Langsung ke konten utama

Terjemah kitab Ummul barahin imam As-Sanusi tentang dalil sifat qiyamuhu Bi nafsih







• Burhan Sifat Qiyamuhu bi Nafsih


 [ص] 
(وَأَمَّا بُرْهَانُ وُجُوْبِ قِيَامِهِ تَعَالَى بِنَفْسِهِ، فَلَأَنَّهُ تَعَالَى لَوْ احْتَاجَ إِلَى مَحَلَّ لَكَانَ صِفَةً، وَالصَّفَةُ لَا تَتَّصِفُ بِصِفَاتِ الْمَعَانِي وَالْمَعْنَوِيَّةِ، وَمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ يَجِبُ اتِّصَافُهُ بِهِمَا فَلَيْسَ بِصِفَةٍ، وَلَوْ احْتَاجَ إِلَى مُخَصِّصِ لَكَانَ حَادِثًا، كَيْفَ وَقَدْ قَامَ الْبُرْهَانُ عَلَى وُجُوْبِ قِدَمِهِ تَعَالَى وَبَقَائِهِ) 


Burhan wajibnya sifat qiyamuhu bi nafsih bagi Allah Ta' ala adalah, andaikan Allah butuh pada tempat,niscaya Ia berupa sifat, dan suatu sifat tidak dapat bersifat dengan sifat-sifat ma' ani dan ma' nawiyah. Padahal Allah pasti bersifat dengan keduanya, maka Ia bukan merupakan suatu sifat. Andaikan Allah butuh pada mukhashshish (zat yang menentukan segala hal ja iz dengan sebagian kondisi yang boleh terjadi padanya), niscaya Ia adalah Zat yang hadits. Bagaimana hal seperti ini dibenarkan padahal sudah ada burhan yang menunjukkan wajibnya sifat qidam dan baga bagi Allah Ta' ala. 



• Syarh 


[ش]
 تَقَدَّمَ أَنَّ قِيَامَهُ تَعَالَى بِنَفْسِهِ عِبَارَةُ عَنِ اسْتِغْنَائِهِ جَلَّ وَعَلَا عَنِ الْمَحَلَّ وَالْمُخَصِّصِ.


Sudah dijelaskan bahwa sifat qiyamuhu bi nafsih bagi Allah adalah ungkapan dari ketidak- butuhan-Nya- Jalla wa 'Ala-dari tempat dan mukhashsish.


 أَمَّا بُرْهَانُ اسْتِغْنَائِهِ تَعَالَى عَنِ الْمَحَلَّ، أَيْ عَنْ ذَاتٍ يَقُوْمُ بِهَا، فَهُوَ أَنَّهُ لَوِ احْتَاجَ تَعَالَى إِلَى ذَاتٍ أُخْرَى يَقُوْمُ بِهَا لَزِمَ أَنْ 
يَكُونَ صِفَةٌ بِتِلْكَ الذَّاتِ، إِذْ لَا يَقُوْمُ بِالذَّاتِ إِلَّا صِفَاتُهَا.


Burhan ketidakbutuhan Allah Ta'ala pada mahall, yakni zat yang ditempatinya, adalah andaikan Allah Ta'ala membutuhkan zat lain yang menjadi tempat eksistensinya, maka pasti Allah merupakan sifat bagi zat tersebut, sebab tidak ada yang menempati suatu zat kecuali sifat-sifatnya.


 وَمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ يَسْتَحِيلُ أَنْ يَكُونَ صِفَةٌ حَتَّى يَحْتَاجَ إِلَى مَحَلَّ يَقُوْمُ بِهِ، إِذْ لَوْ كَانَ صِفَةٌ أَنْ لَا تَتَّصِفَ بِصِفَاتِ الْمَعَانِي وَهِيَ الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ وَالْعِلْمُ إِلخ، ولَا بِالصَّفَاتِ الْمَعْنَوِيَّةِ، وَهِيَ كَوْنُهُ تَعَالَى قَادِرًا وَمُرِيْدًا وَعَالِمًا إلخ، لِأَنَّ الصَّفَةَ لَا تَتَّصِفُ بصِفَةٍ ثُبُوتِيَّةٍ غَيْرِ نَفْسِيَةٍ وَلَا سَلْبِيَّةٍ، لِأَنَّ النَّفْسِيَةً وَالسَّلْبِيَّةَ تَتَّصِفُ بِهِمَا الذَّاتُ وَالْمَعَانِي، إِذْ لَوْ قَبِلَتِ الصَّفَةُ 
صِفَةٌ أُخْرَى لَزِمَ أَنْ لَا تَعْرَى عَنْهَا أَوْ عَنْ مِثْلِهَا أَوْ عَنْ ضِدَّهَا.

