقَلُ، فَإِنَّهُ لَا بُدَّ مِنْ عَجْزِ أَحَدِ الْمُؤَثَّرَيْنِ، وَذَلِكَ مُسْتَلْزِمُ لِعَجْزِ الْآخَرِ الْمُمَائِلِ لَهُ فِي الْقُدْرَةِ عَلَى الْإِيجَادِ. 

Penjelasan kepastian itu adalah, sungguh telah tetap wajibnya kemenyeluruhan qudrah dan iradah Allah Ta'ala pada seluruh hal yang mumkin dengan burhan yang bersifat qath'i. Jadi, andaikan ada suatu hal yang wujud yang mempunyai qudrah (kemampuan) menciptakan hal yang mumkin, apapun itu, sebagaimana qudrah Allah-Jalla wa 'Azza-ketika terjadi keterhubungan dua sifat qudrah tersebut dengan penciptaan hal mumkin, pasti hal mumkin itu tidak akan terwujud dengan keduanya secara bersamaan, karena mustahil terjadinya satu atsar di antara dua mu'atstsir, sebab pasti satu atsar akan kembali pada dua atsar, dan hal ini tidak diterima akal, sebab salah satunya pasti lemah. Hal ini memastikan kelemahan mu`atstsir yang lain yang menyamainya dalam kemampuan menciptakan.

وَإِذَا لَزِمَ عَجْرُهُمَا مَعًا فِي هَذَا الْمُمْكِن لَزِمَ عَجْرُهُمَا كَذَلِكَ فِي سَائِرِ الْمُمْكِنَاتِ لِعَدَمِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا، وَذَلِكَ مُسْتَلْزِمُ لِاسْتِحَالَةِ وُجُودِ الْحَوَادِثِ كُلَّهَا، وَالْمُشَاهَدَةُ تَقْتَنِي بُطْلَانَ ذَلِكَ ضَرُورَةً. وَإِذَا اسْتَبَانَ وُجُوْبُ عَجْزِهِمَا مَعًا مَعَ الْاتَّفَاقِ عَلَى مُمْكِنٍ وَاحِدٍ كَانَ مَعَ الْاِخْتِلَافِ فِيهِ عَلَى سَبِيلِ التَّضَادَّ أَوْلَى فَتَعَيَّنَ وُجُوْبُ وَحْدَانِيَّةِ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ فِي ذَاتِهِ وَفِي صِفَاتِهِ وَفِي أَفْعَالِهِ. 

Ketika kelemahan keduanya untuk menciptakan hal mumkin tersebut secara bersamaan telah pasti, maka pasti pula kelemahan mereka untuk menciptakan hal mumkin lain, karena tidak ada perbedaan di antara keduanya. Hal ini juga memastikan kemustahi- lan terciptanya semua makhluk, padahal fakta menggugurnya secara pasti. Bila kepastian lemahnya kedua mu'atstsir menciptakan satu hal mumkin secara bersaman telah jelas, apalagi kepastian lemahnya keduanya pada objek penciptaan yang berbeda yang bertentangan, maka pastilah wajibnya sifat wahdaniyyah Allah-Jalla wa 'Azza dalam Zat, sifat, dan perbuatan- Nya.

وَبِهَذَا تَعْرَفُ أَنْ لَا أَثَرَ لِقُدْرَتِنَا فِي شَيْءٍ مِنْ أَفْعَالِنَا الْإِخْتِيَارِيةِ كَحَرَكَاتِنَا وَسَكَنَاتِنَا وَقِيَامِنَا وَقُعُوْدِنَا وَمَشْيِنَا وَنَحْوِهَا، بَلْ جَمِيعُ ذَلِكَ مَخْلُوْقُ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ بِلَا وَاسِطَةٍ، وَقُدْرَتُنَا أَيْضًا مِثْلَ ذَلِكَ عَرَضٌ مَخْلُوْقُ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ تُقَارِنُ تِلْكَ الْأَفْعَالَ الْإِخْتِيَارِيَّةَ وَتَتَعَلَّقُ بِهَا مِنْ غَيْرِ تَأْثِيرِ لَهَا فِي شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ أَصْلًا، وَإِنَّمَا أَجْرَى اللهُ تَعَالَى الْعَادَةَ أَنْ يَخْلُقَ عِنْدَ تِلْكَ الْقُدْرَةِ لَا بِهَا مَا شَاءَ مِنَ الْأَفْعَالِ، وَجَعَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وُجُودَ تِلْكَ الْقُدْرَةِ مُقَارِنَةً لِلْفِعْلِ شَرْطًا فِي وُجُوْبِ التَّكليف.

