Langsung ke konten utama

Terjemah kitab Ummul barahin tentang dalil-dalil Sifat Qudrah, Iradah, 'Ilmu, dan Hayat











• Burhan Sifat Qudrah, Iradah, 'Ilmu, dan Hayat 


[ص]
 (وَأَمَّا بُرْهَانُ وُجُوْبِ اتِّصَافِهِ تَعَالَى بِالْقُدْرَةِ وَالْإِرَادَةِ وَالْعِلْمِ وَالْحَيَاةِ فَلِأَنَّهُ لَوْ انْتَفَى شَيْءٌ مِنْهَا لَمَا وُجِدَ شَيْءٌ مِنَ الْحَوَادِثِ)

Burhan wajibnya Allah bersifat qudrah, iradah, ilmu, dan havat adalah, andaikan salah satunya ternafikan, niscaya tidak ada makhluk apapun yang wujud.


 • Syarh


 [ش]
 قَدْ تَقَدَّمَ لَكَ أَنَّ تَأْثِيرَ الْقُدْرَةِ الْأَرْلِيَّةِ مَوْقُوْفُ عَلَى إِرَادَتِهِ تَعَالَى ذَلِكَ الْأَثَرَ، وَإِرَادَتُهُ تَعَالَى ذَلِكَ الْأَثَرِ مَوْقُوفَةٌ عَلَى الْعِلْمِ بِهِ وَالْإِنْصَافُ بِالْقُدْرَةِ وَالْإِرَادَةِ وَالْعِلْمِ مَوْقُوْفٌ عَلَى الْإِنْصَافِ بالحَيَاةِ إِذْ هِيَ شَرْطُ فِيْهَا، وَوُجُودُ الْمَشْرُوطِ بِدُوْنِ شَرْطِهِ مُسْتَحِيلُ.

Telah Anda ketahui, sungguh atsar qudrah azaliyyah Allah Ta'ala tergantung pada iradah-Nya atas atsar tersebut; iradah Allah Ta'ala pada atsar itu tergantung pada ilmu Allah terhadapnya; kebersifatan Allah dengan qudrah, iradah, dan 'ilmu tergantung pada kebersifa- tannya dengan hayat, karena hayat merupakan syarat bagi sifat-sifat tersebut, dan wujudnya masyruth tanpa adanya syarat adalah mustahil.

 فَإِذَا وُجُودُ حَادِثٍ أَيَّ حَادِثٍ كَانَ مَوْقُوْفٌ عَلَى اتَّصَافِ مُحْدِثِهِ بِهَذِهِ الصَّفَاتِ الْأَرْبَعِ، فَلَوِ انْتَفَى شَيْءٌ مِنْهَا لَمَا وُجِدَ شَيْءٌ مِنَ الْحَوَادِثِ لِلْرُوْمِ عَجْزِهِ حِينَئِذٍ.

Bila demikian, maka wujudnya sesuatu yang hadits, apapun itu, tergantung pada kebersifatan penciptanya dengan keempat sifat ini. Andaikan salah satunya tidak ada, niscaya tidak akan wujud makhluk apapun, karena kepastian lemahnya pencipta tersebut dalam kondisi seperti ini.

 وَبِهَذَا تَبَيَّنَ وُجُوبُ وُجُودِ اتَّصَافِهِ تَعَالَى بِهَذِهِ الصِّفَاتِ فِي الْأَزَلِ، إِذْ لَوْ كَانَتْ حَادِئَةً لَزِمَ تَوَقُفُ إِحْدَاثِهَا عَلَى اتَّصَافِهِ تَعَالَى بِأَمْثَالِهَا قَبْلَهَا. 

Dengan ini jelaslah wajibnya wujud kebersifatan Allah dengan sifat- sifat tersebut pada azal. Sebab andaikan sifat-sifat tersebut bersifat hadits, niscaya penciptaannya tergantung pada kebersifatan Allah Ta'ala dengan sifat-sifat yang semisal dengannya sebelum sifat-sifat itu.

ثُمَّ يَنْقُلُ الْكَلَامُ إِلَى أَمْثَالِهَا وَيَلْزَمُ التَّسَلْسُلُ وَهُوَ مُحَالٌ، فَيَكُوْنُ وُجُوْدُ تِلْكَ الصَّفَاتِ عَلَى هَذَا التَّقْدِيرِ مُحَالًا، وَذَلِكَ مُؤَدَّ إِلَى الْمَحْذُوْرِ الْمَذْكُورِ، وَهُوَ أَنْ لَا يُوْجَدَ شَيْءٌ مِنَ الْحَوَادِثِ.

Kemudian pembahasan akan pindah pada sifat-sifat yang semisal dengannya itu, dan pasti terjadi tasalsul, padahal mustahil. Sehingga wujudnya sifat-sifat tersebut berdasarkan pengadaian ini adalah mustahil. Pengandaian itu juga mengarah pada konsekuensi yang telah disebutkan, yaitu tidak ada satu makhluk pun yang wujud.