Semetara Allah-Jalla wa 'Azza- mustahil berupa sifat sehingga membutuhkan mahall yang menjadi tempat eksistensi-Nya. Andaikan Allah berupa sifat pasti la tidak bersifat dengan sifat-sifat ma'ani, yaitu qudrah, iradah, ilmu, dan seterusnya; dan tidak bersifat dengan sifat-sifat ma'ani, yaitu kaunuhu qadiran, muridan, 'aliman, dan seterusnya, sebab suatu sifat tidak bersifat dengan sifat tsubutiyyah yang bukan nafsiyyah dan bukan salbiyyah, sebab sifat nafsiyyah dan salbiyyah merupakan sifat bagi zat dan hal-hal yang bersifat ma'nawi. Sebab andaikan suatu sifat dapat menerima sifat lain pasti sifat itu tidak akan terlepas darinya, dari semisalnya, atau dari kebalikannya.


 وَيَلْزَمُ مِثْلُ ذَلِكَ فِي الصَّفَةِ الْأُخْرَى الَّتِي قَامَتْ بِهَا، إِذِ الْقَبُولُ نَفْسِي، فَلَا بُدَّ أَنْ يَتَّحِدَ بَيْنَ الْمُمَائِلَاتِ. وَهُوَ مُحَالٌ لِمَا يَلْزَمُ عَلَيْهِ مِنَ التَّسَلْسُلِ، وَدُخُولِ مَا لَا نِهَايَةَ لَهُ مِنَ الصَّفَاتِ فِي الْوُجُودِ وَهُوَ مُحَالُ، فَإِنَّ الصَّفَةَ لَا تَقْبَلُ أَنْ تَتَّصِفَ بِصِفَةٍ ثُبُوتِيَّةٍ غَيْرِ نَفْسِيَّةٍ تَقُوْمُ بِهَا، أَعْنِي صِفَاتِ الْمَعَانِي وَالْمَعْنَوِيَّةِ


Hal seperti itu juga pasti terjadi pada sifat lain yang menjadi tempat eksistensi sifat yang pertama tadi, sebab penerimaan pada sifat lain yang sama, yang berkebalikan, atau yang berbeda dengannya, bersifat nafsi, dan pasti akan terjadi penyatuan antara beberapa hal yang semisal. Hal ini mustahil karena pasti akan menimbulkan tasalsul dan masuknya sifat-sifat yang tidak terbatas pada sesuatu yang wujud. Hal ini juga mustahil, sebab suatu sifat tidak dapat bersifat dengan sifat tsubutiyyah yang bukan nafsiyyah yang menjadi tempat eksistensinya. Maksudku sifat-sifat ma'ani dan ma'nawiyah.


وَمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ قَامَ الْبُرْهَانُ الْقَاطِعُ عَلَى وُجُوبِ اتَّصَافِهِ بِصِفَاتِ الْمَعَانِي وَالْمَعْنَوِيَّةِ، فَيَلْزَمُ أَنْ يَكُوْنَ ذَاتًا عَلِيَّةً مَوْصُوْفَةً بِالصَّفَاتِ الْمُرْتَفِعَةِ وَلَيْسَ هُوَ فِي نَفْسِهِ سُبْحَانَهُ صِفَةً لِغَيْرِهِ، تَعَالَى عَنْ ذَلِكَ عُلُوًّا كَبِيرًا.


Padahal telah ada burhan yang memastikan Allah-Jalla wa 'Azza- bersifat dengan sifat-sifat ma'ani dan ma'nawiyah, sehingga Allah pasti merupakan Zat Yang Maha Luhur yang bersifat dengan sifat- sifat luhur, dan pada Allah- Subhanah sendiri bukan merupa- kan sifat bagi selainnya-Maha Luhur Allah darinya dengan seluhur-luhurnya.


وَأَمَّا بُرْهَانُ وُجُوْبِ اسْتِغْنَائِهِ تَعَالَى عَنِ الْمُخَصِّصِ، أَي الْفَاعِلِ، فَهُوَ أَنَّهُ لَوِ احْتَاجَ إِلَى الْفَاعِلِ لَكَانَ حَادِثًا، وَذَلِكَ مُحَالُ لِمَا عَرَفْتَ بِالْبُرْهَانِ الْقَاطِعِ مِنْ وُجُوْبِ قِدَمِهِ وَبَقَائِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.


Adapun burhan butuhan Allah atas ketidak- Ta'ala pada mukhashish maksudnya fa'il, adalah andaikan Allah butuh pada fa'il niscaya ia adalah zat yang hadits, dan hal ini mustahil karena alasan yang sudah Anda ketahui dengan burhan yang memastikan wajibnya sifat qidam dan baqa bagi Allah.


فَتَبَيَّنَ بِهَذَيْنِ الْبُرْهَانَيْنِ وُجُوْبُ الْغِنَى الْمُطْلَقِ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ عَنْ كُلَّ مَا سِوَاهُ، وَهُوَ مَعْنَى قِيَامِهِ تَعَالَى بِنَفْسِهِ.