Dengan penjelasan ini Anda tahu, sungguh tidak ada atsar (pengaruh) bagi kemampuan kita pada perbuatan ikhtiari kita, apapun itu,seperti gerakan, diam, berdiri, duduk, jalan kita, dan semisalnya. Bahkan seluruhnya merupakan makhluk Allah-Jalla wa tanpa perantara; Azza dan juga kemampuan kita seperti itu merupakan sifat yang diciptakan Allah-Jalla wa 'Azza-yang bersama- an dengan perbuatan ikhtiari dan berhubungan dengannya tanpa berpengaruh sedikitpun padanya. Niscaya Allah Ta'ala hanya menjalankan adat menciptakan suatu perbuatan yang dikehendaki- Nya ketika ada kemampuan tersebut, tidak menciptakan dengannya; dan Allah-Subhanah menjadikan wujudnya kemampu- an tersebut berbarengan dengan perbuatan manusia sebagi syarat bagi wajibnya taklif.

 وَهَذَا الْاِقْتِرَانُ وَالتَّعَلُّقُ لِهَذِهِ الْقُدْرَةِ الْحَادِثَةِ بِتِلْكَ الْأَفْعَالِ مِنْ غَيْرِ تَأْثِيرِ لَهَا أَصْلًا، هُوَ الْمُسَمَّى فِي الْإِصْطِلَاحِ وَفِي الشَّرْعِ بِالْكَسْبِ وَالْاِكْتِسَابِ.

Kebersamaan dan keterhubungan kemampuan manusia yang bersifat hadits ini dengan perbuatannya tanpa pengaruh apapun padanya, inilah yang dalam istilah ilmu kalam dan syariat disebut dengan term kasab dan iktisab.

 وَبِحَسَبِهِ تُضَافُ الْأَفْعَالُ إِلَى الْعِبَادِ كَقَوْلِهِ تَعَالَى: لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ، وَأَمَّا الْإِخْتِرَاعُ وَالْإِيجَادُ فَهُوَ مِنْ خَوَاصٌ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ لَا يُشَارِكُهُ فِيْهِ شَيْءٌ سِوَاهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى. 

Berdasarkan istilah ini perbuatan manusia disandarkan padanya, sebagaimana firman Allah: "la mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya." Adapun mencipta- kan sesuatu, maka merupakan kekhususan Allah-Jalla wa 'Azza-, tidak ada apapun selainnya yang menyekutuinya pada penciptaan itu.


وَيُسَمَّى الْعَبْدُ عِنْدَ خَلْقِ اللَّهِ تَعَالَى فِيْهِ هَذِهِ الْقُدْرَةَ الْمُقَارِنَةَ لِلْفِعْلِ مُخْتَارًا، وَعِنْدَ مَا يَخْلُقُ تَعَالَى فِيْهِ الْفِعْلَ مُجَرَّدًا عَنْ مُقَارَنَةِ تِلْكَ الْقُدْرَةِ الْمُحَادَثَةِ مجبورًا وَمُضْطَرًا كَالْمُرْتَعِشِ مَثَلًا.

Saat Allah Ta'ala kemampuan menciptakan yang bersamaan dengan perbuatan pada seorang hamba, maka hamba itu disebut sebagai mukhtar (orang yang merdeka atas pilihannya melaku- kan perbuatan), dan saat Allah Ta'ala menciptakan perbuatan padanya tanpa bersamaan dengan kemampuan yang bersifat hadits, maka ia disebut sebagai majbur dan muththar (orang yang terpaksa atas perbuatannya), seperti orang gemetar misalnya.