 وَبِهَذَا تَعْرِفُ أَيْضًا وُجُوْبَ عُمُوْمٍ التَّعَلُّقِ لِلْمُتَعَلِّقِ مِنْهَا كَالْعِلْمِ وَالْقُدْرَةِ وَالْإِرَادَةِ، إِذْ لَوِ اخْتَصَّتْ بِبَعْضِ الْمُتَعَلَّقَاتِ دُوْنَ بَعْضٍ لَزِمَ الْافْتِقَارُ إِلَى الْمُخَصِّصِ، فَتَكُوْنُ حَادِثَةً، وَلَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُوْنَ الْمُحْدِثُ لَهَا غَيْرَ الْمَوْصُوْفِ بِهَا لِمَا عَرَفْتَ مِنْ وُجُوْبِ الْوَحْدَانِيَّةِ لَهُ تَعَالَى وَانْفِرَادِهِ بِالْاخْتِرَاعِ. 

Dengan gugurnya frase terakhir ini Anda juga mengetahui wajibnya kemenyeluruhan ta'alluq sifat-sifat tersebut pada muta'alliqnya, seperti 'ilmu, qudrah, dan iradah. Sebab, andaikan sifat tersebut hanya berta'alluq pada sebagian muta'al- liqnya, niscaya Allah butuh pada mukhasshis, sehingga sifat tersebut berstatus hadits, dan tidak mungkin penciptanya tidak bersifat dengannya, karena alasan yang telah Anda ketahui, yaitu wajibnya wahdaniyyah bagi Allah Ta'ala, dan kesendiriannya dalam menciptakan.

وَإِحْدَاثُهُ تَعَالَى لَهَا فَرْعُ اتَّصَافِهِ بِأَمْثَالِهَا قَبْلَهَا، ثُمَّ يَنْقُلُ الْكَلَامُ إِلَى تِلْكَ الْأَمْثَالِ وَيَجِيءُ مَا قَدْ سبق.

Penciptaan Allah Ta'ala pada sifat tersebut merupakan cabang kebersifatan Allah dengan sifat- sifat lain yang semisal dengannya sebelum sifat-sifat itu, dan akan terjadi tasalsu/sebagaimana tadi.

فَبَانَ لَكَ بِهَذَا أَنَّ الْبُرْهَانَ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ فِي أَصْلِ الْعَقِيدَةِ يُؤْخَذُ مِنْهُ ثَلَاثَةُ أُمُورٍ: وُجُودُ هَذِهِ الصَّفَاتِ، وَوُجُوبُ الْقِدَمِ وَالْبَقَاءِ لَهَا، وَوُجُوْبُ عُمُوْمِ التَّعَلُّقِ لِلْمُتَعَلَّقِ مِنْهَا.

Dengan ini maka jelas bagi Anda, sungguh ada tiga hal yang disimpulkan dari burhan yang aku sebutkan dalam Kitab Asal al- 'Aqidah, yaitu: wujudnya sifat qudrah, iradah, 'ilmu, dan hayat ini; wajibnya qidam dan baqa baginya; dan wajibnya kemenyeluruhan ta'alluqnya pada muta'allignya.

 وَقَدْ أَشَارَ فِي أَصْلِ الْعَقِيدَةِ إِلَى أَنَّ الْبُرْهَانَ الَّذِي ذَكَرَهُ هُوَ لِهَذِهِ الْمَطَالِبِ الثَّلَاثَةِ.

Penulis telah memberi isyarat dalam Kitab Asal al-'Aqidah, bahwa burhan yang disebutkannya adalah untuk menghasilkan kesimpulan ini.

 أَمَّا الْوُجُودُ وَالْوُجُوبُ، فَأَشَارَ إِلَيْهِمَا بِقَوْلِهِ : وُجُوْبُ اتَّصَافِهِ تَعَالَى بِالْقُدْرَةِ وَالْإِرَادَةِ، إِذِ الْوُجُوبُ لِهَذِهِ الصَّفَاتِ يَسْتَلْزِمُ وُجُوْدَهَا. 

Adapun wujud dan wajibnya sifat- sifat tersebut, penulis memberi isyarat dengan ucapannya: "Wajibnya Allah bersifat qudrah, iradah", sebab wajibnya sifat-sifat ini memastikan wujudnya.

وَأَشَارَ إِلَى الْمَطْلَبِ الثَّالِثِ وَهُوَ عُمُوْمُ التَّعَلُّقِ لِلْمُتَعَلِّقِ مِنْهَا بِالْأَلِفِ وَاللَّامِ الَّتِي أَدْخَلَهَا عَلَى صِفَةِ الْقُدْرَةِ وَمَا بَعْدُ مِنَ الصَّفَاتِ، فَإِنَّهَا لِلْعَهْدِ، وَالْمَعْهُودُ بِهِ الصَّفَاتُ الَّتِي فُسِّرَ - تَعَلَّقُهَا فِيمَا سَبَقَ، وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ.