Maka wajibnya ketidakbutuhan secara mutlak bagi Allah-Jalla wa Azza-pada selainnya menjadi jelas dengan kedua burhan ini. Inilah makna qiyamuhu ta'ala bi nafsih.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terjemah kitab matan taqrib pembahasan tentang hukum-hukum shalat

كِتَابُ الصَّلَاةِ  Pembahasan shalat  Shalat-shalat yang diwajibkan  الصَّلَاةُ الْمَفْرُوْضَةُ خَمْسٌ: Shalat yang diwajibkan itu ada 5.yaitu:  (۱) الظَّهْرُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهَا زَوَالُ الشَّمْسِ، وَآخِرُهُ إِذَا صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ بَعْدَ ظِلَّ الزَّوَال.  1. Zhuhur,  waktu salat zhuhur mulai setelah lewat rembang matahari (setelah matahari tergelincir ke arah barat). Dan akhir waktunya adalah ketika bayang- bayang sebuah benda telah sama panjangnya dengan benda itu, sesudah matahari lewat rembang. (۲) وَالْعَصْرُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهَا الزَّيَادَةُ عَلَى ظِلَّ الْمِثْلِ، وَآخِرُهُ في الاخْتِيَارِ إِلَى ظِلَّ الْمِثْلَيْنِ وَفِي الْجَوَازِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ  2. Ashar,  waktu salat ashar dimulai setelah bayang-bayang sebuah benda yang sama dengan benda aslinya tadi bertambah panjang. Dan akhir waktunya menurut waktu Ikhtiar (waktu yang menjadi pilihan untuk menger- jakan salat sebelum masuk pada bagian waktu berikutnya) adalah...

Terjemah kitab mutammimah tentang bab kalam

               بَابُ الكلام          Bab Kalam     الكلامُ هُوَ  اللفظ المُرَكَّبُ الْمُفِيدُ بالوضع kalam adalah satu lafazd yang murakkab yang memberi faedah dengan waza'(sengaja)/bahasa arab Keterangan : • Lafadz adalah suara yang mengandung sebagian huruf Hijaiyah (huruf huruf Arab yang diawali dari alif sampai ya'). Contoh: زَيْدُ dan قَائِمُ  • Murokkab adalah lafadz yang tersusun dari dua kalimat atau lebih dengan susunan isnadi (penisbatan atau penyandaran hukum yang menjadikan kesempurnaan faidah). Contoh: زَيْدُ قَائِمٌ )Zaid orang yang berdiri( أنا قائم )Saya orang yang berdiri • Mufid adalah ungkapan berfaidah yang dapat memberikan pemahaman sehingga tidak membutuhkan pertanyaan dari orang yang mendengarkan. Contoh: زَيْدُ قَائِمٌ )Zaid orang yang berdiri( • Wad'i menurut sebagian ulama' nahwu adalah berbahasa Arab, dan menurut ulama' yang lain wad'i adalah disengaja oleh orang yang men...

Terjemah kitab matammimah tentang isem alam

    _________________________________________ Note:⚠️ Bila antum menemukan kesalahan dalam penulisan maka sangat diharapkan untuk mengomentari nya, Syukran kasiran ____________________________________________   فَصْلٌ فِي بَيَانِ الإِسْمِ الْعَلَمِ Fasal Tentang Isim Alam الْعَلَمُ نَوْعَانِ: شَخْصِيٌّ وَهُوَ مَا وُضِعَ لِشَيْءٍ بِعَيْنِهِ لَا يَتَنَاوَلُ غَيْرُهُ كَزَيْدٍ وَفَاطِمَةَ وَمَكَّةَ وَشَدْقَمٍ وَقَرَنٍ. Isim alam ada dua. Yaitu: 1. Alam syakhs, ialah alam yang diletakkan (dicetak) untuk sesuatu yang sudah nyata (individu) dan tidak mencakup yang lainnya.  Contoh: زَيْدٍ - فَاطِمَةَ - مَكَّةَ - شَدْقَم - قَرَنٍ  وَجِنْسِيٌّ وَهُوَ مَا وُضِعَ لِجِنْسِ مِنَ الْأَجْنَاسِ كَأَسَامَةَ لِلْأَشَدِ وَثُعَالَةَ لِلتَّعْلَبِ وَذُؤَالَةَ لِلذِّئْبِ وَأُمُّ عِرْيَطٍ لِلْعَقْرَبِ. 2. Alam jinis, ialah alam yang diletakkan (dicetak) untuk beberapa jinis.  Contoh: أسامة untuk nama harimau, تُعَالَةَ untuk nama musang, ذُؤَالَةَ untuk srigala, dan أُمُّ عِرْبَط...