 وَعَلَامَةُ مُقَارَنَةِ الْقُدْرَةِ الْحَادِثَةِ لِمَا يُوْجَدُ فِي مَحَلَّهَا تَيَسُّرُهُ بِحَسَبٍ الْعَادَةِ فِعْلًا أَوْ تَرْكًا، وَعَلَامَةُ الْجُبْرِ وَعَدَمِ تِلْكَ الْقُدْرَةِ عَدَمُ التيسر.

Tanda kebersamaan kemampuan yang bersifat hadits pada perbuatan yang tercipta pada tempat kemampuan tersebut adalah kemudahannya secara adat dalam melakukan atau mening- galkan perbuatan. Sedangkan tanda keterpaksaan dan tidak adanya kemampuan adalah tidak adanya kemudahan melakukan atau meninggalkan perbuatan.

 وَإِدْرَاكُ الْفَرْقِ بَيْنَ هَاتَيْنِ الْخَالَتَيْنِ ضَرُورِيُّ لِكُلِّ عَاقِلٍ كَمَا أَنَّ الشَّرْعَ جَاءَ بِإِثْبَاتِ الْحَالَتَيْنِ، وَتُفْصَلُ بِإِسْقَاطِ التَّكْلِيفِ فِي الْحَالَةِ الثَّانِيَةِ وَهِيَ حَالَةُ الْجَبْرِ دُوْنَ الْأَوْلَى، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: "لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا أَيْ إِلَّا مَا فِي طَاقَتِهَا بِحَسَبِ الْعَادَةِ وَأَمَّا بِحَسَبِ الْعَقْلِ وَنَفْسِ الْأَمْرِ فَلَيْسَ فِي وُسْعِهَا، أَيْ طَاقَتِهَا اخْتِرَاعُ شَيْءٍ مَا. 

Setiap orang berakal sehat pasti bisa menemukan perbedaan di antara kedua kondisi ini, sebagaimana syara' menetapkan keduanya, telah dan kondisi yang kedua diperinci (dibedakan) dengan pengguguran taklif, yaitu kondisi terpaksa, bukan kondisi yang pertama. Allah Ta'ala berfirman: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya", maksudnya kecuali apa yang pada adatnya dalam batas kemampuannya. Adapun pada ranah pemikiran dan faktanya, tidaklah manusia mampu melaku- kan sesuatu, apapun itu.

وَبِهَذَا تَعْرِفُ بُطْلَانَ مَذْهَبٍ الْجُبْرِيَّةِ الْقَائِلِينَ بِاسْتِوَاءِ الْأَفْعَالِ كُلَّهَا، وَأَنَّهُ لَا قُدْرَةً تُقَارِنُ شَيْئًا مِنْهَا عُمُوْمًا، وَلَا شَكٍّ أَنَّهُمْ فِي هَذِهِ الْمَقَالَةِ مُبْتَدِعَةُ بُلْهُ يُكَذِّبُهُمُ الشَّرْعُ. 

Dengan penjelasan ini Anda mengetahui gugurnya madzhab Jabriyyah yang berpendapat atas samanya seluruh perbuatan dan tidak ada qudrah Allah yang menye- luruh yang membarengi perbuatan manusia satupun. Tidak diragukan lagi sungguh mereka karena pendapatnya ini adalah ahli bid'ah yang bodoh dan kebohongannya ditunjukkan oleh syara

وَبُطْلَانُ مَذْهَبِ الْقَدَرِيَّةِ تَجُوسُ هَذِهِ الْأُمَّةِ الْقَائِلِينَ بِتَأْثِيرِ تِلْكَ الْقُدْرَةِ الْحَادِثَةِ فِي الْأَفْعَالِ عَلَى حَسَبِ إِرَادَةِ الْعَبْدِ، وَلَا شَكَ أَنَّهُمْ مُبْتَدِعَةٌ أَشْرَكُوْا مَعَ اللَّهِ غَيْرَهُ.