Penulis memberi isyarat pada kesimpulan ketiga, yaitu kemenyeluruhan ta'alluqnya pada muta'alliqnya dengan yang dimasukkannya pada sifat qudrah dan sifat-sifat setelahnya. Sebab tersebut berfungsi menentukan, dan yang ditentukannya adalah sifat- sifat yang ta'alluqnya telah dijelaskan pada keterangan yang telah lewat. Wa billahi taufiq.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terjemah kitab matan taqrib pembahasan tentang hukum-hukum shalat

كِتَابُ الصَّلَاةِ  Pembahasan shalat  Shalat-shalat yang diwajibkan  الصَّلَاةُ الْمَفْرُوْضَةُ خَمْسٌ: Shalat yang diwajibkan itu ada 5.yaitu:  (۱) الظَّهْرُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهَا زَوَالُ الشَّمْسِ، وَآخِرُهُ إِذَا صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ بَعْدَ ظِلَّ الزَّوَال.  1. Zhuhur,  waktu salat zhuhur mulai setelah lewat rembang matahari (setelah matahari tergelincir ke arah barat). Dan akhir waktunya adalah ketika bayang- bayang sebuah benda telah sama panjangnya dengan benda itu, sesudah matahari lewat rembang. (۲) وَالْعَصْرُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهَا الزَّيَادَةُ عَلَى ظِلَّ الْمِثْلِ، وَآخِرُهُ في الاخْتِيَارِ إِلَى ظِلَّ الْمِثْلَيْنِ وَفِي الْجَوَازِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ  2. Ashar,  waktu salat ashar dimulai setelah bayang-bayang sebuah benda yang sama dengan benda aslinya tadi bertambah panjang. Dan akhir waktunya menurut waktu Ikhtiar (waktu yang menjadi pilihan untuk menger- jakan salat sebelum masuk pada bagian waktu berikutnya) adalah...

Terjemah kitab mutammimah tentang bab kalam

               بَابُ الكلام          Bab Kalam     الكلامُ هُوَ  اللفظ المُرَكَّبُ الْمُفِيدُ بالوضع kalam adalah satu lafazd yang murakkab yang memberi faedah dengan waza'(sengaja)/bahasa arab Keterangan : • Lafadz adalah suara yang mengandung sebagian huruf Hijaiyah (huruf huruf Arab yang diawali dari alif sampai ya'). Contoh: زَيْدُ dan قَائِمُ  • Murokkab adalah lafadz yang tersusun dari dua kalimat atau lebih dengan susunan isnadi (penisbatan atau penyandaran hukum yang menjadikan kesempurnaan faidah). Contoh: زَيْدُ قَائِمٌ )Zaid orang yang berdiri( أنا قائم )Saya orang yang berdiri • Mufid adalah ungkapan berfaidah yang dapat memberikan pemahaman sehingga tidak membutuhkan pertanyaan dari orang yang mendengarkan. Contoh: زَيْدُ قَائِمٌ )Zaid orang yang berdiri( • Wad'i menurut sebagian ulama' nahwu adalah berbahasa Arab, dan menurut ulama' yang lain wad'i adalah disengaja oleh orang yang men...

Terjemah kitab matammimah tentang isem alam

    _________________________________________ Note:⚠️ Bila antum menemukan kesalahan dalam penulisan maka sangat diharapkan untuk mengomentari nya, Syukran kasiran ____________________________________________   فَصْلٌ فِي بَيَانِ الإِسْمِ الْعَلَمِ Fasal Tentang Isim Alam الْعَلَمُ نَوْعَانِ: شَخْصِيٌّ وَهُوَ مَا وُضِعَ لِشَيْءٍ بِعَيْنِهِ لَا يَتَنَاوَلُ غَيْرُهُ كَزَيْدٍ وَفَاطِمَةَ وَمَكَّةَ وَشَدْقَمٍ وَقَرَنٍ. Isim alam ada dua. Yaitu: 1. Alam syakhs, ialah alam yang diletakkan (dicetak) untuk sesuatu yang sudah nyata (individu) dan tidak mencakup yang lainnya.  Contoh: زَيْدٍ - فَاطِمَةَ - مَكَّةَ - شَدْقَم - قَرَنٍ  وَجِنْسِيٌّ وَهُوَ مَا وُضِعَ لِجِنْسِ مِنَ الْأَجْنَاسِ كَأَسَامَةَ لِلْأَشَدِ وَثُعَالَةَ لِلتَّعْلَبِ وَذُؤَالَةَ لِلذِّئْبِ وَأُمُّ عِرْيَطٍ لِلْعَقْرَبِ. 2. Alam jinis, ialah alam yang diletakkan (dicetak) untuk beberapa jinis.  Contoh: أسامة untuk nama harimau, تُعَالَةَ untuk nama musang, ذُؤَالَةَ untuk srigala, dan أُمُّ عِرْبَط...