■ Burhan Sifat Qidam
[ص]
(وَأَمَّا بُرْهَانُ وُجُوبِ الْقِدَمِ لَهُ تَعَالَى، فَلِأَنَّهُ لَوْ لَمْ يَكُنْ قَدِيْمًا لَكَانَ حَادِثًا، فَيَفْتَقِرُ إِلَى مُحْدِثٍ فَيَلْزَمُ الدَّوْرُ أَوِ التَّسَلْسُلُ)
Burhan wajibnya sifat qidam bagi Allah Ta' ala adalah, andaikan Allah tidak qadim pasti ia zat yang hadits, maka membutuhkan pencipta, dan hal ini pasti menyebabkan daur atau tasalsul.
• Syarh
[ش]
يَعْنِي أَنَّهُ إِذَا ثَبَتَ وُجُودُهُ تَعَالَى بِمَا سَبَقَ مِنَ الْبُرْهَانِ، وَهُوَ افْتِقَارُ الْكَائِنَاتِ كُلِّهَا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ، فَإِنَّهُ يَجِبُ لَهُ سُبْحَانَهُ الْقِدَمُ.
Maksudnya, ketika wujudnya Allah Ta'ala telah tetap (diakui) dengan Burhan yang telah lewat, yaitu butuhnya seluruh makhluk kepada-Nya, maka sungguh wajib bagi-Nya sifat qidam.
وَبُرْهَانُهُ أَنَّهُ لَوْ لَمْ يَكُنْ تَعَالَى قَدِيمًا لَكَانَ حَادِثًا لِوُجُوْبِ الْحِصَارِ كُلِّ مَوْجُودِ فِي الْقِدَمِ وَالْحُدُوْثِ، فَمَتَى انْتَفَى وُجُودُ أَحَدِهِمَا تَعَيَّنَ الْآخَرُ.
Burhannya adalah, andaikan Allah tidak qadim niscaya la hadits, karena pasti terbatasinya setiap hal yang wujud pada qidam dan huduts. Maka ketika wujud salah satunya ternafikan, pasti wujud yang lainnya.
وَالْخُدُوْثُ عَلَى مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ مُسْتَحِيلُ، لِأَنَّهُ يَسْتَلْزِمُ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ مُحْدِثُ لِمَا عَرَفْتَ فِي حُدُوْثِ الْعَالَمِ، ثُمَّ مُحْدِثُهُ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ مِثْلَهُ فَيَكُوْنُ حَادِثًا، فَلَهُ أَيْضًا مُحْدِثُ، وَيَلْزَمُ أَيْضًا فِي هَذَا الْمُحْدِثِ مَا لَزِمَ فِي الَّذِي قَبْلَهُ مِنَ الْافْتِقَارِ مُحْدِثُ إِلَى آخَرَ، وَهَكَذَا.
Sifat huduts mustahil bagi Allah- Jalla wa 'Azza, sebab hal ini memastikan adanya pencipta baginya, karena alasan yang telah Anda ketahui pada kehudutsan alam. Kemudian pencipta Allah (andaikan ada) pasti menyamainya, sehingga bersifat hadits. Lalu ia juga mempunyai pencipta, dan pasti pencipta terakhir ini juga membutuhkan pencipta lain sebagaimana pencipta sebelum- nya, dan seterusnya begitu (tanpa berujung siapa pencipta awalnya)
فَإِنِ الْحَصَرَ الْعَدَدُ لَزِمَ الدَّوْرُ، لِأَنَّ مُحْدِثَ الْأَوَّلِ يَلْزَمُ أَنْ يَكُوْنَ بَعْضَ مَنْ مِنْ بَعْدِهِ مِمَّنْ أَحْدَثَهُ هَذَا الْأَوَّلُ أَوْ أَحْدَثَهُ مَنِ اسْتُنِدَ وُجُودُهُ إِلَيْهِ مُبَاشِرَةً أَوْ بِوَاسِطَةٍ.
Bila jumlah pencipta yang dibutuhkan terbatas maka pasti terjadi daur, karena pencipta pertama pasti merupakan salah satu dari zat yang tercipta setelahnya, yaitu zat yang diciptakannya, atau zat yang diciptakan oleh zat lain yang wujudnya disandarkan kepada pencipta pertama secara langsung atau dengan perantara.
وَاسْتِحَالَةُ الدَّوْرِ ظَاهِرَةُ، لِأَنَّهُ يَلْزَمُ عَلَيْهِ تَقَدُّمُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْمُحْدِثِيْنَ عَلَى الْآخَرِ أَوْ تَأَخَّرُهُ عَنْهُ، وَذَلِكَ جَمْعُ بَيْنَ مُتَنَافِيَيْنِ، بَلْ وَيَلْزَمُ عَلَيْهِ أَيْضًا تَقَدُّمُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى نَفْسِهِ وَتَأَخَّرُهُ عَنْهَا بِمَرْتَبَتَيْنِ أَوْ بِمَرَاتِبَ، وَذَلِكَ تَهَافُتُ لَا يُعْقَلُ.
Kemustahilan daur sangat jelas, sebab pasti masing-masing pen- cipta mendahului atau tertinggal dari yang lain. Hal ini merupakan jam' baina mutanafiyain (berkumpulnya dua hal yang saling menafikan), bahkan juga pasti masing-masing mendahului dan tertinggal dari dirinya dengan dua urutan atau lebih, dan ini adalah kesalahan yang tidak dapat dibenarkan akal sehat.
وَإِنْ لَمْ يَنْحَصِرِ الْعَدَدُ وَكَانَ قَبْلَ كُلِّ مُحْدِثٍ مُحْدِثُ آخَرُ قَبْلَهُ لَزِمَ التَّسَلْسُلُ، وَهُوَ أَيْضًا مُحَالُ، لِأَنَّهُ يُؤَدِّي إِلَى فَرَاغِ مَا لَا نِهَايَةَ لَهُ وَذَلِكَ أَيْضًا لَا يُعْقَلُ.
Bila jumlah pencipta yang dibutuhkan tidak terbatas dan sebelum setiap pencipta ada pencipta lain yang ada sebelumnya, maka pasti terjadi tasalsul. Hal ini juga mustahil, sebab akan mengantarkap pada jumlah yang tidak berujung, dan hal ini juga tidak dapat diterima akal sehat.
وَإِذَا اسْتَحَالَ الْحُدُوْثُ عَلَى مَوْلَانَا سُبْحَانَهُ وَجَبَ لَهُ الْقِدَمُ، وَهُوَ الْمَطْلُوبُ.
Bila sifat huduts mustahil bagi Allah-Subhanah-maka pasti la bersifat qidam, dan inilah kesimpulan yang dicari.

Komentar
Posting Komentar