Dengan penjelasan tersebut Anda juga mengetahui gugurnya madzhab Qadariyyah, kaum Majuzi umat Islam ini, yang berpendapat atas berpengaruhnya kemampuan manusia yang bersifat hadits pada perbuatan-perbuatannya sesuai kehendaknya. Tidak diragukan lagi, mereka ahli bid'ah yang telah menyekutukan Allah pada selain-Nya

فَيَتَحَقَّقُ مَذْهَبُ أَهْلِ السُّنَّةِ بَيْنَ هَذَيْنِ الْمَذْهَبَيْنِ الْفَاسِدَيْنِ، فَهُوَ قَدْ خَرَجَ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا سَائِعًا لِلشَّارِبِينَ، بَيْنَ 
قَوْمٍ أَفْرَطُوْا، وَهُمْ الْجُبْرِيَّةُ، وَبَيْنَ قَوْمٍ فَرَطُوْا، وَهُمْ الْقَدَرِيَّةُ.

Maka benarlah Ahlussunnah di madzhab antara dua madzhab rusak tadi. Madzhab Ahlussunnah ibarat susu yang menyegarkan bagi para peminum yang keluar dari antara kotoran dan darah; di antara kaum yang lalai, yaitu Jabriyyah, dan kaum yang melampaui batas, yaitu Qadariyyah.

 وَكَمَا أَنَّ هَذِهِ الْقُدْرَةَ الْحَادِثَةَ لَا أَثَرَ لَهَا أَصْلًا فِي فِعْلٍ مِنَ الْأَفْعَالِ، كَذَلِكَ لَا أَثَرَ لِلنَّارِ فِي شَيْءٍ مِنَ الْإِحْرَاقِ أَوِ الطَّبْخِ أَوِ التَّسْخِيْنِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ، لَا بِطَبْعِهَا وَلَا بِقُوَّةٍ وُضِعَتْ فِيْهَا، بَلِ اللهُ تَعَالَى أَجْرَى الْعَادَةَ اخْتِيَارًا مِنْهُ جَلَّ وَعَزَّ بِإِيْجَادِ تِلْكَ الْأُمُوْرِ عِنْدَهَا لَا بِهَا.

Sebagaimana kemampuan manusia yang bersifat hadits tidak mempunyai pengaruh apapun pada perbuatannya, begitu pula tidak ada pengaruh apapun bagi api pada terbakar, termasak, dan terpanasinya sesuatu, atau selainnya. Tidak berpengaruh dengan wataknya atau kekuatan yang ditempatkan padanya. Justru Allah Ta'ala yang memberlakukan adat secara merdeka dari-Nya, dengan menciptakan hal-hal tersebut ketika ada (bersamaan dengan) kemampuan manusia yang bersifat hadits, bukan dengannya.

 وَقِسْ عَلَى هَذَا مَا يُوجَدُ مِنَ الْقَطْعِ عِنْدَ السِّكِّينِ وَالْأَلَمِ عِنْدَ الْجُوْعِ وَالشَّبْعِ عِنْدَ الطَّعَامِ وَالرَّيِّ وَالنَّبَاتِ عِنْدَ الْمَاءِ وَالضَّوْءِ عِنْدَ الشَّمْسِ وَالسَّرَاجِ وَنَحْوِهِمَا وَالظَّلَّ عِنْدَ الجِدَارِ وَالشَّجَرَةِ وَنَحْوِهِمَا وَبَرَدِ الْمَاءِ السَّجْنِ عِنْدَ صَبِّ الْمَاءِ الْبَارِدِ فِيْهِ وَبِالْعَكْسِ وَنَحْوِ ذَلِكَ مِمَّا لَا يَنْحَصِرُ.

Samakanlah pada hal ini, terputusnya sesuatu saat ada pisau memotong; sakit saat lapar; kenyang saat makan; segar dan tumbuh saat ada air; sinar saat ada matahari, lampu, dan semisalnya; bayangan saat ada tembok, pohon, dan semisalnya, dinginnya air panas ketika air dingin dituangkan padanya, dan sebaliknya,serta berbagai hal lain yang semisal dengannya yang tidak terbatas.
 فَاقْطَعْ فِي ذَلِكَ كُلِّهِ بِأَنَّهُ تَخْلُوْقُ لِلَّهِ تَعَالَى بِلَا وَاسِطَةِ الْبَتَةَ، وَأَنَّهُ لَا تَأْثِيرَ فِيْهِ أَصْلًا لِتِلْكَ الْأَشْيَاءِ الَّتِي جَرَّتِ الْعَادَةُ بِوُجُودِهَا مَعَهَا.

Pastikan bahwa semuanya itu adalah makhluk Allah Ta'ala tanpa perantara sama sekali, dan sungguh tidak ada pengaruh apapun padanya bagi semua hal yang menurut adat wujud bersamaan dengannya.

 وَبِالْجُمْلَةِ فَلْتَعْلَمْ أَنَّ الْكَائِنَاتِ كُلَّهَا يَسْتَحِيلُ مِنْهَا الْإِخْتِرَاعُ لِأَثَرِ مَا، بَلْ جَمِيعًا مَخْلُوقُ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ وَمُفْتَقِرُ إِلَيْهِ أَشَدُّ الْافْتِقَارِ ابْتِدَاءً وَدَوَامًا بِلَا وَاسِطَةٍ. 

Kesimpulannya, ketahuilah sungguh mustahil ada kemampuan menciptakan pengaruh apapun dari semua makhluk. Justru semuanya merupakan makhluk Allah-Jalla wa 'Azza yang sangat butuh kepada-Nya, pada permulaan dan keberlansungan wujudnya tanpa perantara.

فَبِهَذَا أَشْهَدَ الْبُرْهَانُ الْعَقْلِيُّ وَدَلَّ عَلَيْهِ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ وَإِجْمَاعُ السَّلَفِ الصَّالِحِ قَبْلَ ظُهُورِ الْبِدَعِ، وَلَا تَصْعُ بِأُذُنَيْكَ لِمَا يَنْقِلُهُ بَعْضُ مَنْ أُوْلِعَ بِنَقْلِ الْغَفَّ وَالسَّمِيْنِ عَنْ مَذْهَبٍ بَعْضِ أَهْلِ السُّنَّةِ مِمَّا يُخَالِفُ مَا ذَكَرْنَاهُ لَكَ. 

Kebenaran inilah yang disaksi- kankan oleh burhan dan ditunjuk- kan oleh al-Qur'an, as-Sunnah, dan ijma' as-salaf as-shalih, sebelum keluarnya berbagai bid'ah. Jangan dengarkan dengan kedua telinga Anda, apa yang dinukil segelintir orang yang terkagum-kagum dengan nukilan yang buruk dan yang baik dari pendapat sebagian Ahlussunnah, yang bertentangan dengan keterangan yang aku sampai kan kepada anda.

فَشَدِيدُكَ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ وَهُوَ الْحَقُّ الَّذِي لَا شَكٍّ فِيْهِ وَلَا يَصِحُ غَيْرُهُ وَاقْطَعْ تَشَوُّقَكَ إِلَى سِمَاعِ الْبَاطِلِ تَعِشْ سَعِيدًا وَتَمُتْ إِنْ شَاءَ اللهِ تَعَالَى طَيِّبًا رَشِيْدًا، وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ.

Konsistensi Anda pada penjelasan yang aku sampaikan, itulah kebenaran tanpa keraguan, dan yang selainnya tidak benar. Putuslah keinginan Anda untuk mendengar pendapat yang salah, maka Anda akan hidup penuh keuntungan dan insyaallah mati dengan baik dan mendapat petunjuk. Allahul musta'an.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terjemah kitab matan taqrib pembahasan tentang hukum-hukum shalat

كِتَابُ الصَّلَاةِ  Pembahasan shalat  Shalat-shalat yang diwajibkan  الصَّلَاةُ الْمَفْرُوْضَةُ خَمْسٌ: Shalat yang diwajibkan itu ada 5.yaitu:  (۱) الظَّهْرُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهَا زَوَالُ الشَّمْسِ، وَآخِرُهُ إِذَا صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ بَعْدَ ظِلَّ الزَّوَال.  1. Zhuhur,  waktu salat zhuhur mulai setelah lewat rembang matahari (setelah matahari tergelincir ke arah barat). Dan akhir waktunya adalah ketika bayang- bayang sebuah benda telah sama panjangnya dengan benda itu, sesudah matahari lewat rembang. (۲) وَالْعَصْرُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهَا الزَّيَادَةُ عَلَى ظِلَّ الْمِثْلِ، وَآخِرُهُ في الاخْتِيَارِ إِلَى ظِلَّ الْمِثْلَيْنِ وَفِي الْجَوَازِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ  2. Ashar,  waktu salat ashar dimulai setelah bayang-bayang sebuah benda yang sama dengan benda aslinya tadi bertambah panjang. Dan akhir waktunya menurut waktu Ikhtiar (waktu yang menjadi pilihan untuk menger- jakan salat sebelum masuk pada bagian waktu berikutnya) adalah...

Terjemah kitab mutammimah tentang bab kalam

               بَابُ الكلام          Bab Kalam     الكلامُ هُوَ  اللفظ المُرَكَّبُ الْمُفِيدُ بالوضع kalam adalah satu lafazd yang murakkab yang memberi faedah dengan waza'(sengaja)/bahasa arab Keterangan : • Lafadz adalah suara yang mengandung sebagian huruf Hijaiyah (huruf huruf Arab yang diawali dari alif sampai ya'). Contoh: زَيْدُ dan قَائِمُ  • Murokkab adalah lafadz yang tersusun dari dua kalimat atau lebih dengan susunan isnadi (penisbatan atau penyandaran hukum yang menjadikan kesempurnaan faidah). Contoh: زَيْدُ قَائِمٌ )Zaid orang yang berdiri( أنا قائم )Saya orang yang berdiri • Mufid adalah ungkapan berfaidah yang dapat memberikan pemahaman sehingga tidak membutuhkan pertanyaan dari orang yang mendengarkan. Contoh: زَيْدُ قَائِمٌ )Zaid orang yang berdiri( • Wad'i menurut sebagian ulama' nahwu adalah berbahasa Arab, dan menurut ulama' yang lain wad'i adalah disengaja oleh orang yang men...

Terjemah kitab matammimah tentang isem alam

    _________________________________________ Note:⚠️ Bila antum menemukan kesalahan dalam penulisan maka sangat diharapkan untuk mengomentari nya, Syukran kasiran ____________________________________________   فَصْلٌ فِي بَيَانِ الإِسْمِ الْعَلَمِ Fasal Tentang Isim Alam الْعَلَمُ نَوْعَانِ: شَخْصِيٌّ وَهُوَ مَا وُضِعَ لِشَيْءٍ بِعَيْنِهِ لَا يَتَنَاوَلُ غَيْرُهُ كَزَيْدٍ وَفَاطِمَةَ وَمَكَّةَ وَشَدْقَمٍ وَقَرَنٍ. Isim alam ada dua. Yaitu: 1. Alam syakhs, ialah alam yang diletakkan (dicetak) untuk sesuatu yang sudah nyata (individu) dan tidak mencakup yang lainnya.  Contoh: زَيْدٍ - فَاطِمَةَ - مَكَّةَ - شَدْقَم - قَرَنٍ  وَجِنْسِيٌّ وَهُوَ مَا وُضِعَ لِجِنْسِ مِنَ الْأَجْنَاسِ كَأَسَامَةَ لِلْأَشَدِ وَثُعَالَةَ لِلتَّعْلَبِ وَذُؤَالَةَ لِلذِّئْبِ وَأُمُّ عِرْيَطٍ لِلْعَقْرَبِ. 2. Alam jinis, ialah alam yang diletakkan (dicetak) untuk beberapa jinis.  Contoh: أسامة untuk nama harimau, تُعَالَةَ untuk nama musang, ذُؤَالَةَ untuk srigala, dan أُمُّ عِرْبَط...